Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya

Antara Indah,,adiknya. Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya – Kujilati memeknya,,kuremas tetek kanannnya,,kemudian aku meminta Indah berdiri dan menungging,,lalu kusodok memeknya dari belakang sambil mengelus perutnya yang putih mulus. Ketika sedang merasakan tubuh Indah,,aku menyaksikan Inem penolong Indah yang berusia selama 20 tahunan sedang menyimak kami dari sudut jendela kamar yang menghadap Taman. Aku berlagak acuh laksana tak memperhatikannya. Inem juga nampak asyik meremas payudaranya dengan tangan kanan,,dan membelai elus roknya dengan tangan kirinya seraya merem melek.

“Aku terbit sayang,,ujar Indah”.

Saat tersebut Indah terkulai lemas dan duduk bersila dihadapanku. Karena menyaksikan batang kontolku yang masih mengacung. Indah juga hanya dapat mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya seraya berkata,,“sabar ya sayang,,aku bakal keluarin punya anda kok”!

RedmiQQ – Sambil tersenyum,,aku menggesek gesekkan kontolku di kepala Indah,,kemudian memasukkan kontolku di mulutnya. Indah lantas mengelus elus bulu disekitar perutku. Hampir 5 menit Indah menjilati,,menghisap,,sampai meludahi kontolku,,namun aku belum menerbitkan sperma.

Akhirnya Indah bertanya,,“kamu maunya apa sayang,,,supaya kamu pun keluar”?

Hmmm,,boleh nggak aku masukin pantat anda sayang”,,sahutku!

“Tapi kan sakit sayang”,,balas Indah.

Aku langsung memintanya nungging dan berkata,,“iya deh,,aku pelan pelan ya masukinnya”.

“Aduhhhhhhh”,,teriak Indah!

“sabar sayang,,kamu kan inginkan aku keluar,,sahutku!

Akupun terus menyodokkan kontolku sampai amblas di pantat Indah,,dan nampaknya Indah menangis,,namun aku tetap menerbitkan dan memasukkan kontolku secara perlahan lahan seraya meraba raba pinggangnya yang sexy,,hingga kesudahannya kontolku amblas di pantatnya.

“Wow,,rasanya spektakuler sayang”,,ujarku bersemangat!

Tak hingga 7 menit,,aku juga rasanya hendak mengeluarkan sperma sebab jepitan pantat estetis itu. Lalu kucabut kontolku dari pantat Indah dengan cepat,,dan menyemprotkan spermaku di teteknya. Indah memukul dadaku dengan tangan kanannya,,kemudian menciumku dan menyampaikan terima kasih. Akhirnya kami mandi bersama,,dan setelah tersebut aku berkemas pulang,,karena sebentar lagi keluarganya akan kembali dari Puncak. Ketika Indah ke dapur guna mengambilkanku sekaleng bir,,tiba mendarat aku menyaksikan Inem yang sedang mencolokkan jarinya ke memeknya. Dengan acuh,,aku terbit dari kamar dan bergegas balik sesudah menenggak sekaleng bir pemberian Indah.

Halo sayang,,kamu ke rumahku aja duluan ya. Mama, Papa,,dan Kakak lagi ke Bandung liat Nenek yang sakit. Aku terdapat praktikum,,dan nanti jam 5 senja aku dah kembali kok,,kasian Evi (Adik Indah yang masih ruang belajar 1 SMA) ketakutan bila sendirian dirumah,,sahut Indah lewat handphonenya. Iya Sahutku. Siang tersebut aku memang bermaksud menggarap paper di rumahku, tetapi berhubung Indah sudah berpesan,,akhirnya aku segera berangkat ke lokasi tinggal Indah. Bukan apa apa,,biasanya andai keinginannya tidak dipenuhi,,maka Indah tidak jarang ngambek dan tidak memberiku jatah biologis.

Sesampainya di lokasi tinggal Indah,,aku disambut Evi dengan manja. Setelah santap siang,,kamipun memutar DVD. Sampai pertengahan film ada adegan hot yang membuatku tidak enak hati menontonnya bareng Evi.

“Matiin aja ya Vi”,,ujarku.

“Biarin aja kak” hanya sebentar kok,,sahut Evi.

Hampir 10 menit,,adegan hot tersebut berulang ulang sejumlah kali,,hingga kesudahannya kumatikan. Evi juga ngambek,,dan lari ke kamar tidurnya diatas,,lalu kudengar ia mengunci pintu.

30 menit aku terdiam sendirian menyimak makalahku. Tiba mendarat Inem datang membawakanku segelas es teh manis. Inem memang seorang pembantu,,namun mukanya serupa Dian Sas (walau Inem tidak banyak lebih hitam,,namun panta dan teteknya lebih banyak milik Inem),,apalagi hari tersebut ia mengirimkan minuman dengan rambut kuncir kudanya dan kaos putih ketatnya yang menyembulkan teteknya yang besar. Inem juga kembali ke dapur setelah mengirimkan minuman untukku. Dari belakang kuperhatikan garis celana dalam Inem yang nampak di rok yang dikenakannya. Jalannya juga menggodaku! Aku jadi terkenang peristiwa masa-masa itu,,saat Inem menyimak aku dan estetis yang sedang bercinta.

Kulihat jam,,waktu telah mengindikasikan jam 2.30 Wib. Otakku benar benar sudah diisi nafsu saat melihat DVD tadi,,ditambah memandangi Inem yang sexy. Akupun segera ke belakang guna pura pura ke kamar mandi. Sengaja aku tidak mengobarkan lampu kamar mandi dan membuka pintunya. Dari kaca kamar mandi kuperhatikan Inem menculik curi pandang ke arah pantatku yang tersingkap sedikit. Sambil memainkan kontolku yang baru kucuci,,kemudian aku terbit kamar mandi tanpa memblokir celana,,lalu ku arahkan ke pandangan Inem.

Kemudian aku berlangsung kearah Inem,,kemudian menempatkan tangannya ke kontolku,,sambil berkata: “kamu inginkan Nem,,ayo isep deh”.

“Takut ah den”,,kata Inem.

“Nggak apa apa Nem,,ayo dimasukin mulut kamu”,,sahutku menggoda!

Inem juga menjilati dan menghisap kontolku.

“Ahhhh,,kamu hebat banget jilatnya Nem”,,ujar saya.

Inem memang hebat memainkan lidahnya dipinggiran kepala kontolku. Lebih nikmat dari yang dilaksanakan Indah.

“Den,,ini Inem kok nggak dipegang, sahutnya sambil mengindikasikan memeknya.

Inem juga memberanikan diri untuk mohon dijilati laksana mbak Indah masa-masa itu. Hmmm,,memek Inem harum sekali. Ketika asyik menjilati memek Inem dan meremasi teteknya,,tiba mendarat Evi dating dan mengagetkan kami. Inem nangis dibawah kaki Evi,,dan saya juga hanya dapat terdiam membisu.

“Kakak munafik,,nonton nggak mau,,tapi Inem digituin”,,ujar Evi lantang.

“Pokoknya Evi aduin sama mbak Indah”,,sahutnya lagi.

Akupun unik tangan Evi,,dan memohonnya guna tidak mengadukan pada Indah. Ketika memegang tangannya,,tiba mendarat Evi meremas kontolku yang masih tersingkap tak terbalut sehelai benangpun,,dan lantas Ei berkata,,“ya sudah,,kalau nggak inginkan dilaporin,,ajak Evi juga”.

Aku kaget pun mendengarnya. Evi beranjak ke ruang tamu sambil unik tanganku,,mengunci pintu,,kemudian membuka celana pendek dan celana dalamnya berwarna putih bergambar hello kitty.

“Inemmmmmmmm,”,,teriak Evi memanggil Inem.

Ayo,,pokoknya kakak dan Inem mesti menjilati ini Evi juga,,ujarnya seraya menunjuk memeknya.

Sambil mengangkang. Evi menenggelamkan kepala saya dan Inem di memeknya yang mini dan berjembut tebal laksana hutan rimba.

“Ahhhh,,enak kak,,enak kak ahhhh”,,ujar Evi mendesah desah.

Kemudian ia menjambak Inem,,dan mengajak Inem turut menjilati teteknya yang masih terbungkus kaos. Inem juga menjilatinya dengan ganas sambil menunjukkan pantatnya ke arahku untuk mohon dipegang juga. Aku juga meremas remas pantat inem yang sexy itu.

Waktu telah mengindikasikan jam 4.15 WIB,,dan aku mengumumkan Evi,,kalau mbak Indah akan kembali jam 5 senja ini. Akhirnya, Evi menendang badanku sampai jatuh di karpet,,dan menampar Inem sampai pipinya merah.

Kemudian Evi berkata,,“pokoknya kelak pagi kakak mesti bolos kuliah dan jemput Evi di depan sekolah. Besok anda ke puncak berdua ya. Awas bila bohong, Evi laporin ke mbak Indah”,,ujarnya dengan marah seraya mengacung acungkan jarinya.

Entah apa yang dikerjakannya terhadap Inem, tetapi ia unik tangan Inem dan menyeretnya kekamarnya diatas.

Tepat jam 5 Indah datang. Setelah menciumku. Indah pun selesai kekamarnya guna mandi. 30 menit kemudian, Indah terbit memakai daster dan menanyakan Evi dan Inem. Kemudian kukatakan mereka diatas semenjak aku datang tadi. Tanpa basa basi. Indah menarikku ke kamar. Sesampainya dikamar,,ia mengusung unsur bawah dasternya,,memelukku dari depan, dan menempatkan tanganku di pantatnya seraya membisikkan: “aku inginkan dong dijilatin pantatku”. Aku menjilati tubuh estetis mulai dari pantat sampai basah. 30 menit aku bergumul dengan Indah,,dan lagi lagi kulihat Inem di sudut jendela kamar yang sedang meneliti kami. Saat tersebut Indah memintaku guna kembali memasukkan kontolku ke pantatnya,,namun betapa kagetnya aku ketika berganti posisi menungging menyodok pantat Indah,,kulihat Evi yang sedang menjilati pantat Inem diluar sana. Akupun semakin terangsang,,hingga 1 jam berlalu,,dan kami pun berlalu dengan permainan ini. Setelah mandi,,aku pamit kembali dengan dalil nanti Evi bangun.

Pagi ini aku tidak dapat memakai mobil,,karena adikku meminjam guna acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut,,mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana barangkali ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati. Evi tentu melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan lokasi tinggal untuk melakukan pembelian rokok. Aku terdiam sambil mengisap rokok di depan warung. Tak berapa lama. Randy sahabat adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya,,dan menanyakan adikku. Aku menuliskan ia sudah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak,,aku titip motor di lokasi tinggal boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya bila motor ditinggal di sekolah nggak terdapat yang jaga,,hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”,,sahut Randy kalem.

Mendengar itu,,akupun mendapat gagasan cemerlang. Namun,,apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah,,kayaknya gagasan ini butuh dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri guna meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak,,pake aja motorku,,aku ambilnya kelak siang aja ya”,,sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone,,akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”,,sahut Evi.

Akupun menyatakan semuanya,,dan Evi memahaminya. Namun Evi mohon dibelikan jaket terlebih dahulu,,hingga kesudahannya kami mengemudikan motor kea rah Plaza Senayan. Jam mengindikasikan pukul 8.30 WIB,,dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi juga menelpon mamanya untuk mengumumkan ia akan kembali malam untuk menggarap tugas sekolah di lokasi tinggal Sheila kawannya. Setelah tersebut kami membual layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi membelai elus kontolku. Tak terasa,,jam sudah mengindikasikan jam 10.00 WIB,,akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak,,yang ini aja ya. Harganya pun nggak terlampau mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak,,liat sini dong”,,teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti,,lalu memaksaku meremas teteknya,,dan tangan kanannya meremas kontolku yang sudah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku laksana orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku,,kupingku terus hingga ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya,,namun aku menikmatinya.

“maaf,,disini dilarang mengerjakan hal asusila”,,ujar SPG seraya menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk menunaikan diiringi dengan senyuman mesem semua SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak,,mau ganti celana jeans dan gunakan jaket. Oh ya,,celana dalam kakak dilepas dong”,,bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku mencungkil celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing,,pikirku. Akupun ke toilet untuk mencungkil celana dalamku,,kemudian bergegas terbit menunggu Evi. 10 menit lantas Evi terbit dari toilet. Aku terpana menyaksikan penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini tidak dipedulikan menyembul tanpa BH dan menunjukkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berlangsung ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.

Ketika mengarungi jalur parung yang sepi. Evi mulai membelai usap kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku,,menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya,,kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak,,keluarin dong yang kesatu diatas motor guna Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm,,ayo dong kakkk,”,,ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi fokus antara merasakan kocokan lembut Evi dan mengemudikan motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang,,keluarin guna Evi”,,sahutnya lagi mendesah berulangkali laksana orang yang kesurupan.

“Ahhh,,,enak sayangg”,,sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar sampai tumpah mengairi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di ambang jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor,,tanpa malu dan fobia takut, ia juga memintaku langsung turun dari motor lantas menarik tanganku kebelakang pohon besar di ambang jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok,,dan menghisap kontolku yang basah. Walau melulu 2 menit,,sensani yang diciptakan Evi membuat kesenangan yang terkira untukku. Aku menghirup keningnya sebagai perkataan terima kasih, kemudian beranjak kemotor seraya melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku hendak membuangnya. Evi unik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah,,gila bener anak ini pikirku,,namun aku senang sekali.

Pukul 15.00 WIB kami mendarat di vila family Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi,,menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila agar tidak mengumumkan kedatangan kami,,akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam. Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi,,kamipun beristirahat di kamar Evi sampai tertidur sekitar 1 jam.

“ahhhh,,ahhh,,mmmmm”,,kudengar suara tersebut samar samar.

Dan aku menikmati geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati seraya mengocoki kontolku. Yang lebih hebat. Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya dapat terdiam dan merasakan ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku seraya menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah terbit 2 kali nih. Evi masih inginkan terus kak”,,ujar Evi seraya menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya,,dan mendorong tubuh Evi sampai berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang,,hingga lantas kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh,,sakit kakak”,,jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak,,masukin aja burungnya kakak disini”,,sambil menunjuk memeknya yang mini itu.

“Hah,,jadi anda belum pernah ya Vi”,,tanyaku kaget.

“Udah deh kak,,ayo dong”,,,sahut Evi manja seraya menjilati tetekku.

Aku pun menghirup Evi dengan lembut mulai dari mata,,,hidung,,,telinga,,,hingga kami berciuman dengan hebatnya seraya tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak,,masukin Evi dong. Evi udah nggak powerful nih”,,rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot sampai membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya,,hingga kesudahannya memeknya yang masih mini tersebut kujilati.

“Ayo kak,,masukin dong”,,sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun menunjukkan kontolku kemukanya,,lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak,,sakittttt….”,,Jerit Evi!

“Sabar sayang,,kakak masukinnya pelan pelan ya”,,sahutku seraya memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang paling sempit itu. Ah,,sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih,,mukanyanya yang imut,,rambutnya yang panjang dan lurus terurai,,bibirnya yang berwarna pink,,tetek mungilnya yang mancung,,kakinya yang jenjang,,gayanya yang manja,,nafsunya yang membara….dan kini aku menemukan keperawanannya pula. Ahhhhh.. Evi,,aku sayang anda dik.

“Aaaakkkkhhhhh……”,,teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh,..”,,teriakku kenikmatan.

Kontolku sudah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi saat kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”,,kataku lembut seraya terus mengeluar masukkan kontolku sampai amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang”,,ujar Evi terbata bata seraya menetekan airmata.

“Iya sayang”,,sahutku seraya terus mendulang kesenangan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku telah mau terbit kak,,sedikit lebih cepat dong kak”,,ujar Evi memohon.

Evi pun unik tangannku,,menjambak rambutku,,menciumiku membabi buta,,lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak,,enaaakkkkk,,jangan ditarik keluar dulu sayang”,,sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku,,mendorongnya,,menariknya sampai membuat Evi unik selimut di lokasi tidur. Evi terkulai lemas,,kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung,,karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku,,lalu unik tanganku dan menyampaikan terima kasih seraya berbisik: “sabar sebentar ya kak. Evi masih capek”,,katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran,,kenapa aku belum terbit di lobang perawan senikmat ini? Mungkin sebab aku telah terbit kesatu kali ketika diatas motor tadi,,dan seringkali keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang ketika memandangi darah yang tertumpah di sprei lokasi tidur. Evi berdiri menghampiriku,,mengusung kaki kanannya ke sisi lokasi tidur,,menarik kontolku yang masih mengacung,,dan pulang memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak,,masukin lagi”,,kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berhimpitan dengan lokasi tidur,,namun tak kulepaskan kontolku yang sudah menancap separuh di memeknya.

Kudorong Evi,,kuciumi bibirnya,,kumasukkan kontolku sepenuhnya,,mengeluarkannya setengah,,memasukkannya kembali,,memutarnya,,hingga kesudahannya kupacu dengan cepat sampai membuat Evi mendesah desah kesenangan sepertiku.

“kak,,ayo terus kak,,enak,,enak ahhhhh,,kakak hebatttt,,ahhhhh”,,ujar Evi separuh berteriak.

Aku terus memacu kontolku terbit masuk sampai merasakan memeknya Evi yang sudah basah sekali. Kuremas teteknya,,kucupang lehernya kiri dan kanan,,kujambak rambutnya kemudian kucium,,bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut sampai membuat Evi menjerit.

“ahhhhh……Evi,,,aku mau terbit sayang”,,sahutku lantang.

Walaupun dalam kesenangan yang luar biasa,,aku masih ingat bahayanya andai kumuntahkan maniku didalam,,hingga kesudahannya kucabut kontolku,,kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku,,dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi,,dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang pun masih perawan. Evi menjerit kesakitan hingga menangis dan berjuang meronta ronta,,namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku sampai masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk,,sakitttttt”,,teriak Evi seraya menangis!

Namun aku tetap memasukkannya,,mengeluarkannya dan sesekali meremas layak Evi yang montok. Tak hingga 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi,,hingga terbit membasahi pantatnya. Setelah kucabut,,aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi juga menurutinya seraya melirikku dengan mata nakalnya. Setelah mencuci kontolku dengan mulutnya yang imut itu. Evi balas menggigit perutku sampai terluka sedikit.

“biar tau rasa”,sahut Evi seraya berdiri dan menciumiku.

Wah,,untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa mencuci badan terlebih dahulu.

Tiba mendarat aku terbangun dan langsung menyaksikan jam yang telah mengindikasikan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangkitkan Evi. Herannya. Evi bukan bergegas mandi,,namun malah meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di lokasi tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya,,bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus mengerjakan aksinya,,hingga kesudahannya air maniku terbit sedikit mengairi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya,,kemudian mengajakku mandi.

Ketika menyabuni tubuhnya, Evi juga kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya,,namun ia segera duduk di toilet,,membuka memeknya,,dan memintaku menjilatinya dari ujung ibu jari kakinya.

Mengingat seluruh yang telah diserahkan kepadaku,,akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika hendak beranjak menjilati betisnya. Evi memintaku guna kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak,,sekarang jilat betis hingga ini Evi ya”,,sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha sampai memeknya sampai menciptakan Evi kembali merasakan puncak kenikmatan. Setelah tersebut ia pulang meraih kontolku,,menjilati,,mengocok,,dan melumatnya sampai 5 menitan. Sekali lagi aku keluar,,dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga kesudahannya kami berpakaian kembali sesudah mandi,,dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei lokasi tidurnya kedalam tasku. Bagi kenang kenangan,,katanya.

Tak terasa,,waktu telah mengindikasikan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali,,dan merasa tak mampu untuk kembali ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya mencarter mobil angkot guna mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot,,kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau,,namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang,,mang Danu mengajakku berkata serius tentang kedatangan neng Fani tadi sore saat kami tertidur.

Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu ialah kakak dari Indah pacarku dan Evi.

Neng Fani tidak inginkan mengganggu kalian,,karena neng Fani pun datang dengan cowok gelapnya. Fani ialah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun,,dan sudah menikah. Namun Fani tidak jarang berselingkuh dengan brondong,,karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun. Fani mempunyai tubuh yang paling sempurna. Teteknya yang 36C,,pantatnya yang montok,,tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik,,bibirnya yang tebal,,bicaranya yang rada cadel,,rambutnya yang hitam lurus terurai,,matanya yang tajam hingga kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya tersebut memang tidak jarang membuatku menculik curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah tidak boleh takut dimarahin. Mamang pun sering menyaksikan neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok”,,ujar mang Danu.

Wah,,penjelasan mang Danu itu membuatku tenang dan terangsang pun untuk menyantap mbak Fani. Setelah selesai menyatakan semuanya,,akhirnya aku menyerahkan uang damai untuk mang danu guna informasinya,,lalu kami membawa melon ke angkot dan segera kembali ke Jakarta. Selama dalam perjalanan. Evi bercerita tentang kebiasaannya menculik blue film kepunyaan mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari seluruh yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.

Pukul 00.30 WIB kami hingga di lokasi tinggal Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, sebab orang lokasi tinggal mengira Evi dari lokasi tinggal temannya guna belajar. Setelah Evi pulang,,kamipun selesai ke rumahku.

“Aku sedang inginnnya” DEWA 19 mengalun dari MP.3 9500 memperlihatkan Indah yang menelponku.

“ya sayang” sahutku

“Aku nggak biasa ketemuan hari ini,,lagi jalan nyari kitab sama Sheila. Jangan badung nakal ya say,,blab la bla…. Dan diselesaikan dengan muacchhhh”,,sahut Indah mesra lewat 9300 nya

“Iya,,aku pun ke bandara nganter bibi yang mau kembali ke Jogja. Aku naik taksi,,soalnya capek sekali nih. Besok siang aku jemput di kampus ya. Byee..”,,sahutku seraya mematikan handphone.

Setelah menantikan 2 jam,,pukul 13.00 WIB kesudahannya bibi boarding dan aku take off dengan taxi lagi. Aku terbit tol Kelapa Gading,,dan bermaksud santap di sekitaran Kelapa Gading. Namun sayang,,jalanan macet sekali,,hingga kesudahannya kubatalkan saja dan meminta taxi langsung meluncur ke bilangan unsur selatan Jakarta. Melihat situasi tol yang pun macet,,akhirnya aku meminta supir taxi lewat non tol saja. Diperempatan ex Coca cola kulihat 300 E merah kepunyaan Indah melintas. Dibalik kaca beningnya,,kulihat 3 orang didalam mobil. Rambut panjang Indah yang khas serta menunjukkan gaya menyupirnya yang laksana orang bingung,,dan disampingnya terdapat Sheila kawannya yang khas dengan rambut cepaknya. Satunya lagi tentu pacar Sheila,,si Andi yang khas dengan gundul gothicnya itu. Aku meminta supir taxi mengejarnya,,namun lampu lalulintas sudah merah. Untung lampu hijau,,hingga aku meminta supir taxi mengejarnya. Lumayan bila diantar Indah pikirku,,karena biaya taxi sudah mengindikasikan angka Rp. 100.000. Kami pun berjuang mengikuti mobil Indah yang berbelok ke bilangan Pulo Mas. Kira kira 100 meter dari jalan raya,,aku menyaksikan mobil Indah belok kekanan dan masuk ke sebuah wilayah. Kamipun mengejarnya,,dan hingga di depan wilayah tersebut aku menyimak sebuah papan bertuliskan “HOTEL”. Mau ngapain nih si Indah. Beli kitab kok di hotel? Pikirku kebingungan. Akupun meminta supir taxi menjauhi mobilnya,,hingga dari kejauhan kulihat mobil itu masuk ke sebuah garasi,,lalu garasi itu langsung ditutup. Aku menghirup gelagat tidak cukup beres,,hingga kesudahannya aku meminta supir taxi menantikan 10 menit,,hingga kesudahannya aku menunaikan taxi dan turun mendekat kamar tersebut.

“Maaf mas,,mau kemana?”,tanya seorang room boy padaku.

“Oh,,saya telah janjian sama sahabat saya yang didalam sini pak”,,sahutku kalem.

“Silahkan mas”,,jawabnya kalem juga.

Aku masuk perlahan lahan melewati pintu kecil yang tidak berisik laksana roling door disampingnya yang berisik andai dibuka. Kemudian aku membuka pintu kamar,,dan menyaksikan Indah sedang membelai usap kepala Andi gundul yang sedang menjilati memek Indah. Sheila juga sedang asik menjilati tetek kanan Indah seraya tangan kirinya berjuang mengocokkan kontol Andi gundul.

Mereka bertiga kaget,,dan satu persatu langsung duduk di sisi lokasi tidur. Aku menyerahkan bogem mentah tepat di mata kanan Andi,,kemudian menampar Sheila dan Indah.

“Kamu kok gitu sih N’dah”,,kataku dengan suara tidak banyak keras.

“Maaf ya sayanggg….”,,jawab Indah memelas dan berjuang memelukku.

“”Kita main berempat aja. Elu silahkan deh make Sheila”,,kata Andi bersemangat.

Tanpa basa basi,,sekali lagi aku menendang Andi tepat di kepalanya sampai ia terjatuh ke lantai. Ketika berjuang melawan,,sekali lagi kutendang kepalanya. Andi terkapar di lantai, dan akupun bergegas terbit dan menendang mobil Indah sampai penyok.

Aku berlari menggali taxi kedepan,,dan sesudah dapat taxi akupun melaju ke unsur selatan Jakarta. Inikah karma,,karena berselingku dengan Evi adiknya,,pikirku bingung? Aku melulu terdiam sampai satu jam,,hingga lantas sampai di rumah. Setelah menenggak segelas Chivas kepunyaan ayah, ,mulai pukul 17.00 WIB hingga 20.00 WIB aku tertidur pulas di kamar. Sekitar pukul 21.00 WIB aku merasakan elusan | belaian | belaian lembut dibagian kontolku. Aku tidak banyak terbangun,,dan menyaksikan Indah sedang berjuang membuka retsletingku. Aku menampiknya dan berdiri. Akupun marah marah terhadapnya dengan sekian banyak makian,,dan Indah hanya dapat tersedu sedu menangis seraya terus meminta maaf dan berjanji tidak bakal mengulanginya lagi.

Hampir satu jam kami ribut,,dan mendarat tiba mamaku masuk menanyakan masalah kami.

“Semuanya baik baik saja kok mah”,,sahutku

“Ya sudah,,,nanti ke bawah ambil platinum card mama,,kalian jalan jalan ya”,,sahut Mama

Akupun merasa tidak enak bentrok dirumah,,hingga kesudahannya aku pergi terbit dengan Indah.

Setelah berputar putar sampai akhirnya hingga ke wilayah menteng,,kamipun tetap tidak mengejar titik temu,,akupun memarkirkan mobil. Tiba mendarat Indah bertanya : “Untuk nebus tindakan aku. Kamu inginkan apa? Aku tetap diam hingga 10 menitan. Ketika melamun,,tiba mendarat aku terbayang bayang guna berselingkuh dengan mbak Fani. Otakku mulai badung dan berbicara dalam hati: “Ah,,alangkah nikmatnya bila dapat meremas tetek mbak Fani yang 36C,,kontolku dihisap dan diapit bibirnya yang sexy,,menggoyang pantatnya yang sexy,,,,Ketika aku takjub membayangkan keseksian mbak Fani,,tiba mendarat sekali lagi Indah bertanya sekali lagi: “biar impas,,kamu inginkan selingkuh dengan siapa. Aku rela kok?

Tanpa dikomando,,akupun langsung mengucapkan: “mbak Fani”!

Nampak nampak wajah kaget di muka Indah. Kamipun berdebat,,hingga kesudahannya Indah terdiam, kemudian mengatakan: “Ya sudahlah,,nanti aku usahain. Tapi kamu tidak boleh tinggalin aku ya sayang”,sahut Indah manja seraya memelukku. Aku rada heran pun dengan anak ini dan keluarganya,,namun kunikmati sajalah,,bahkan ketika ini ia telah mulai menjilati kontolku diatas mobil. Setelah maniku inginkan keluar sebab dijilati Indah,,aku unik mukanya dan menyemprotkjan maniku di bajunya sampai belepotan. Herannya. Indah melulu mesem mesem sambil memungut tissue guna memgelap baju.

Pukul 23.00 WIB aku mengantar Indah hingga di gerbang,,sambil berpesan: “Pokoknya,,kalau perjanjian anda belum terlaksana,,aku nggak inginkan ketemu”. Setelah Indah masuk, ,aku segera menancap Wranglerku.

Ini telah hari ketiga,,dan Indah belum pun menghubungiku. Pukul 12.00 WIB Indah menghubungiku via telepon rumah.

“Kamu nanti malam jam 8 an datang aja ke lokasi tinggal ketemu mbak Fani tuh. Kami seluruh ke puncak guna refreshing”. Sahut Indah di telepon

“Mbak Faninya marah nggak? Kamu bilang apa? Dan sekian banyak pertanyaan khawatir lain kutanyakan pada Indah

“Aku tuh pernah nangkep basah mbak Fani selingkuh sama si Ivan supir papa,,jadi nggak usah takut. Kayaknya dia pun kesenengan tuh. Nggak usah hot hot ya mainnya”,sahut Indah dengan nada ngambeknya.

“Ya udah. Byeee”,,sahutku.

Waktu mengindikasikan pukul 19.00 WIB. Sekarang waktunya kerumah Indah pikirku. Pukul 19.30 WIB aku hingga lebih dulu di lokasi tinggal Indah. Ternyata si Inem nggak ikut,,malah merupakan yang membukan pintu untukku.

“Loh,,neng Indah kan ke puncak den. Mau gituin saya lagi ya den? Tapi terdapat neng Fani lo den” kata Inem dengan gaya menggodanya.

“Inemmmm,,persilahkan masuk dong bila ada tamu”,,teriak mbak Fani lantang

Akupun masuk,,duduk,,dan baca majalah,,namun aku tidak menyaksikan mbak Fani disitu. 15 menit aku menantikan sambil menyimak majalah,,hingga kesudahannya Inem mengirimkan minum dan berbisik: “dipanggil mbak Fani di perpustakaan sebelah tuh den”.

Akupun menyapa mbak Fani,,dan ia mempersilahkan aku duduk. Saat tersebut ia masih mengenakan pakaian kantor inilah sepatu hak tingginya. Mbak Fani ngobrol seputar mobil denganku, sampai akhirnya memintaku mengambilkan catalog mobil yang terletak di unsur atas lemari perpustakaan mereka.

Saat memungut kursi guna membantuku mengambil kitab itu,,mbak Fani membuka lemari dan memungut sebotol air mineral,,2 buah kapsul berwarna biru dan satu botol kecil.

Ketika aku menaiki kursi dan berjuang meraih kitab tersebut,,mbak Fani menghampiriku dengan membawa 2 buah pil biru dan air mineral tersebut. Mbak Fani memintaku meminum 2 buah pil tersebut. Akupun meminumnya,,,dan aku paham,,kalau itu ialah Viagra. Setelah aku minum,,mbak Fani langsung membuka retseling celanaku ketika aku berdiri diatas kursi. Mukanya serupa di depan kontolku yang mulai mengeras dan mengacung didepan hidungnya. Mbak Fani tidak memegangnya dengan tangan,,tidak mengocoknya,,tidak menjilatinya tetapi langsung menghisap kontolku dalam-dalam sampai pipinya yang cubi tersebut kempot.

“Ahhhhh,,mbak geliiiiiiiiii”,,sahutku kegelian.

Mbak Fani terus saja menghisap,,melepaskannya,,menghisap,,melepaskannya,,hingga kesudahannya ia menjilati biji pelerku dengan rakusnya. Kali ini mbak Fani mengocokkan kontolku dari samping dengan bibirnya yang seksi. Keahliannya mengocokkan kontol dengan bibir butuh diacungi jempol. Mbak Fani membuka celanaku sepenuhnya, dan langsung mendekat pantatku,,menjilatinya,,dan ketika ini tangan kanannya mengocok kontolku dengan lembut dari belakang.

“Mmmmmmm,,,enakkkkkk mbakkkk,,”sahutku hingga gemetaran.

Mbak Fani masih berpakaian menyeluruh dengan sepatu kantornya,,namun sesekali berjuang membuka celana dalamnya,,bahkan sampai melorot melulu sampai di unsur paha. Mbak Fani pulang menghisap kontolku dari depan. Aduh,,baru kali ini terdapat hisapan kontol yang menciptakan tubuhku laksana tersedot seluruh ke mulutnya.

“Ahhhhhh,,mbakkkkkkk,,aku kok keluarnya cepet nih”,sahutku seraya gemetar

“Kalau inginkan keluar,,bilang ya”,sahut mbak Fani mendesah

“Sekarang mbak”,sahutku lagi.

“Tahan yaaaaa,,sampai mbak bilang semprot”,sahutnya terbata bata

Mbak Fani menerbitkan kontolku dari mulutnya,,mengocoknya dengan tangan kirinya dan ia juga naik keatas kursi tempatku berdiri,,menarik roknya keatas dengan tangan kanannya,,mengusung kaki kanannya dan meletakkannya di pinggiran lemari,,kemudian menunjukkan kontolku ke memeknya.

“sempyyyyyyootttttt”,,Kata mbak fani mendesah

Akupun menyemprotkan maniku di memeknya sampai basah. Herannya,,baru kali ini kontolku langsung mengecil ketika keluar. Walaupun sudah mengecil,,mbak Fani tetap menggesek gesekkan kontolku di memeknya.

Mbak Fani memintaku turun,,menggandengku ke sofa, mempersilahkanku duduk sedangkan ia tetap berdiri,,memberikanku minuman,,dan mengelus rambutku laksana anak anak.

Mba Fani memintaku membukakan jasnya,,bajunya dan BH nya,,dan iapun membuka semua pakaianku. Mbak Fani memungut botol kecil tadi,,dan mengoleskan cairan di botol tersebut mulai dari lutut sampai pangkal pahaku.

“Aduh mbak,,sakittttt”,jeritku kesakitan sebab urutan mbak Fani yang keras itu

“Sabar ya sayang. Biar kita dapat sampai pagi”,kata mbak Fani.

Kemudian mbak Fani memintaku beristirahat sejenak dan lantas ia memanggil Inem.

“Inemmmmmmmmmm”,,teriak mbak fani dengan keras.

Inem juga datang mendekat mbak Fani. Aku tidak banyak bingung dengan sandiwara yang bakal dimainkan mbak Fani,,namun aku tetap saja mengangkang seraya terkaget kaget menyaksikan ukuran kontolku yang menjadi lebih banyak dan panjang dari biasanya. Apalagi saat tersebut melihat Inem dengan kaos pinknya yang menunjukkan tetek dibalik BH hitamnya serta rok mini dari bahan kaos serta penampilan mbak Fani yang melulu memakai rok,,sepatu hak tinggi dan tetek 36 C nya yang montok itu. Ahhhh,,nikmatnya hidup ini pikirku.

“Inem,,bersihin memek mbak nih”,,sambil menunjukkan memeknya yang masih separuh tertutup rok kearah bibir Inem.

Inem juga menjilati memek mbak Fani,,sambil mbak Fani mengelus rambut Inem. 5 menit menyimak mereka,,tiba-tiba maniku muncrat dengan keras sampai berbunyi “creeeeeeetttttt”.

Mbak Fani dan Inem tersenyum bersamaan,,sedangkan aku nampak malu-malu. Herannya,,kali ini kontolku tidak menciut,,melainkan tetap laksana tadi.. Sekarang mbak Fani meminta Inem berdiri diatas meja,,membuka rok Inem dan unik jemput Inem tercabut sejumlah helai.

“Aduh mbak,,ojo dicabutin lagi donggggg”,,sahut Inem memelas.

“Diem anda Nem,,nanti nggak mbak ajak lagi lo”,,ancam mbak Fani seraya menjilati memek Inem dengan rakusnya. Tiba mendarat mbak Fani berhenti dan pulang membuka laci kembali. Mbak Fani mengambil sejumlah sex toys koleksinya. Ia memilih kontol kontolan berwarna merah. Tanpa basa basi. Mbak Fani memasukkan benda tersebut ke pantat Inem,,hingga menciptakan Inem meringis.

“Ayo Nem” ujar mbak Fani seraya mengocokkan kontol kontolan tersebut dengan cepat di pantat Inem.

“Ssssshhhhhh….mbak nikmat nikmmmmmmmm,,aaahhhh”,,sahut Inem menanggapi jilatan dan hujaman kontol kontolan mbak Fani.

Adegan mereka berdua membuatku menerbitkan mani sekali lagi. “creeeeettt”,,namun kali ini telah mulai tidak banyak yang keluar. Melihat aku telah terbit dua kali,,mbak fani dan Inem menghampiriku,,lalu menjilati kontolku secara bergantian.

“Ahhhh,,mbak.Nem,,mbak,ennnnnn,,mmmmm,,akkkk”,,ujarku.

“Nem,,bukain rok mbak pake mulut”,kata mbak Fani terbata bata seraya menghisap kontolku.

Aku menyaksikan Inem bersusah payah membukanya dengan mulut,,hingga akhirnya tersingkap juga. Inem langsung menarik keluar kontol kontolan yang ditancapkan mbak Fani di pantatnya,,kemudian Inem juga langsung menancapkan kontol kontolan tersebut di pantat mbak Fani.

“Kurang ajarrrrrr anda Nem”,,kata mbak Fani berteriak.

Namun Inem tetap saja mengeluar masukkan benda tersebut di pantat mbak Fani,,hingga kesudahannya mbak Fani unik tangan Inem kedepan dan mengajak saya menjilati tetek Inem yang masih terbungkus kaos pink dan BH itemnya

“Ayo den,,,jilatnya betah dikit dong”,,mohon Inem dengan nada memelas

Mbak Fani unik badan Inem dan meletakkannya di kontolku. Mbak Fani menolong Inem dengan menaik turunkan tubuh Inem diatas kontolku.

Mbak Fani menunjukkan memeknya kemulutku dan memintaku menjilatinya. Tak hingga 5 menit,,maniku muncrat lagi di memek Inem, lantas Inem unik memeknya dan memintaku menjilati memeknya,,dan kini mbak Fani yang memasukkan kontolku ke memeknya. 5 menit kemudian,,akupun memuncratkan maniku pulang di memek mbak Fani,,hingga lantas mbak Fani turut mohon dijilati memeknya. 2 buah memek terdapat di depan mulutku ketika ini. Mbak Fani dan Inem berebutan guna dijilati,,sambil mereka berdua berciuman dengan mesra diatas kepalaku.

Mbak Fani berbisik dengan Inem,,dan lantas mereka berpelukan,,lalu memasukkan kontolku yang masih tetap tegak berdiri di celah celah tetek mereka yang sedang berpelukan. Sambil berpelukan, mereka menaik turunkan badan mereka yang menjepi kontolku. Sesekali mbak Fani meludahi kontolku. Aku tak dapat menahan sensasi yang baru kualami ini,,hingga kesudahannya maniku munrat kembali. Mbak Fani dan Inem pulang berebutan menjilati kontolku sampai bersih. Kamipun istirahat,,,kemudian mbak Fani membuka kaos dan BH Inem,,lalu menjilati dan menghisap tetek Inem. Hampir 10 menit aku menyimak Inem dan mbak Fani saling menjilat dan menghisap.

“AArrrrrrrrrgggggghhhhh,,,creeeeet”,,aku memuntahkan maniku guna yang kesekian kali sebab melihat ulah mereka. Kali ini mbak Fani meminta Inem menjilati pantatnya,,dan lantas mbak Fani memasukkan kontolku ke memeknya. Mbak Fani memacu tubuhnya naik turun dengan cepat di kontolku. Kali ini dengkulku serasa inginkan copot.

“Mbakkkkk,,,ampppp,,,unnnnnn,,,ssshhhhh ahhhh a”,,sahutku terbata bata.

“ayo sayaaanggg puaskan mbbbaaa,,kkkk,,”sahut mbak Fani terputus putus.

Mbak Fani memacu lebih cepat lagi,,hingga akhirnya berjuang menarik kepalaku,,menjambakku,,menciumiku dengan buas,,dan lantas menghantamkan tubuhnya dengan keras di kontolku.

“Ahhhhhhhhhhhhh”,,sahut mbak Fani seraya memelukku erat erat sampai akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku.

“kamu hebat saying”,,ujar mbak Fani sambil menghirup mata kananku,,lalu ia berbalik mengarah ke kursi dan duduk. Heran,,kenapa kontolku masih saja terus berdiri,,padahal telah berkali kali memuntahkan mani.

“Sekarang jatah anda Nem”,,kata mbak Fani pada Inem

Tanpa basa basi. Inem juga memacu tubuhnya laksana mbak Fani tadi,,namun tak hingga 5 menit Inem sudah terkulai di tubuhku. Mbak Fani berdiri mendekat pantat Inem dan kontolku yang masih menyatu, kemudian menjilatinya. Inem mulai menaik turunkan tubuhnya pulang diatas kontolku. Perlahan lahan Inem menaik turunkan tubuhnya dikontolku,,sambil sesekali memutarnya,,hingga kesudahannya iramanya semakin cepat laksana tadi. Sudah 10 menit aku digoyang Inem,,dan dijilati mbak Fani,,namun mereka belum pun berhenti.

“ayo den,,akhhhhhhhhhhhhhhh….saya wes terbit den”,,ujar Inem seraya berdiri dan menarik keluar memeknya dari kontolku.

Mbak Fani dan Inem menjilati kontolku yang masih tetap mengacung dan besar. Aku benar benar lemas,,namun kontolku enggan mengecil. Mbak Fani dan Inem juga akhirnya memahamiku.

“Aku capek mbakkkk”,,kataku pada mbak Fani.

Kamipun beristirahat sekitar 30 menit,,dan mbak Fani meminta Inem mempersipkan santap malam. Dengan jalan yang malas malasan,,inem pun selesai mempersiapkan makanan. Mbak Fani mengurutku dengan lembut.

“Mbak pijit ya sayang”,,ujar mbak Fani dengan lembut di telingaku seraya menjilati kupingku.

Aku dan mbak Fani tertidur di atas sofa sekitar 1 jam,,dan terbangun ketika Inem sedang melap badan kami dengan handuk hangat. Herannya,,kontolku masih saja mengacung dan keras. Inem mempersilahkan kami makan. Dalam suasana bugil,,kami mengarah ke meja makan. Mbak Fani tersenyum menyimak kontolku yang masih terus mengacung di bawah menja santap kaca kepunyaan mereka. Sesekali mbak Fani yang duduk diseberangku memainkan kakinya di kontolku. Dan yang paling tidak cukup ajar ialah tingkah Inem yang masuk ke kolong meja santap dan menjilati kontolku. Buat apa marah,,justru nikmat sekali kurasakan. Bahkan sesekali mbak Fani memasukkan ibu jari kakinya ke pantat Inem.

Selesai makan,,kami beristirahat dan menyaksikan CNN sekitar 1 jam di ruang keluarga. Mbak Fani menempatkan kepalanya dipangkuanku,,dan Inem masih terus menjilati biji pelerku dan membelai elus pahaku sambil menyaksikan TV. Kali ini,,mbak Fani melulu meminta Inem duduk diam disofa guna masturbasi. Kemudian mbak Fani memintaku terlentang di karpet. Seluruh tubuhku dijilati mbak Fani sampai basah,,bahkan sesekali ia meludahi tubuhku dan menjilatnya kembali. Aku sungguh terpana melihatnya. Wanita secantik dia,,tetek sebesar itu, kulit yang putih laksana ini,,rambutnya yang tidak jarang melambai lamai ketika mengentotiku, bibir sexy, tetapi mau melayaniku dengan spektakuler seperti ini.

“Mbak masukin lagi ya sayang”,,ujar mbak Fani sambil membelai pipiku.

Dengan hati hati, mbak Fani berjongkok diatas kontolku. Ia memasukkan kontolku dengan perlahan ke memeknya. Setelah sejumlah kali naik turun,,mbak Fani mencabutnya, dan pergi ke arah perpustakaan. Aku tetap terbaring di karpet, ,sedangkan Inem masih asyik mendesah desah sendirian seraya memainkan memeknya di sofa.

Mbak Fani kembali membawa benda kecil. Mbak Fani memakaikan ring plastik berduri di kontolku. Mbak Fani pulang jongkok,,kakinya tak menyentuh pinggulku,,dan dengan hati hati ia memaksa kontolku masuk. Mbak Fani menaik turunkan tubuhnya diatas kontolku,,memutar mutar memeknya di tubuhku dengan cepat.

“aaahhhhhh mbakkkk ennnn,,aaaa,,kkkkk”,,sahutku meringis.

Mungkin berikut goyangan madura tersebut pikirku. Selama 20 menit aku telah terbit 3 kali dengan goyangan mbak Fani itu. Akhirnya mbak Fani juga lemas,terkulai dan menciumi bibirku.

“Ma kasih saying. Mbak puas sekali. Kamu hebat”,,kata mbak Fani

“Iya mbak,,aku pun puas. Ma kasi ya mbak”,,sahutku sampai kemudia aku tertidur.

Kami dibangunkan,,dan aku sungguh kaget sebab yang membangunkanku ialah Mamanya Indah,,Evi dan mbak fani. Aku menyaksikan mbak Fani tertidur pulas di depan kontolku,,dan Inem diatas paha mbak Fani. Aku menyaksikan ada yang terganjal di pantatku. Rupanya Inem memasukan kontol kontolan mbak Fani di pantatku. Mama mencabutnya dengan keras,,dan melemparkannya ke Inem. Inem juga kaget,,demikian halnya dengan mbak Fani. Berhubung baju kami terdapat di perpustakaan,,akhirnya kamipun disidang dalam suasana bugil di ruang tamu. Herannya,,kontolku masih saja menacing dan keras. Entah obat apa yang diserahkan mbak Fani padaku.

Setelah menginterogasi kami,,akhirnya terbongkarlah seluruh skandal. Mbk Fani merombak aksiku di puncak dengan Evi. Mbak Fani merombak paksaan Indah terhadapnya,,dan aku merombak kelakuan Indah dengan Andy gundul dan Sheila.

Mama terdiam,,hingga kesudahannya ia memungut handphonenya.

“Indah,,kamu dan Evi kembali ya ke Jakarta. Papa suruh tunggu aja di puncak,,nanti mama yang jemput”,ujar mama di handphone dan lantas menutupnya.

“Mah,,papa ikut anak anak balik ya. Bali baru saja nelpon papa dan mohon rapat mendadak” ujar Papa lewat handphone.

“Iya Pah,,bye”,,sahut mama seraya mematikan speaker phone 9300 nya,,lalu mematikan handphone.

Akhirnya Mama meminta kami mengenakan pakaian. Kamipun segera berhamburan ke perpustakaan di sebelah rumah.

“Aduh mbak,,gimana nih. Kontolku masih tegang dan retsleting celana nggak dapat ditutup” sahutku memelas pada mbak Fani.

Mbak Fani berjuang membetulkan posisi kontolku yang tidak dapat ditutup oleh celana tersebut,,namun tetap saja tak dapat ditutupi oleh celana ataupun kaosku. Mbak Fani pun terbit perpustakaan,,dan tak lama lantas kembali menghampiriku.

“kata mama,,pas papa pulang anda ngumpet aja di kamar Inem. Kamu diajak nunggu,,sampai papa berangkat ke bali. Mama inginkan ngomong sama anda semua. Tenang aja,,papa nggak pernah keruang belakang lokasi kamarnya Inem kok.”,,ujar mbak Fani seraya sesekali mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya.

Tepat pukul 20.00 WIB papa dan seluruh sampai dirumah,,namun semenjak jam 19.00 WIB aku sudah diminta menantikan di kamar Inem. Aku sendirian di kamar Inem yang berukuran 3×3 m itu. Kunyalakan radionya Inem,,dan tanpa sadar aku tertidur. Tepat pukul 23.00 WIB aku dibangkitkan oleh Inem.

“Den,,dipanggil ibu di ruang tengah tuh”,,sapa Inem ketakutan.

Kulihat kontolku,,masih saja mengacung dan keras. Aku keadaan bingung dengan urusan yang satu ini. Sambil berjuang membetulkan kontolku,,tiba mendarat Inem mesem mesem dan berkata: “Aduh Den,,jangan harap jadi kecil sebelum 2 hari. Dulu aja mas Ivan supir bapak sampai libur 2 hari sebab kontolnya diciptakan keras laksana ini sama mbak Fani”.

“Ya sudahlah Nem,,ditutup sama kaos saja”,sahutku kebingungan.

Kamipun mengarah ke ruang tamu. Semua tertunduk malu,,sedangkan mama melulu termenung menyaksikan semua anak gadisnya. Aku dan Inem dipersilahkan duduk oleh mama,,namun seluruh anak gadisnya masih saja tertunduk. Kamipun diinterogasi oleh mama. Satu persatu menangis,,termasuk mama. Karena tak dapat lagi menyangga amarah,,akhirnya mama berteriak dengan keras: “SUNDALLLLL”.

Suasana ruangan menjadi semakin hening dan mencekam. Mama memandangi kontolku yang masih menonjol tetapi setengah tertutup kaos.

“itu anda kenapa”? Tanya mama sinis seraya menunjuk kontolku

Aku melulu terdiam tak dapat menjawab,,hingga kesudahannya mbak Fani angkat bicara,,diikuti lirikan Indah dan Evi. Mendengar keterangan mbak Fani, Indah berjuang menutup mulutnya sebab tertawa.

“kamu tidak boleh cengengesan Ndah”,ujar mama marah untuk Indah.

Mama juga meminta satu persatu anak gadisnya menyatakan semua yang terjadi. Mulai dari Evi, Indah. Mbak fani,,bahkan Inem. Mama nampak kaget mendengar keterangan mereka yang lebih spesifik itu.

“Jadi,,kalian ini benar benar maniak seks ya. Mama kecil hati sekali mendengar dan menyaksikan ini semua”,ujar mama seraya meneteskan air mata sekali lagi.

“Baiklah bila demikian. Mama mau terbit sebentar,,dan tidak boleh ada diantara kalian yang melakukan tersebut lagi. Semuanya istirahat dikamar masing masing”. Ujar mama sambil unik tanganku ke ruangan belakang,,lalu memintaku masuk dikamar Inem,,kemudian mama terbit sambil mengunci pintu kamar dari luar.

Tepat jam 01.00 pagi mama membangkitkan aku yang tertidur pulas di kamar Inem. Lagi lagi aku melirik kontolku yang masih mengacung dan keras.

Mama mengajakku ke ruang makan,,dan mempersilahkanku merasakan makanan yang sudah disajikan di meja. Mama juga memanggil seluruh anak gadisnya. Selesai makan,,kami pulang diminta ke ruang tamu. Mama meminta kami seluruh duduk di karpet,,sedangkan mama duduk diatas sofa. Kami seluruh kaget,,karena saat tersebut mama mencungkil jilbabnya. Ah,,cantik sekali mama andai tanpa jilbab. Terpampang tulang pipinya yang sexy,,kulit putihnya,,dan payudaranya yang laksana pepaya. Biasanya tetek tersebut tertutup jilbab,,namun akhirnya bisa terlihat dengan jelas dibalik bajunya yang ketat. Mama pun mencungkil kacamatanya,,jam tangannya,,lalu menyilangkan kakinya dan lantas menepukkan tangannya dengan keras sejumlah kali. Tiba mendarat dari teras depan masuk seorang laki laki dan wanita yang sudah telanjang bulat dihadapan kami.

“Saya meminta kalian menari dan bermesraan dihadapan kami,,namun tidak boleh sekali kali menjamah satu orangpun dari kami. Silahkan dimulai”,ujar mama ketus untuk kedua orang tersebut.

Kami seluruh tertunduk malu. Tiba mendarat dengan suara lantang mama meminta kami menyimak sepasang kekasih yang meliuk liukan tubuhnya seraya sesekali berciuman mesra. Setelah 30 menit berlalu,,aku menyaksikan posisi duduk masing masing kami yang mulai berubah ubah sebab memperhatikan kedua orang yang bermesraan di depan kami. Tanpa sadar. Indah terlebih dulu memberanikan diri memegang payudara kanannya. Memutarnya,,meremasnya,,dan sesekali berganti ke payudara kirinya yang masih terbungkus kaos,,namun tak menggunakan BH. Evi melulu bengong,,sambil sesekali menatap kami satu persatu. Lain halnya dengan mbak Fani,,ia melulu menatapi mama dengan muka sarat kebingungan.

“Kenapa anda Fani. Nggak usah pura pura alim lah. Perhatikan saja mereka, dan kerjakan seperti yang anda biasa lakukan”,,tantang mama dengan nada sinis untuk Fani.

Tidak tau sebab kesal dengan amarah mama,,atau sebab sudah horny,,namun mendarat tiba saja mbak Fani meraih kontolku,,mengocoknya perlahan lahan seraya melirik fobia ke mama. Evi menyimak aku dan mbak Fani,,sedangkan Inem dan Indah masih terus menyimak kedua orang yang menari dan bermesraan dihadapan kami. Aku mulai menyaksikan Indah mulai memasukkan tangannya lewat bawah kaos guna memegang teteknya.

“Ayo,,kok kalian melulu segini aja?,,Katanya maniak seks”?,,ujar mama ketus

“Sekarang buka baju kalian semua”,,tambah mama dengan suara lantang

Kami bingung mendengar perkataan mama. Kami juga saling pandang menandakan keadaan bingung dengan perintah mama tersebut.

“Ayo buka bajunya semua”,,kata mama dengan tegas sekali lagi.

Kamipun mulai mencungkil pakaian kami satu persatu,,hingga akhirnya seluruh berbugil ria. Yang membuatku bingung ialah 2 buah bekas kecupan di payudara Evi. Seingatku,,aku tidak pernah membuat,,“duatanda mata”,,itu di payudaranya. Ah,,sudahlah pikirku. Tiba mendarat penari pria bertanya pada mama: “kok tante nggak ikutan bugil”.

“Kurang ajar kamu. Kamu saya bayar guna menari,,bukan nasehati saya”,,ujar mama marah seraya kembali menyuruh kami guna saling pegang pegangan.

Karena Evi dan Inem masih saja bengong,,akhirnya mama mohon Inem meraba raba Evi. Evi juga kaget,,namun nampak menikmatinya. Mama memanggilku seraya membuka plastik yang terdapat di meja. Mama menerbitkan salep,,obat obatan dan air mineral. Mama mengolesi ujung pahaku dengan salep,,dan mengurutnya lembut. Sesekali kuperhatikan pandangan binal mama ke kontolku,,namun saat aku memperhatikan,,mama segera melemparkan muka. Aku diajak duduk di sofa oleh mama,,dan Inem dan seluruh anak gadisnya meminum pil yang diberikannya. 20 menitan kami diajak duduk terdiam di sofa,,dan mama menyerahkan segepok uang untuk pasangan penari itu dan mempersilahkan mereka berpakain dan pulang. Setelah menerima uang,,dengan nakalnya penari lelaki meremas tetek mama dan kemudian selesai bersama pasangannya.

“bangsat”,,kata mama berteriak dibuntuti gelak tawa kami semuanya.

Aku terheran,,karena kontolku mendarat tiba berubah warnanya menjadi kemerahan,,dan aku seperti menikmati kekuatan baru di tubuhku. Disisi lain,,aku menyaksikan duduk Inem dan semua anak mama yang laksana orang gatel.

“Sebentar lagi ya”,,kata mama misterius seraya mesem mesem.

“Mah, aku pengen ke toilet nih”,,ujar mbak Fani,,,diikuti Inem. Indah dan Evi. Semua anak wanita mama berhamburan ke toilet.

“Kalau lihat saya,,kamu terangsang nggak” Tanya mama padaku saat ditinggalkan oleh seluruh putrinya dan pembantunya.

Aku hanya dapat terdiam dan tertunduk. Saat tertunduk,,aku laksana kaget menyaksikan urat kontolku yang membesar di dekat batangnya.

“Kenapa,,bingung ya lihat tersebut kamu jadi laksana itu”? Tanya mama dengan nada sinis, seraya menunjuk kontolku.

“Sini ditambahin, biar semakin besar lagi”,,sahut mama.

“kesini kata saya”,,teriak mama sekali lagi.

Mama memungut salep tersebut lagi,,kemudian mengoleskannya di kepala kontolku. Kepala kontolku terasa dingin sesudah diolesi salep itu. Kemudian mama memintaku meminum kapsul. kapsul tersebut berwarna coklat dan putih. Setelah tersebut mama mempersilahkanku duduk. 5 menit kemudian,,aku terasa hendak pipis juga,,hingga kesudahannya aku pamit ke toilet. Mama melulu mengangguk mempersilahkan.

Sesampainya di toilet,,aku kaget pun melihat Inem yang sedang dijilati, dikobel kobel memeknya,,dihisap putingnya,,diraba raba perutnya secara berebutan oleh Indah,,mbak Fani dan Evi. Karena mereka tidak melihatku,,akhirnya aku menyimpulkan pipis di kamar mandi belakang. Di kamar mandi aku menyimak kontolku yang paling keras dan berurat urat,,berwarna merah padam,,dan unsur kepalanya menjadi lebih banyak dari biasanya. Apa ini,,pikirku bingung? Akupun laksana merasakan desakan seksual yang hebat sekali,,dan tanpa sadar mengocokkan kontolku sendiri secara perlahan.

“Kenapa pipis disini”,,kata mama lembut,,namun membuatku kaget.

Mama memegang kontolku erat erat,,dan menariknya seperti unik belalai gajah. Karena tak dapat mengendalikan diri,,aku memberanikan diri meremas pantat mama yang mulai turun itu.

“Kamu tidak boleh kurang ajar ya”,,ujar mama seraya melepas kontolku dan menamparku.

Kali ini mama unik tanganku,,namun lagi lagi aku tak dapat mengendalikan desakan seksual yang begitu luar biasa,,hingga kali ini aku memberanikan diri meremas payudara kiri mama dari samping.

“Kamu ini memang bengal ya”,,sahut mama seraya menamparku sekali lagi.

Mama juga memintaku mengikutinya. Rupanya mama sudah meminta seluruh putrinya dan Inem ke empang renang di samping rumah. Alangkah kagetnya aku kali ini,,karena kali ini aku menyaksikan mbak Fani sudah menjilati memek Evi dengan buasnya. Indah menghisap tetek Inem seraya meraba raba memek Inem.

“Lihat buasnya mereka semua. Saya tidak menyalahkan anda karena sudah menggauli mereka semuanya. Ini memang salah saya”,,kata mama seraya meneteskan air mata

“Ini kali terakhir anda main dengan tiga putriku,,karena saya bakal bawa mereka ke Sydney dengan saya guna menetap disana. Saya pun telah mengumumkan ini dengan mereka. Jadi,,kali ini nikmati saja sepuasnya”,ujar mama tegas.

“Kalau gitu,,aku boleh dong gituan pun dengan mama”,,sahutku memberanikan diri.

Aku memang tergiur guna menikmatinya,,sejak ia membuka jilbabnya dan menunjukkan tetek pepayanya yang sampai ketika ini masih tertutup baju ketatnya. 10 menitan aku tidak menemukan jawaban. Akupun tak berani lagi meremas atau memegang mama,,karena fobia ditampar lagi.

“Saya tetap tidak mau. Kenapa sih nafsu lihat saya? Sana,,main saja dengan mereka semua” ujar mama.

Tiba tiba seluruh putrinya dan Inem mendekat aku dan mama. Tanpa malu malu,,mbak Fani langsung memegang kontolku. Indah meraba raba pantat mbak Fani,,dan Evi berciuman paling mesra seraya mengadu lidahnya dengan Inem. Aku melupakan mama,,dan merasakan sensansi yang paling baru dan spektakuler ini.

“Den. Inem inginkan dong dimasukin”,,sahut Inem memelas.

“Enak aja anda Nem,,aku dulu ya sayang”,,sahut Indah seraya memasukkan memeknya di kontolku.

“Auuuwwww….kok jadi besar begini sih say”,,kata Indah seraya terus berjuang memasukkan kontolku kememeknya.

Mbak Fani berdiri dibelakangku,,kemudia meminta Evi mendorong tubuh Indah agar terdorong kuat. Sedangkan Inem jongkok salah satu kontolku dan memek Indah sambil berjuang menjilatinya.

“Terusss mbbb,,akkkk”,,sahutku lembut

“mmmm,,,ayo sayang”,,seru Evi menjilati kontolku dari bawah.

“creeettttttt”,,Kontolku mengairi memek mbak Fani dan mulut Evi. Aku langsung berjalan mengarah ke Indah,,kuhujamkan kontolku dengan kasar di memek Indah.

“Ahhhh sayang….ennna kkkkk ….ennnakkk ….”ujar Indah terbata bata

“Ayo sayang ….mmmm”,,sahutku pada Indah seraya memutar mutar kontolku dengan cepat.

“Akhhhhhh,,enakkkk”,,kata Indah seraya terkulai lemas dipundakku.

Akupun menarik keluar kontolku dari memek Indah,,dan meminta Evi menungging. Kuludahi pantat Evi,,kucolok pantatnya dengan perlahan,,lalu kusodokkan kontolku dipantatnya.

“Ahhhhhhh kakakkakakkk,,kkkk,,kakkk,,sakitttttt”,,teriak Evi.

Aku tak memperdulikannya lagi. 3 menit aku bermain di pantat Evi dengan buas,,hingga kesudahannya kumuncratkan maniku di pantatnya. Maniku menetes terbit bercampur darah dari pantatnya. Lalu kucabut kontolku dan duduk di kursi. Evi nampak kesakitan dengan pantatnya,,hingga mbak Evi melap pantat Evi,,kemudian menjilatinya dengan rakus. Inem menghampiriku,,dan tanpa permisi memasukkan kekontolku ke memeknya. Inem menggoyangkan memeknya dikontolku. Inem memutarnya,,menaikkan,,menurunkan sampai gerakannya semakin cepat. 5 menit Inem menggoyangku, kemudian berkata: “kalau inginkan keluar,,bilang ya den”.

Aku tidak mempertanyakan dalil Inem yang memintaku memberitahukannya bila hendak keluar,,hingga kesudahannya aku mulai merasa hendak memuntahkan maniku.

“sekarang mau terbit Nem”,sahutku cepat,,dan Inem memperlambat gerakannya.

“Mbak Indah sini”,,panggil Inem untuk Indah yang sedang asyik menjilati memek Evi dan mbak Fani secara bergantian.

Tangan kiri Inem membimbing Indah jongkok bersamanya didepan kontolku seraya tangan kanannya mengocok kontolku dengan cepat.

“cretttt”,berceceranlah maniku dimuka Indah dan Inem.

Indah dan Inem menarikku dan mendekat mbak Fani dan Evi yang sedang asyik memainkan lidah mereka seraya saling meremas tetek. Setelah mendekat mereka. Indah berbisik pada mbak Fani. Evi dan Inem,,hingga kesudahannya mereka berempat duduk berjajar dan mengangkang membuka memek mereka. Indah menyerahkan komando, supaya aku mengentoti kami satu persatu secara bergantian mulai dari yang sangat kiri.

Aku mulai memasukkan kontolku di memek Evi. Tangan kanan Evi merangkul pantatku,,seakan memaksaku menghujamkan kontol dalam dalam

“ayo kakak,,lebih cepat lagi”,,ujar Evi bernafsu

Kuayun kontolku dengan cepat dimemek Evi,,namun mendarat tiba Indah unik tanganku,,meraih kontolku,,memasukkannya ke memeknya,,namun kali ini indahlah yang menaik turunkan memeknya.

“Ahhhhh,,sayang,,kamu sodok pun dong”,ujar Indah memelas.

Aku menerbitkan mani dimemek Indah di menit kelima,,lalu mbak Fani menarikku dan ia mengembalikan badannya,,menungging,,lalu memintaku memasukkan kontolku ke pantatnya. Kepala mbak Fani tertempel ke tanah,,sedangkan kedua tangannya mengempit pantatnya yang telah mengapit kontolku. Kusodok pantat mbak Fani dengan kasar sampai membuatnya meraung raung.

“aduh. Aduhhhh,,aduh”,,jerit mbak Fani lantang

Aku tak memperdulikannya,,namun kontolku semakin diapit lebih sampai akhirnya kumuntahkan maniku di pantatnya. Mbak Fani langsung mengembalikan tubuhnya,,dan mengangkang kembali,,lalu memintaku menghujamkan kontolku di memeknya. Namun di luar dugaan, Inem unik lenganku dan memaksa kontolku masuk di memeknya. Inem menggoyangku dengan lembut sekitar 5 menit,,hingga kesudahannya aku menarik keluar kontolku,,dan memuntahkan maniku ke arah mbak Fani.

Sekarang Evi berdiri dan unik tanganku,,kemudian memintaku pulang mengentotinya. Kali ini Evi mengekor gaya Indah. Evi memajukan tubuhnya,,bahkan memutarnya sampai membuatku kegelian.

“Ahhhh Eviiiii eeenn,,,aaaaakkkkkkkkkk sayang”,ujarku terbata bata

Indah. Inem dan mbak Fani mengelilingi aku dan Evi. Sekarang aku memacu kontolku dengan cepat di memek Evi. Mbak Fani menjilati tetek kiri Evi. Indah meremas remas tetek kanan Evi,,dan Inem menjilati pantatku dari belakang.

“Ahhhhhhhhh,,aku mau terbit sayang”,,ujar Evi berteriak

Evi terkulai lemas menandakan ia sudah keluar,,namun aku terus memacu kontolku dengan cepat seraya sesekali menggoyangnya. Evi terkulai tak berdaya seraya mendesis laksana ular.

“Kalau inginkan keluar,,bilang ya sayang”,,bisik mbak Fani lembut ditelingaku.

“Aku udah mau terbit mbak”,,sahutku.

Mbak Fani juga meminta Indah dan Inem jongkok bareng sambil mengatakan: “semprot muka kami sayang”.

Kutarik kontolku dari memek Evi,,dan kusemprotkan di muka Inem dan Indah. Ketika hendak menyemprotkan mbak Fani,,kontolku telah tak dapat mengeluarkan mani lagi. Akhirnya mbak Fani menjepitkan bibirnya dari samping kekontolku. Ia mengocok kontolku dengan gaya khasnya.

“Akkkhhhhh,,gelllllllllliiiiiii mbak”,,sahutku seraya merinding

Mbak Fani mencungkil bibirnya dari kontolku,,lalu mengocoknya dengan tangan kanan,,sedangkan tangan kirinya meremas remas pantatku.

“Ayo sayang,,,semprot mbak dong”,,ujar mbak Fani terbata bata.

Aku mencungkil tangan mbak Fani yang sedang mengocok kontolku, dan meminta Indah yang mengocokkannya,,dan meminta mbak Fani memejamkan matanya. Sambil mengocok kontolku. Indah menghisapi putting tetekku. Semakin lama. Indah semakin kencang dan kasar mengocok kontolku,,hingga kesudahannya kumuntahkan maniku di mata mbak Fani. Kali ini kuminta Inem menjilati maniku di mata mbak Fani. Inem juga menurutinya, dan menjilati mata mbak Fani yang berlumuran maniku. Aku nampak kelelahan,,demikian halnya dengan Indah dan Evi yang sudah terkulai lemas. Akhirnya kami menyimpulkan untuk masuk kedalam empang berenang bersamaan.

5 menit didalam empang renang menciptakan badan kami segar kembali. Indah mulai naik dari empang berenang,,diikuti Inem,,lalu Evi. Ketika mbak Fani hendak turut naik,,aku unik tangannya,,lalu menyenderkan tubuhnya di tangga kolam. Aku mengusung kaki kanan mbak Fani,,lalu meletakkannya di tangga, dan memasukkan kontolku ke memeknya. Aku berciuman paling mesra sampai mempermainkan lidah kami,,bahkan sesekali mbak Fani menggigit lidahku.

“Ayo sayang,,goyang mbak Fani” ujar mbak Fani dengan manja.

Kumasukkan kontolku perlahan,,hingga kesudahannya kupacu dengan cepat. Mbak Fani mendesah desah laksana orang kesurupan,,hingga kesudahannya kuciumi bibirnya. Mbak Fani mendorong tubuhku,,hingga kontolku terlepas dari memeknya,,namun ia unik tanganku kembali,,dan kini mbak Fanilah yang mendorongku ke tangga kolam. Mbak Fani mengusung kaki kirinya,,memasukkan memeknya ke kontolku,,lalu memutar tubuhnya sampai memacu tubuhnya dengan cepat. 10 menit kami bergumul di tangga kolam,,hingga kesudahannya aku menjambak rambut mbak Fani,,merangkulnya erat erat sampai memelukku rapat dan kumuntahkan maniku di memeknya. Aku dan mbak Fani berpelukan,,lalu kukecup bibirnya dengan lembut.

Indah menyerahkan handuk padaku dan mbak Fani. Kami berlangsung ke arah Evi dan Inem yang terkulai di kursi panjang. Mbak Fani dan Indah duduk berpangkuan. Tiba mendarat kulihat mama yang masih duduk seraya melipatkan tangannya dan menyilakan kakinya.

Melihat mama,,aku memberanikan diri guna bertanya pada mbak Fani.

“Mbak,,boleh nggak aku ngentot sama mama?”,,ujarku pelan dan sarat rasa cemas.

Mbak Fani tidak menjawab,,namun Indah berkata: “kalau berani, jajaki aja”.

Akupun selesai menuju mama seraya mengocokkan kontolku dengan cepat,,sambil diiringi lirikan mata mbak Fani dan tatapan tajam Indah. Aku mendarat dihadapan Mama,,dan mama mencungkil tangannya yang berlipat seraya nampak keadaan bingung menghadapi aku yang datang menghampirinya seraya mengocok kontolku. Kali ini aku tidak memegang,,namun aku terus mengocokkan kontolku dan mengarahkannya ke baju ketat mama.

“Eh,,eh,,eh,,kamu inginkan ngapain”,,ujar mama keadaan bingung melihat ulahku.

Mama berjuang berdiri,,namun aku mendorongnya lembut sampai ia duduk pulang di kursi. Mama meronta ronta seraya teriak memanggil nama nama anaknya serta Inem. Indah,,mbak Fani. Evi disusul Inem berlarian menghampiriku dan mama.

“Fani,,tolong mama inginkan diperkosa nih”,,teriak mama lantang.

“Indah,,tolong mama dong. Evi, Nemmmmmm”,teriak mama lagi dengan nada yang lebih keras.

Rumah besar mereka memang menciptakan tetangga tidak dapat mendengar kami. Mama terus berteriak,,namun aku terus mengocokkan kontolku dengan lembut,,hingga kesudahannya kumuncratkan maniku di baju ketat mama.

“aduhhh,,gimana sih ini,,kamu tuh”,,ujar mama seraya melap maniku dari bajunya.

Indah. Evi dan Inem melulu terdiam,,dan mendarat tiba mbak Fani menerbitkan suaranya dengan lembut: “kalau mama mau,,nggak apa apa kok mah. Kami nggak ngadu deh ke papa. Lagian,,tadi aku lihat mama meremas remas payudara mama kok”.

“ngaco anda Fani”,ujar mama tidak banyak geram

Aku membelai usap kontolku,,dan kali ini kuberanikan guna mengarahkannya ke memek mama yang masih terbungkus rok. Mama mendorongku,,lalu pulang melipatkan tangannya. Kali ini Indah yang mengocokkan kontolku dengan lembut seraya mengarahkannya ke baju ketat mama,,dan mbak Fani membisikan sesuatu di telinga mama. Aku tidak mendengar bisikan mbak fani,,namun kesudahannya mbak Fani unik tanganku,,kemudian membimbingnya ke arah mama,,namun mereka seluruh mundur 2 meter dari kursi mama. Aku terdiam 5 menit dihadapan mama seraya mengocokkan kontolku dengan lembut.

“Kok ngocoknya pelan,,yang cepat dong. Muntahkan lagi di baju mama”,ujarnya sinis sambil mencungkil lipatan tangannya.

Ahhh,,luar biasa sekali pikirku. Aku tak tau apa yang dibisikkan mbak Fani pada mama. Aku melulu mengocokkan kontolku lebih cepat,,hingga sekali lagi kumuntahkan maniku di baju mama. Aku mengurut kontolku dengan keras,,hingga menerbitkan tetes mani terakhir,,setelah tersebut aku terdiam 5 menit menyimak kontolku yang masih saja mengacung dan keras. Aku memandang mama,,demikian sebaliknya.

“Kok,,cuma dibaju”,,kata mama nakal.

Akupun segera meremas tetek pepayanya yang masih terbungkus BH dan baju ketatnya itu,,lalu mama membisiki telingaku: “saya nggak suka yang kasar kasar. Yang lembut ya”.

Akupun unik lembut kepala mama kearah kontolku,,kemudian memintanya menjilatinya. Mama mengocokkan kontolku terlebih dahulu,,lalu menjilatinya,,menghisapnya,,hingga mengocokkannya kembali. Aku menarik keluar kontolku dari mulutnya,,kemudian memuncratkan maniku sekali lagi di bajunya.

“Aduh,,kamu kok suka muncratin disini sih”,kata mama menggoda

Akupun membuka bajunya dengan lembut sambil menempatkan tangan kanannya dikontolku,,lalu ia mengocokknya. Aku sungguh kaget menyaksikan tetek mama yang indah. Bentuknya memang laksana papaya,,jatuh kebawah bergelayutan,,namun puttingnya masih berwarna kemerahan. Aku meremas teteknya dengan lembut,,hingga kesudahannya aku mencungkil kontolku dari tangannya, dan mengarahkannya ke tetek kanan mama. Kumainkan kontolku di putingnya,,lalu kuminta mama meludahi belahan teteknya. Aku meminta mama maju tidak banyak kedepan,,lalu kuletakkan kontolku dibelahan dadanya,,kemudian kujepit dengan tetekanya yang kurapatkan dengan tangan kiri dan kananku. Aku mengentoti teteknya ketika ini. 5 menit kuentoti tetek mama,,hingga kesudahannya aku memuncratkan mani didagunya. Mama memintaku mencuci mani didagunya dengan lidahku. Aku mengindikasikan keberatan,,namun mama memaksaku. Akhirnya aku kembali menempatkan kontolku di belahan teteknya,,menjepitnya,,lalu kukocokkan lagi laksana tadi. Mama mencungkil kontolku dari jepitan teteknya,,dan memintaku menuruti kemauannya. Dengan berat hati,,kujilati maniku didagu mama,,hingga lantas ia menjambakku dan meghisap mulutku sampai menyedot seluruh maniku yang tercecer di lidahku. Mama memintaku menjulurkan lidah,,dan ia menghisapnya laksana kontol.

“Sekarang,,hisap putting mama,,lalu buka rok dan celana mama ya”,kata mama lembut.

Kuhisap putingnya kirinya,,kuangkat tetek kanannya sampai menggelantung kemudian kuremas remas. Mama mendesis laksana ular sambil berjuang meraih kontolku.

“Ayo say,,sekarang ke sini mama”,ujar mama sambil membelai elus memeknya yang masih terbungkus rok dan celana dalam.

Akupun jongkok dihadapan perutnya,,kujilati pusarnya seraya memintanya mengusung tubuhnya supaya aku dapat menaikkan roknya. Kuangkat roknya sampai menutupi perutnya,,kemudian kubuka kakinya dan kugigit memeknya yang masih terbungkus celana dalam putih bersihnya.

“kamu heeee,,bat sayangggggg”,,sahut mama terbata bata

“Ayo dong,,lepas celananya”,,sahutnya lagi sambil mengelus rambutku laksana anak kecil.

Kubuka celana dalam mama melulu sampai di betis,,lalu kuraba pahanya sampai pangkalnya. Mama nampak merinding dan mendesis keenakan. Sekarang kuraba memeknya yang sudah basah. Kurentangkan kakinya dengan kasar sampai celana dalamnya yang di betis robek. Kubuka semua celana dalamnya yang sudah robek tersebut lalu kuciumi.

“Sayang,,sudah nggak tahan nih. Ayo dong jilatin”,ujar mama seraya menggoyang goyangkan tetek kanan dan kirinya.

Kujilati memek mama yang sudah tidak banyak lebar itu. Mama memintaku memasukkan lidahku kememeknya,,hingga kesudahannya tangan kanannya menempelkan kepalaku ke memeknya sampai membuatku tak dapat bernafas.

“Kita ke empang ya”,ujar mama lembut seraya menggandeng tangan kananku

Sesampainya di kolam,,mama memegang besi tangga kolam,,lalu menungging. Mama menunjukkan kontolku di pantatnya. Kuhujamkan kontolku sampai terbenam,,dan mama meringis. Mama memintaku untuk menenggelamkan kontolku dipantatnya kemudian menyuruhku diam saja. Tiba mendarat ia menyerahkan kedua tangannya padaku guna dipegang. Dalam posisi menungging,,kontolku tenggelam di pantatnya dan tangan kami berpegangan, mendarat tiba mama memutar pantatnya perlahan lahan,,hingga kesudahannya berputar dengan cepat sekali. 2 menit kesatu aku menyemprotkan maniku di pantatnya. Menit ke 5 aku memuntahkan mani yang kedua. Menit ke 10 kumuntahkan yang ketiga sampai maniku menetes di lantai.

“Mahhhh,,ampuuuuuunnnnn,,nikkkmaattt,,beett,,t tuuullll”,,kataku seraya meringis

“ahhh,,ahhhhh,,ouuuuhhhhhhhhhggggghhhhh”,,sahut mama sambil mencungkil tanganku dan menarik keluar kontolku dari pantatnya.

Mama langsung menghisap kontolku,,mengocoknya dan kini ia menyenderkan pantatnya dibesi kolam,,lalu memasukkan kontolku di memeknya seraya berkata: “tadi kan mama yang kerja dan puaskan kamu,,sekarang puaskan mama ya”.

Karena tak mau dirasakan egois,,akupun meminta mama berbaring dilantai,,kemudian aku mulai memainkan jariku dimemek mama. Satu jari kumasukkan,,namun mama belum bereaksi apapun. Dua jaripun demikian. Akhirnya kumasukkan tiga jariku,,namun mama baru bereaksi sedikit. Memek mama memang telah lebar. Kontolku yang sebesar nampaknya masih longgar andai menembus memeknya. Aku tidak banyak kebingungan,,hingga kesudahannya aku mencungkil jam tangan dan cincinku. Aku meludahi tangan kananku,,lalu mulai menggesek gesekkannya di memek mama. Mama mulai mendesis desis,,saat bulu tanganku menggesek memeknya. Selanjutnya kumasukkan tiga jariku kememeknya,,lalu empat jari,,hingga kesudahannya kumasukkan kepalan tanganku secara perlahan

“Ahhhhhhh,,sakiiiiitttttttt”,,teriak mama.

Aku tak memperdulikannya,,hingga kesudahannya kepalan tanganku menjebol memek lebarnya. Kuludahi tanganku 5 kali seraya kumasukan dan kukeluarkan di memek mama.

“Ahhhh nikkkkkmatttt,,terusss,,terussss,,akkkkhhhh,,ohhhhh,,lebihhh ceeeeeppp,,aattttttttt sayanggg”,,teriak mama.

Tangan kiriku kupuaskan guna meremas remas tetek pepayanya,,dan tangan kananku kukeluarkan dan kumasukkan dengan cepat dimemeknya. Aku menikmati mama sudah keluar,,namun aku terus memacu tanganku lebih cepat sampai akhirnya mama terbit kali yang kedua. Setelah menyaksikan tetesan darah,,aku menarik keluar tanganku perlahan,,diikuti teriakan mama:,,“auwwwww”

“jilatin dong say”,ujar mama lirih.

Kujilati cairan bercampur darah dimemek mama seraya sesekali meremas lipatan perutnya yang putih dan menggoda. Mama menjambak rambutku,,dan menariknya kemukanya seraya berkata: “terima kasih sayang,,mama puas sekali”

“aku pun ma”,sahutku seraya mengusungnya berdiri.

Mama memanggil seluruh putrinya dan Inem. Setelah mereka datang,,mama meminta mereka seluruh jongkok dihadapan kontolku,,diiringi dengan mama. Mama meminta seluruh menjilati kontolku secara bersamaan. 10 menit mereka menjilati,,menghisap hingga menggigit biji pelerku sampai aku memuntahkan mani sekitar 5 kali di muka mereka masing masing.

Aku memungut jamku dilantai,,dan waktu mengindikasikan pukul 06.00 WIB. Akhirnya kami masuk satu persatu kedalam rumah. Evi memelukku dari depan,,mengusung kaki kanannya,,memasukkan kontolku ke mememknya,,lalu dengan perlahan memungut posisi di gendong olehku.

Bandar66 – “Ayo kak,,kita mandi air hangat didalam,,tapi kakak gendong aku ya”,bisik Evi seraya terus memaju mundurkan dan memutarkan memeknya yang tertancap kontolku. Akupun berjalan mengarah ke kamar mandi dengan jalan perlahan, sebab kedua kaki Evi mengapit erat pantatku.

Di kamar mandi,,aku dimandikan oleh mereka semua. Setelah mbak Fani menghandukiku,,mama mengoleskan salep yang beda dengan yang tadi,,lalu ia memintaku berpakaian.

Bandar Q – Mereka juga berpencar ke kamar masing masing,,dan aku menggunakan kaos dan celanaku. Aku melirik kontolku,,dan kali ini kulihat sudah kembali laksana semula. Setelah berpakaian,,aku mengarah ke ruang tengah. Mama memangil seluruh putrinya serta Inem. Semuanya sudah mengenakan pakaian. Mama berkata serius berkaitan dengan keputusannya mengasingkan kami. Akupun mengamini keputusan tersebut,,dan kesudahannya mama memintaku membuka retsleting celana ku dan menerbitkan kontolku sekali lagi. Mama meminta seluruh yang disitu menghisap kontolku guna terakhir kalinya. Mulai dari Evi,,mbak Fani dan Inem kusemprot dengan mani di mulut mereka. Sampai di Indah pacarku,,aku berhenti sejenak,,memintanya berdiri, memeluknya seraya meneteskan airmata.

“Maaf bila aku punya salah ya Ndah”,,bisikku di telinga Indah

Togel Hongkong – Tanpa berbicara apapun, Indah mengocokkan kontolku dengan tangannya,,lalu mengisapnya sampai kusemprotkan maniku yang tidak tidak sedikit lagi dimukanya. Akhirnya aku bergeser ke arah mama,,dan tidak mempedulikan kontolku dihadapnnya. Mama membuka kancing dasternya sampai tetek pepayanya menyembul. Mama menempatkan kontolku dibelahan dadanya,,kemudian mengapit kontolku dengan teteknya,,meludahi belahan dadanya,,hingga kesudahannya ia mengocokkan kontolku dengan tetek pepayanya. Mama menerbitkan maniku sejumlah 2 kali,,hingga yang ketiga kontolku tak mengelurkan setetes mani pun. Mama menarik keluar kontolku dari teteknya, menghisapnya dengan buas,,lalu mengurut kontolku laksana memeras jeruk. Kontolku benar benar mengecil sekarang,,lalu mama memasukannya kedalam celana dalamku,,menciumnya,,lalu memblokir retsletingku. Aku juga berpamitan pada mereka semua,,hingga kesudahannya tak bertemu mereka sampai saat ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *