Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Bejat Mamiku Part 1

Bejat Mamiku Part 1 – Aku Iwan,,masih ruang belajar 3 di di antara SMU di Jakarta Selatan dan tinggal bareng Papa dan Mami serta adikku Ita yang sekolahnya sama dengan sekolahku,,hanya Ita masih duduk di ruang belajar 1 dan masuk siang,,sedangkan semua ruang belajar 3 kebagian masuk pagi. Di rumahku pun ada seorang penolong yang agak tua.

Perlu diketahui. Mama kandungku sudah meninggal sejumlah tahun yang lalu dampak sakit,,dan Papaku mengawini adiknya Mama kira-kira satu tahun yang lalu. Aku serta Ita memanggilnya Mami yang sebelumnya memang telah kami kenal dengan baik. Habis dia kan tanteku juga.

Mami ini dicerai oleh suaminya,,dengar-dengar sih katanya sebab sudah kawin 4 tahun namun belum punya anak. Nah,,mungkin Papa merasa telah duda serta tanteku telah janda dan lagipula mereka telah kenal baik sebelumnya,,jadilah mereka kawin.

RedmiQQ – Nah,,ceritaku ini terjadi kira-kira 3 minggu yang kemudian di siang hari saat aku kembali dari sekolah. Setelah ganti dengan celana pendek dan kaos singlet saja,,aku langsung santap yang sudah disediakan oleh Pembantu. Setelah berlalu makan,,aku bermaksud ke ruang tamu inginkan mendengerkan lagu-lagu dari Laser Disc. Tetapi sewaktu melalui kamar Papa dan Mami yang pintunya agak tersingkap sedikit,,kudengar suara-suara yang agak mengherankan dan berisik. Karena hendak tahu suara apa itu,,kuhentikan langkahku dan kuintip dari pintu kamar Papa dan Mami yang agak terbuka tidak banyak tadi. Ternyata Mami sedang duduk membelakangiku dan sedang menyaksikan TV.

Setelah keperhatikan lebih cermat,,ternyata Mami sedang nonton film blue dari Laser Disc. Dan kuperhatikan lagi,,tangan kiri Mami bergerak maju mundur di dekat bagian pahanya. Mamiku ini walau telah agak berumur kira-kira 37 tahun,,tapi aku paling bangga,,karena tidak sedikit mata yang mengaguminya bila kami sedang jalan-jalan di Mall,,mungkin sebab Mami agak seksi dan warna kulitnya yang putih bersih serta format dada yang menonjol serasi. Itu komentar yang pernah kudengar dari sejumlah orang temannya Mami.

Mami yang sedang nonton TV tersebut mengenakan baju atau daster merah muda tipis dan paling minim,,habis sih pahanya nyaris kelihatan semua,,bulu ketiaknya yang lebat kelihatan juga. Sayangnya Mami menghadap ke depan,,sehingga yang terlihat melulu punggungnya yang putih bersih. Karena sekitar ini aku belum pernah menyaksikan film laksana itu, kemudian kuputuskan guna melihatnya terus dari celah pintu tersebut dan menyaksikan adegan demi adegan. Batang penisku tidak terasa menjadi tegang sekali.

Saking asyiknya nonton seraya berdiri,,ditambah nafsuku kian meninggi,,tidak terasa berdiriku menjadi tidak tenang dan dengkulku menyenggol pintu kamar Mami dengan keras. Tapi dengan cepat aku mundur menjauhi pintu.

“Iwaaan,,kamukah itu,,?”,,kudengar suara Mami memanggilku,,tapi aku tidak menjawab.

“Iwaaan,,sini,,doong,,naaak,,!”,,kudengar pulang Mami memanggilku.

Karena tidak enak,,lalu aku kembali mengarah ke pintu kamar Mami dan kujawab, “Ada,,apa.. Mam..?”,,sambil kuperlihatkan kepalaku.

“Sini.. Wan..!”,,kata Mami seraya melambaikan tangannya dan film blue tadi masih terus berjalan.

Karena hendak melanjutkan nonton film tadi,,lalu aku masuk kamar Mami dan Mami melanjutkan kata-katanya.

“Wan,,sini,,duduk dekat Mami. Mami tahu kok bila Iwan pingin nonton film tersebut kan..?”,,lanjut Mami seraya menunjuk TV.

“Sini.. Wan,,kamu telah besar.. Sudah seharusnya kamu pun tahu”.

“Maaf ya Mam,,saya sudah mengganggu Mami”,,kataku.

“Aaahhh,,kamu ini,”,kata Mami. “Sudahlah,,duduk sini,,kita nonton sama-sama”,,lanjut Mami sambil menghirup pipiku.

Perasaanku menjadi tidak karu-karuan bercampur malu saat pipiku dihirup Mami,,apalagi terhirup bau minyak wangi yang dipakainya terasa harum menusuk hidungku,,sehingga nafsuku kian menjadi-jadi. Setelah sejumlah saat melulu diam saja dengan mata kami tetap tertuju ke arah TV,,tiba-tiba aku dikejutkan dengan pertanyaan Mami.

“Waan,,kamu,,tadi telah lama ya,,nonton film semi nya dari pintu..?”.

“I,,ya Mam”,,jawabku malu tanpa menengok Mami.

“Jadi.. Iwan,,tahu.. Mami,,lagi ngapain..?”,,tanya Mami lagi dan lagi-lagi melulu kujawab pendek dengan tanpa menoleh ke Mami.

“Waaan”,,kembali Mami memanggilku,,tapi kali ini suaranya tersiar agak lain.

Dan saat kuberanikan menatap wajah Mami,,kulihat kedua mata Mami agak berair.

“Waan, Iwan. Jangan hingga salah,,yaaa, Mami tidak jarang nonton film laksana ini bareng Papamu,,yaaah.. Mami sangka Mami dapat mengembalikan situasi Papamu kembali. Tapi,,sampai ketika ini masih belum”.

“Lho,,memangnya Papa mengapa Maaam..?”,,tanyaku karena sungguh-sungguh aku tidak memahami apa yang dimaksud Mami.

“Aduuh.. Iwaaan gimana sih menjelasinnya sama kamu..? Kok anda sepertinya nggak ngerti sama sekali”,,kata Mami.

“Betuuul Mam”,,jawabku, “Iwan sungguh-sungguh nggak ngerti,,kenapa sih dengan Papa..?”,,tanyaku kembali.

Lalu Mami menggeser duduknya mendekatiku sampai-sampai sekarang Mami duduknya telah menempel denganku, sampai-sampai bau wangi Mami terasa sekali dan menciptakan penisku yang dari tadi telah tegang sebab lihat film menjadi lebih tegang lagi.

“Waaan,”,,kata Mami perlahan, “Papamu telah kira-kira enam bulan ini,,ininya,,(sambil tiba-tiba tangan kanannya meremas batang kemaluanku) nggak dapat bangun”.

“Aaahhh.. Mami.” sahutku sambil berjuang melepaskan tangan Mami dari penisku, walaupun rasa penisku berdenyut enak, namun aku berjuang melepas tangan Mami, sebab malu dan lagipula selama ini belum pernah penisku dipegang oleh orang lain.

“Waaan. Mami kan masih kepingin. Tapi,,yaaahh,,karena punya Papamu nggak dapat bangun,,jadi,,terpaksa Mami mengerjakan seperti yang Iwan lihat tadi.

“Maaam. Mami kepingin apa sih,,dan tadi.. Iwan,,nggak lihat jelas.. Mami,,tadi ngapain sih..?”,,tanyaku lebih berani.

“Waaan, Mami kan masih kepingin laksana yang di TV tersebut lho,,dan,,ini,,lho.. Waan,” seraya tangannya memungut sesuatu dari bawah bantal dan ditunjukkan padaku.

Setelah kulihat,,ternyata manian yang berbentuk penis. Oh,,rupanya tersebut yang tadi dimaju-mundurkan. Lalu kami berdiam sejenak dan kembali menyaksikan TV yang adegannya semakin seru.

“Waan”,,tiba-tiba aku dikejutkan oleh panggilan Mami.

“Yaa.. Maaam”,,kujawab seraya menengok ke arah Mami.

“Waan,,boleh… Mami,,lihat punyamu..? Mami rasakan tadi kok,,punyamu,,besar betul dan,,keras lagi..?”,,lanjut Mami.

“Maam,,jangan,,aaahh.. Maaam, Iwan,,maluuu,,apalagi nanti terdapat orang beda yang,,lihat”,,jawabku sekenanya.

“Lhooo,,kok sama.. Mami sendiri maluuu..? Disini kan cuman anda berdua. Waaan, boleh yaa.. Waan..?”

Dan tanpa menantikan jawabanku,,bahuku didorong Mami sampai rebah di lokasi tidur, dan Mami dengan tangkas membuka resleting celana pendekku dan unik turun bareng CD hingga terlepas dari badanku.

“Aduuh… Waan, besar betul punyamu ini,”,,komentar Mami seraya memegang batang kemaluanku dan memijatnya pelan.

Aku melulu memejamkan mataku sambil merasakan enaknya penisku yang sedang dipegang Mami.

“Waaan.. Mami enakin laksana yang di TV.. yaa..?”,,kata Mami lagi,,dan kudiamkan saja pertanyaan Mami sambil menantikan dan hendak tahu apa yang akan dilaksanakan Mami.

Tiba-tiba.., “Huuub”,,penisku yang berdiri tegak tersebut telah masuk semuanya ke dalam mulut Mami dan paling terasa sekali saat Mami mulai menghisap dan mengocok maju mundur dengan mulutnya.

“Maaam.. Maam,,eenaak.. Maaam,,eenaak.. Maam”,,tidak terasa aku berkomentar seperti tersebut karena merasakan kesenangan yang luar biasa.

Dari mulut Mami yang tersumpal dengan batang kemaluanku melulu terdengar bunyi, “Hhhmm,,hhm,,hhmm”,,sambil tangannya mempermainkan kedua biji kemaluanku.

Kisah Seks Sedarah – Batang kemaluanku terasa laksana tersedot-sedot,,dan kadang terasa lidah Mami tentang kepala penisku dan menambah keasyikan yang kesatu kali kualami,,dan secara terbius kepala dan rambut Mami kuremas-remas dengan kedua tanganku seraya sesekali kutekan kepalanya,,sehingga semua batang kemaluanku terasa masuk seluruh ke dalam mulut Mami.

Beberapa menit kemudian. Mami mencungkil batang kemaluanku dari mulutnya,,dan datang menghampiriku sambil menghirup pipiku dan berbisik di sekitar telingaku.

“Waan,,enaaak.. Waan..?”

Karena memang aku menjadi keenakan,,dan lagipula ini menjadi empiris kesatuku,,kujawab dengan jujur.

“Iyaa.. Maaam,,enaak sekali rasanya”.

Lalu kudengar Mami berbisik lagi, “Iwaan,,sekarang.. Iwan inginkan kan tolongin Mami..?”

Karena aku benar-benar tidak memahami apa yang dimaksudkan Mami,,langsung saja kutanyakan, “Maam,,tolongin,,apaan..?”.

“Aduh.. Waan,”,,kata Mami lagi laksana keheranan.

“Itu.. lho Waan,,tolong ciuum tetek Mami laksana yang Iwan lihat di TV itu..!”,,kata Mami sambil mencungkil dasternya seraya terus tiduran.

Sekarang baru kulihat dari dekat payudara Mami yang paling putih dengan kepala susunya yang kecoklatan. Karena nafsuku telah meninggi dan hendak segera mengupayakan apa yang kulihat di TV tadi,,tanpa menjawab ucapan-ucapan Mami,,langsung saja aku bangun dan mendekati payudara Mami. Pertama kucium payudara Mami kanan-kiri dengan kepalaku agak kutekan,,lalu laksana yang kulihat tadi di TV,,kujilati payudaranya dan sesekali kusedot puting susu Mami yang kecoklatan itu,,dan mungkin sebab keenakan,,kudengar Mami berguman.

“Iwaan.. Waan teruss.. Waan,,enaak,,teruus.. Waan..!”,,sambil kedua tangannya meremas-remas rambutku.

Mendengar ucapan-ucapan Mami itu,,nafsuku semakin meninggi dan berjuang mencoba menciptakan Mami lebih enak,,apalagi kuingat bahwa Mami telah enam bulan ini tidak pernah mendapatkannya dari Papa. Sedotan dan jilatanku di dekat payudara Mami lebih kupergiat, lagipula sekarang tangan kanan tidak lagi meremas rambutku,,tetapi telah meremas dan mengocok batang kemaluanku. Sambil berguman, “Enaak.. Waan,,enaak. Teruuss Waan..!”,,dan pulang kedua tangan Mami meremas rambutku lebih powerful lagi.

Setelah sejumlah saat,,terasa remasan-remasan tangan Mami di kepalaku tersebut seperti dibuntuti dengan dorongan supaya kepalaku turun ke bawah. Walaupun tanpa ucapan-ucapan dan masih ingat dengan adegan TV yang aku sempat tonton tadi,,aku menjadi yakin bila sekarang Mami menyuruhku guna pindah dan menghirup bagian vaginanya. Tanpa menunggu desakan Mami lagi,,kuturunkan badanku pelan-pelan seraya kujilati unsur badan Mami mulai dari perut,,terus ke pusar dan terus turun ke unsur bawah pusar Mami,,dan kini sudah hingga di kemaluan Mami yang masih tertutup dengan CD-nya. Tercium bau kemaluan Mami yang membuatku semakin bernafsu.

“Waaan,,,”,,kudengar panggilan Mami dengan kedua tangannya masih tetap meremas-remas rambutku.

“Too,,,loong,,buu,,kaa celananya Waaan..!”,,katanya lanjut.

Tanpa menantikan lebih lama,,dan sebab aku hendak melihat format aslinya vagina tersebut seperti bagaimana,,pelan-pelan kutarik turun celana dalam Mami. Ketika aku kendala menarik turun lebih lanjut sebab terdindih pantat Mami. Mami mengusung pantatnya sedikit,,dan dengan gampang CD-nya kulepas.

Kulihat di hadapanku,,vagina Mami yang sekelilingnya ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang halus. Tanpa terdapat yang menyuruh,,lalu kucium dan kujilati di unsur belahan vagina Mami seraya mempraktekkan laksana apa yang kulihat di film tadi,,sedangkan Mami segera menggerakkan pantatnya,,dan kepalaku pulang diremas-remas dan ditekannya. Ketika aku jajaki menjulurkan lidahku menusuk belahan kemaluan Mami,,terasa lidahku terpapar cairan dari dalam vagina Mami yang agak asin,,sedangkan kedua kaki Mami secara perlahan-lahan direnggangkan.

Karena tidak sabar,,kubantu membuka kedua kaki Mami sampai-sampai sekarang kakinya tersingkap lebar,,dan aku sedang di tengah. Dan sebab aku hendak tahu lebih jauh mengenai vagina,,apalagi baru kali ini kulihat dari jarak paling dekat,,maka kugunakan kedua tanganku guna membuka belahan kemaluan Mami. Kulihat dengan jelas di unsur atas ada laksana daging menonjol berbentuk laksana kerucut dan terdapat lubang kecil,,dalam pikiranku barangkali ini yang dinamakan orang klitoris. Sedangkan di unsur dalam vagina Mami,,semuanya berwarna kemerahan dan basah oleh cairan. Agak ke bawah lagi tampak ada unsur yang berlubang sebesar jari kelingking.

Melihat seluruh isi kemaluan Mami,,aku jadi teringat latihan Anatomi yang diajarkan di sekolah. Melihat ini semua,,nafsuku semakin meninggi dan tanpa terdapat yang mengajak lagi dan sebab aku baru saja dapat latihan dengan menyaksikan film blue barusan,,lalu seraya masih memegangi kedua bibir kemaluan Mami,,kujilat dan kuhisap klitoris Mami. Tiba-tiba Mami menggelinjang kuat seraya kedua tangannya meremas rambutku kian kuat dan berguman agak kuat.

“Iwaan,,arrchh,,uuuu.. Waan,,aarcchh,,enaak Waan,,teruu,,ss,,,aarrchh,,aduuh Waan,,enaakk,,teruus..!” kudengar Mami mengoceh terus dan membuatku makin energik menghisap dan menyedot semua bagian kemaluan Mami.

Dari mulai bibir kemaluan,,klitoris,,bagian dalam,,sampai semuanya kutusuk-tusukkan lidahku ke lubang yang terdapat di vagina Mami. Inilah barangkali yang menciptakan gerakan pantat Mami semakin menggila dan terus-terusan mengoceh.

“Aduuh.. Waan,,enaak,,teruuus,,archh,,enak Waan,,aduh.. Waaan.. Mamiii,,mauu.., sampee,,aarchh..!”.

Kedua kaki Mami telah melingkar powerful di atas punggungku,,dan kepalaku ditekannya kuat-kuat ke dalam vaginanya,,sedangkan semua wajahkuku sekarang sarat dengan cairan-cairan yang terbit dari vagina Mami,,tapi tidak kuperdulikan,,habis,,enak sih. Setelah tersebut ocehan Mami berhenti,,dan badan Mami juga terlihat lemas lunglai,,dan yang tersiar hanyalah suara nafasnya yang cepat seperti berakhir lari marathon.

Melihat Mami laksana itu,,aku yakin bila Mami baru saja menjangkau puncaknya. Karena kasihan menyaksikan Mami yang sedang megap-megap kecapaian,,kuhentikan jilatan dan sedotan mulutku ke liang senggama Mami,,dan kuletakkan kepalaku di paha Mami dan kuelus-elus kemaluan Mami sambil menantikan apa yang bakal diminta oleh Mami lagi. Setelah kudengar nafas Mami mulai agak teratur,,kurasakan kedua tangan Mami yang masih memegang kepalaku itu berjuang menarikku ke atas sambil berbicara lirih.

“Iwaan,,kesiniii.. Sayaaang,,!”.

Aku segera merangkak,,menghampiri Mami yang masih tiduran telentang.

Mami seraya menggeser badannya sedikit,,melanjutkan kata-katanya. “Siniii.. Waan,,,tiduran di samping Mami”.

Dengan perasaan tidak cukup enak,,malu dan beda sebagainya,,aku berjuang menenangkan diri dan tiduran di samping Mami. Mami segera merangkulku dan terus menghirup pipiku,,dan terus laksana berbisik di sekitar telingaku.

BandarQ Online – “Waan,,,kamuuu,,kok,,,pintar betul tadi. Iwan telah pernah yaaa,,,sebelumnya..?”.

“Dengan,,pacarmu yaa..?”,,sambung Mami lagi.

“Beel,,uumm.. Maam,,swear”,,kataku cepat,,“Kan,,belajar dari,,film yang Mami putar tadi.”

“Oohh,,berarti Iwan siswa yang cerdas doong”,,puji Mami seraya tetap memelukku dan kembali menghirup pipiku.

Agen togel – Agar Mami agak senang,,kucium pun pipinya,,dan entah bagaimana mulanya,,tahu-tahu bibirku telah dihirup Mami.

Kalau soal ciuman,,kuakui aku memang pernah menghirup pacarku,,jadi saat lidah Mami menjulur masuk ke mulutku,,pelan-pelan kuhisap lidahnya. Mungkin sebab lidahnya kusedot. Mami langsung menjadi ganas dan memelukku erat-erat. Ciumannya semakin hot dan pasti saja aku tidak mau membuat kecewa Mami,,apalagi tangan Mami yang satunya telah mengocok-ngocok penisku,jadi kuimbangi ciuman Mami sambil di antara tanganku kuremas-remaskan ke payudara Mami.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *