<TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI SITUS KAMI DAN JANGAN LUPA DI BAGI KE TEMAN TEMAN LINK KAMI YA
Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR AKUN DISINIAyo Daftar Di Situs Pkv Games BAGIQQ Dengan Minimal Deposit Rp10,000 Dapatkan Juga Bonus Dari Kami Turnover 0,5% Dan Refferal 20%. Di Jamin Mudah Menang Win Rate Tinggi

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Dokter Suka Cabul Pasien

Dokter Suka Cabul Pasien – Ini cerita yang terjadi di desa Kolesabano,,sebuah desa kecil yang agak terpencil. Akses jalanannya tidak laksana di Jakarta telah aspal semuanya,,di sana masih tanah liat dan batu.

Orang-orangnya simpel dan lugu. Kalau pagi mereka tidak jarang kali saling menyapa dan murah senyum. Rasa gotong royong juga masih kental disini.

Mereka bermatapencaharian sebagai petani. Disana terdapat sawah dan ladang. Kebun buah-buahan juga ada tidak sedikit disini. bila mau santap tinggal petik.

Disana tidak terdapat sekolah, orang tidak dapat mengenyam pendiidikan. Jadi bila ada orang pintar disini,,mereka puja laksana dewa. Dr. Satrio ialah seorang dokter umum yang dikirim kesana guna melayani masyarakat disana. Apa yang disebutkan olehnya tentu didengarkan dan dituruti,,misalnya saja seorang dokter. Jangan dokter,,lulusan SD saja mereka posisikan di atas mereka.

Suatu hari di ruang praktek Dr. Sat yang simpel seorang ibu paruh baya sedang berkonsultasi dengannya mengenai situasi buah hatinya,,seorang anak gadis yang berumur kira-2 15 tahun. Cahaya pagi yang menjebol jendela kayu mengindikasikan kekhawatiran di raut wajahnya. Alisnya tak henti-hentinya mengernyit masing-masing kali ia menceritakan suasana anak perempuannya yang menggunakan jilbab warna biru sama laksana yang sedang dikenakannya. Pundak anaknya dipegani laksana seorang ibu yang fobia anaknya bakal lenyap bila dilepas.

“Dok,,anak saya kayaknya tidak cukup sehat sejumlah hari ini”.

“Oh,,gimana kondisinya apakah batuk-batuk?”.

“Ya sedikit,,nafsu makannya berkurang dok”.

Dr. Sat mengangguk-angguk.

“Nama anda siapa,dik?”.

“Putri,,dok”.

“Sudah berapa lamu anda sakit?”.

“3 hari dok,,gak sembuh-sembuh,,dah minum teh manis”.

“Pusing-pusing gak?”.

“Gak,,dok”.

“Sebelumnya ada santap apa,,gak?”

“Makan biasa aja dok”.

“Ada jajan?”.

“Paling gulali”.

“Hmm”.

Dr. Sat terlihat sedang berpkiri guna menganalisa situasi Putri.

“Ya udah anda naik ke ranjang cek yah…dokter periksa”.

“Iya dok”.

Putri berlangsung ke ranjang cek yang tak jauh dari situ,,ia menaiki tangga kecil sampai ia dapat sampai ke atas ranjang dan tiduran.

“Di angkat ya bajunya, biar dokter dapat periksa gunakan stetoskop”.

Putri mengangguk dan unik ke atas bajunya sampai-sampai payudaranya yang masih mengkal kelihatan.

Dr. Sat mulai memakai stetoskopnya dan mengupayakan mendegar detak jantungnya. Stetoskop itu ditaruh di dada dan dipindah-pindahkan di dekat situ. Kadang diletakkan di atas putingnya Putri.

“Dingin dok”,,komentar Putri.

“Tahan dikit ya”.

Saat Dr. Sat mengalihkan stetoskopnya, saat diusung kadang pinggirannya menyenggol ujung puting Putri. Entah sengaja atau tidak,,jari kelingkingnya kadang pun menoel putingnya. Si ibu tidak dapat melihat yang dilaksanakan Dr. Sat karena ia sedang di belakangnya.

Putri menikmati sesuatu yang aneh,,dan pipinya berubah memerah. Tanpa disadari puting coklatnya menjadi mengeras mencuat. Kalau tertoel lagi,,kakinya langsung menjepit seperti menyangga sesuatu di unsur bawah situ.

“MMmm,,untuk pengecekan selanjutnya ibu tunggu di bangku yah,,saya mesti mengerjakan tes”.

“Iya dok”.

Dr. Sat unik gorden yang mengelilingi ranjang periksa. Ibu Putri tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam.

2 menit tidak terdapat apa-apa. Namun sesudah agak lama si ibu mulai mendengar suara-suara mengherankan dari dalam. Seperti anaknya sedang melenguh-lenguh,,”ah,,ahh,,ahhhh”.

Merasakan tanda-tanda buruk ia bangkit menyibak gordennya. Betapa terkejutnya ketika ia menyaksikan CD putrinya telah turun separuh paha dan tangan Dr. Sat telah berada di kemaluan putrinya. Saking kagetnya si ibu hingga tidak dapat bicara apa-apa.

“A,,a,,a”.

“Ibu! apa yang sedang ibu lakukan,,saya berada di tengah pemeriksaan”.

Si ibu tiba-tiba merasa bersalah,,apakah benar ia sedang mengganggu jalannya pengecekan anaknya? Pikiran akal sehatnya laksana sedang terbelah saking syoknya.

“Tunggu disitu yah”.

Lalu si dokter memblokir lagi gordennya.

Tak lama suara lenguhan tersiar lag, “Mmmhh ahh,,ah,,ah”.

Si ibu menjadi ragu-ragu apakah usahakan ia membuka gorden tersebut atau tidak dipedulikan saja. Tapi Lama-kelamaan bukan hanya suara putrinya,,kini ia mendengar suara si dokter, “Mmhh,,shh,,ahh,,yah,,dihisap…biar lekas sembuh”.

Si ibu semakin khawatir. Akhrinya dia sibak lagi gordennya.

Kali kagetnya menjadi-jadi,,sebab burungnya si dokter sudah terbit dari celananya dan terdapat di dalam mulut anaknya.

“Dokter! Dokter,,lagi apa,,?”,,dengan nada agak histeris.

Si ibu tidak meyakini penglihatannya.

“Aduh ibu ini lagi-lagi mengganggu,,”tukas Dr. Sat kesal,,“saya telah analisa,,anak ibu terpapar penyakit Vibilio Facumacis,,obatnya ialah ia mesti dibuat orgasme dan menelan sperma. Kalau ibu ganggu terus,,gak berlalu loh ini. Saya gak tanggung bila penyakitnya meningkat parah”.

“Ii,,iya,,tapi dok”.

“Hhhhhh”,,si dokter menghela nafas panjang seraya geleng-geleng. “Ya telah ibu tolong deh,,ibu colok-colok kemaluan anak ibu untuk membina kekebalan tubuhnya”.

Si ibu terdiam dan ragu-ragu.

“Ayo sini,,bantu saja…gak apa-apa…daripada ganggu terus..gak selesai-selesai”.

“Ii,,iya”.

Si ibu berlangsung mendekati lokasi tidur periksa. Dr. Satrio membelakangi si ibu tersebut lalu ia meraih tangannya dan menempatkan di kemaluan putrinya.

“Nah,,sekarang terbit masukin jarinya di lubangya yah”.

“Iii,,iya dok”.

Si ibu juga mulai memasturbasi anaknya. Putri langsung memejamkan mata dan melenguh-lenguh kecil, “Aah,,ah,,ah”.

Dr Satrietyo tiba-tiba unik ke atas gamis si ibu. Tentu saja perbuatannya menciptakan si ibu kaget.

“Dokter ngapain lagi?!”.

“Ibu pun perlu di bina kekebalannya,,kalau gak penyakit ini bakal menular. Jadi kemaluan ibu pun harus dimainin”.

“Yang bener dok”.

“Ya bener,,siapa disini dokternya?”.

Si ibu kebingungan.

“Ii,,iya”.

“Jangan cemas saya tidak bakal sentuh ibu,,kalau tersebut yang ibu khawatirkan, Putri yang akan tolong prosesnya”.

“Maksudnya?”.

“Putri yang bakal gituin ibu,,ngerti kan”.

“Hah?”.

“Sudah ibu tenang aja,,nurut aja bila mau sembuh yah”.

Dr. Satrio lalu menunduk dan menyerahkan penjelasan untuk Putri.

“Putri agar ibumu gak ketularan anda keluar masukin jari anda di lubangnya ibu yah,,kayak yang diakukan ibu ke kamu,,,ok”

“Iya dok”.

“Pinter”,,ujar Dr. Sat menepuk-nepuk kepala Putri.

Dr. Sat bangkit lagi, “Nah ibu,,siap ya…saya angkat gamisnya yah…biar Putri dapat masturbasiin ibu guna cegah penyakit”.

“II,,iya dok”.

Dr. Sat juga mengankat gamis si ibu sampai seperut dan unik turun CD putihnya. Si ibu menolong memegangi kain gamisnya supaya jangan jatuh. Dr. Sat sempat menelan ludah ketika ia menyaksikan paha si ibu yang semok. Gak kurus,,tapi berisi.

“Nah Putri,,sekarang tangannya yuk”.

Putri mengulurkan tangannya dan menjamah kemaluan ibunya. Jari tengahnnya dimasukkan ke dalam lubang ibunya perlahan,,lalu ditarik lagi.

“UUuhh”.

Si ibu langsung memejamkan matanya dan melenguh keenakan.

“Bu maafin Putri ya,,gara-gara Putri sakit,,ibu dapat ketularan juga”.

Si ibu buru-buru membungkukkan badannya dan membelai kepala putrinya

“Sudah anda gak perlu benak itu,,yang urgen sekarang Putri terbit masukin jari lubang di lubang ibu,,dan ibu colok-colok lubang Putri yah,,biar anda sama-sama sehat”,,ujar si ibu mendinginkan anaknya.

Putri mengangguk tersenyum.

“Nah kini Putri buka mulutnya AAaaa”,,perintah Dr. Sat. Putri menurut.

Dr Satri kembali menunjukkan penisnya ke mulut Putri dan memasukkannya ke dalam.

“Nah,,sekarang kulum batang Dokter ya,,obatnya terdapat di dalamnya harus dikeluarin,,Ok”

“Ngg”,putri mengiyakan dengan mulut yang tersumpal batang Dr. Sat.

Dr Satri kemudian memaju mundurkan pinggulnya,,menikmati batangnya disepong Putri. Ia tarik lagi ke atas bajunya Putri,,agar ia dapat melihat jelas kedua putingnya. Tngan kanannya bergerak,,menjamah dan remas-remas lembut dada Putri. Sesekali ia pelintir-pelintir putingnya.

“Ngghh,,nghh”,,responnya.

Sementara tersebut tangan kirinya dipakai untuk menyangga kepala Putri yang berjilbab supaya ia dapat bersenggama di mulutnya.

Nafas si ibu lama kelamaan pulang menjadi tak beraturan. Gerakan jarinya di lubang putrinya pun pulang menjadi semakin cepat.

“Mmhmhh,,nghhh,,nghh”,,lenguh Putri

Jari Putri pun pun ikut-ikutan menusuk-nusuk vagina ibunya dengan cepat. Jari mungi tersebut kelihatan telah menjadi basah. Cairan jernih ada yang mulai turun mengalir dari lubang vagina si ibu ke pahanya.

“Dok,,remas dada saya pun dok,,plis”,,pinta si ibu

Dr. Sat senang mendengar permintaan si ibu.

“Di buka donk bajunya”.

SI ibu menurut keterangan dari dan mencungkil bajunya dan dijatuhkan ke tanah. Kini ia bertelanjang dada dan melulu mengenakan BH saja. Dr Satri berdecak kagum menyaksikan payudara si ibu yang besar.

“BH-nya…di lepas juga”,,pinta Dr. Sat dengan suara bergetar.

Tanpa beranggapan panjang si ibu mencungkil pengait depan BHnya dan meloloskannya talinya dari pundaknya. Lalu ia jatuhkan ke lantai.

Dr. Sat jadi bernafsu banget ngeliat payudara si ibu yang mantap. Ia juga menangkupnya dari belakang punggung,,melewati bawah tangannya,,serta memainkan buah dada yang kenyal itu.

Putri baru kali ini ngeliat ibunya buka-bukaan laksana itu,,dan baru kesatu ngeliat seorang lelaki cemek-cemek dada ibunya. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup keras. Semuanya serba baru baginya.

Si Ibu juga mulai menggapai buah zakar Dr. Sat dan mengelus-elusnya.

“AAhh…” Dr. Sat menikmati kehangatan di pelernya.

“Ahh,,gak kuat,,ahh,,keluar,,keluar”.

Dr. Sat memegang kepala Putri dengan kedua tangannya dan memaju mundurkan batangnya di mulut Putri. dengan cepat. Daftar sperma tersebut tak lama lagi bakal meledak di rongga mulut gadis mungil ini.

“Ke,,luaaar,,aaahhh ahh”.

CROT CROOT CROTT CROT CRET CRET!

“Ahhh”.

Dr. Sat menikmati kelegaan luar biasa. Lalu ia mencabutnya dari mulut Putri.

“Ditelan yah Putri…itu obatnya”.

Putri mengangguk. Ia teguk cairan Dr. Sat. Otot lehernya terlihat berkontraksi.

“Pinter”.

“Dokter kasih sesuatu buat anda yah”.

“Apa tuh?”.

Dr. Sat mendekatkan wajahnya ke wajah Putri. Keduanya saling memandang. Lalu Dr. Sat menghirup Putri dan menghisap-hisap bibir atas dan bawahnya.

Si ibu membelalak,,melihat Dr. Sat mencumbu putrinya dan Putri tampak menyenangi setiap deitknya.

“Dokter apakah tersebut juga tergolong pengobatannya?”.

Dr. Sat mendirikan tubuhnya.

“Iyah,,sudah tentu dan…sekarang ibu jilat vaginanya Putri,,ya”.

“Lho kenapa?”.

“Iya,,karena saliva ibu dapat menjadi bahan ekstra yang menguatkan kekebalan Putri,,seperti vitamin. Jadi tidak boleh lupa,,nanti seraya dijilat,,juga diludahin tidak banyak yah”.

“Gitu ya dok,,?”

“Iyah”.

Si ibu memandang anaknya dengan sarat kasih sayang.

“Ibu jilat yah,,nak”.

Putri mengangguk.

“Iya,,bu terima kasih ya”.

Si ibu tersenyum dan membelai kepala anaknya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke perangkat kelamin putrinya. Di buka tidak banyak bibir vaginanya,,diludahi kemudian ia mulai menjilat-jilat belahan vaginanya.

“AAhh,,ahhh,,ahh,,enak bu”.

Putri yang sedang keasyikan sudah lupa guna memasturbasi ibunya. Dr. Sat tidak hendak membiarkan lubang vagina si ibu mubazir.

Dr. Sat pun unik turun gamis roknya,,dan ia dapat melihat gundukan yang terpecah dari arah belakang. Ia lalu menunjukkan batangnya ke lubang si ibu. kebetulan posisinya telah siap guna di doggy. Tanpa meminta izin lagi,,ia langsung mendorong masuk batangnya ke dalam lubang si ibu yang telah basah.

“OOhhh…Dr. Satio”,,sebentar ia menyaksikan ke belakang,,kemudian ia mulai menikmati kenikmtan hujaman-hujaman tusukan batang si dokter. “Astaga enaknya,,” Lalu ia lanjut lagi mengoral anaknya di atas ranjang periksa.

Putri yang baru kali ini merasakan rasanya di oral,,tidak dapat menahan cairannya guna keluar.

“Bu…mau pipis”.

“Pipis aja Putri biar anda sehat”.

“Ahh,,ahh,,ahh,,ibu,,duh,,gak tahan lagi….KYA!” Putri menjerit histeris,,saat ia menjangkau orgasme. Kakinya mendorng pantatnya hingga ke udara,,dan vaginanya menyemprotan cairan sampai keluar.

Si ibu buru-buru beralih untuk menyaksikan wajah putrinya.

“Ahh,,ahh,,dah terbit nak?”.

Dia menanyakan suasana Putri selagi sedang disodok sama Dr. Satio dari belakang.

Putri dapat meihat dari dekat,,wajah ibunya yang sedang paling keenakan. Tubuhnya bergerak-gerak maju mundur,,demikian pun buah dadanya.

“Ibu lagi diapain?,,lagi diobati pun yah?”.

“Mmhh ahh ahh,,iya nak”.

“Putri pun mau,,diobati yang laksana ibu”.

Si ibu terkejut mendengar permintaan Putri.

“Putri….Putri masih kecil,,ahh ahh,,ahh,,belum boleh diobati laksana ini”.

Sementara tersebut dari belakang mempercepat memompa tubuh si ibu.

“Ahh,,ahh,,ahh,,ahhh”.

Alis si ibu mengernyit menahan kesenangan yang semakin memuncak.

“Tapi Putri mau,,”,,ucapnya menelan ludah menyaksikan Dr. Satio menyetubuhi ibunya. Walaupun ia belum tahu tersebut namanya.

Di dalam keadan birahi yang sangat,,pikiran si ibu tampaknya semakin tertutup. Bahkan ia mulai merasa birahi terhadap putirnya. Ia menggapai lagi kemaluan Putri. Ia colok-colok lagi dengan satu jari.

Putri agak mengusung kepalanya untuk menyaksikan apa yang ibunya kerjakan di bawah situ. Ia diam saja tidak mempedulikan perbuatan ibunya. Sensai nikmat mulai menjalar dari perangkat kelaminnya. Kemudian dari satu jari berubah jadi dua jari.

“Ohh,,oh,,yeaaahhh”.

Tapi ketika jari ketiga masuk…raut wajah Putri berubah kesakitan.

“Aw sakit bu,,udah,,buat keluarin jarinya,,sakit”.

“Tahan nak…tahan…biar ibu yang ambil keperawanan anda yah”.

Putri bangkit dari tidurnya dan mencoba menarik keluar jari ibunya dari guanya.

“Sakit bu”.

“Tahan nakk,,entar jadi enak lagi”.

Si ibu menidurkan lagi putrinya,,kemudian ia jilat-jilat putingnya supaya ia merasa lebih nyaman.

“Owwh,,shh,,kit”.

Sedikit demi tidak banyak membran keperawanan Ptri juga robek oleh jemari ibunya.

“AAhh sakit”.

Perlahan rasa sakit itu pulang menjadi enak.

“Mmhhh ahh,,ahh,,shh”.

Ketiga jari si ibu juga berbalur darah keperawan Putri dan cairan kewanitaannya.

Tiba-tiba hentakan keras penis Dr. Satio menyentuh batas klimaksnya,,sehingga si ibu kelojotoan menjangkau orgasme.

“Aahhhh,,sampai”.

Ia mendorong Dr. Satio supaya mencabut penisnya dari lubangnya.

“Saya nanggung bu”,,keluh Dr. Sat.

Tanpa menanggapinya,,si ibu mengajak Putri bangun. Putri menuruti perintah ibunya dan ia duduk di pinggir ranjang periksa.

Si ibu berbalik badan dan naik duduk di sebelahnya.

“Putri duduk di pangkuan ibu yuk”.

“Iyah”.

“Lepas tuh CDnya”.

“Iya bu”.

Setelah tersebut Putri beralih posisi duduk di atas paha ibunya. Kedua kakinya berada disisi luar kaki ibunya. Vaginanya jadi agak terbuka. Setelah tersebut ibunya membuka lebar kedua pahanya,,sehingga kedua paha Putri pun turut tersingkap lebar, mendemonstrasikan lubang senggamanya.

“Kamu inginkan diobati Dr. Sat laksana tadi kan?”.

Putri memandang batang Dr. Sat yang mengacung dan gak bergerak-gerak dikit. Ia menunduk,,lalu mengangguk.

Si ibu memandang ke Dr. Sat,,“tolong obati anak saya juga,,dok. Pakai teknik yang tadi”.

Dada Dr. Sat bergemuruh menyaksikan posisi ibu dan anak itu. Mereka berdua masih menggunakan jilbab. Si ibu telah tidak berpakaian,,putri masih menyeluruh berpakaian,,tetapi semuanya telah disibak.

“Eh,,iyah,,sebelumnya kalan berdua ciuman dulu biar saliva kalian bercampur di mulut supaya bakteri kumannya mati. Si ibu merendahkan kepalanya dan Putri mengadahkan kepalanya ke atas menyamping. Bibir mereka bersentuhan,,lalu si ibu melumat bibir putrinya. Ludahnya dialihkan ke mulut Putri,,kemudia dengan lidahnya ia mengaduk-ngaduknya di dalam.

Dr. Satio benar-benar terangsang oleh keduanya,,ia pun menghampiri sambil mengocok titinya. Ia naik ke anak tangga supaya batangnya dapat sejajr dengan lubang Putri. Lalu Blezzzz!

Putri membelalak saat menikmati sebuah benda besar yang panjang menerobos masuk lubang senggamanya.

Ibunya saja merasa Dr. Sat gede banget,,apalagi anaknya.

Dr. Sat tidak dapat leluasa mengeluar masukkan batangnya,,sebab seret banget,,meskipun lubang Putri telah distimulasi semenjak tadi dan basah licin.

Batang Dr. Sat benar-benar tidak dapat masuk penuh,,meskipun sudah berjuang didorong. Dr. Sat hingga menganga mulutnya,,karena jepitannya spektakuler banget. ia yakin pertahannya tidak akan dapat lama dengan suasana seperti ini. Ia juga mulai memajumundurkan pantatnya dan bersetubuh dengan Putri.

“Ahh,,aahh,,shhh,,ahhh”.

Kenikamtan yang sama juga juga dialami Putri. Lubangnya terasa penuh. Setiap sensor di kemaluannya menemukan gesekan sarat dari bendanya Dr. Sat. Apalagi ini empiris kesatunya.

“Dr,,dr,,dr,,praz,,shhh,,ahh”.

Si ibu pun menciptakan anaknya kian gak kuasa menyangga nikmatnya seks. Tangannya meraba-raba dan memainkan buah dadanya. Putri telah benar-benar pasrah ia dapat meraskan gelombang klimaks bentar lagi datang. Sesaat ia berkeinginan mencapai orgasme,,tiba-tiba.

“AKh,,keluar.! Dr. keluar!”.

Putri dapat merasakan cairan panas menyembur di lubangnya. Di saat tersebut juga ia menjangkau orgasme. Srrr,,Sr,,srrr,,srr.

“Dr. Aku pipis lagi”.

“Ya bagus itu”.

Keduanya menjangkau klimaks bersamaan.

Tak berapa lama sesudah itu,,kedua nya berpakaian lagi yang lengkap. Mereka pulang ke meja.

“Ok,,kalian berdua telah diberi obat dan disuntik kekebalan,,kalau masih belum sembuh datang lagi untuk diselenggarakan pemeriksaan”.

“Baik,,dok,,terima kasih ya. Ayo Putri bilang apa ke Dr”.

“Terima kasih dok”.

“Iya…lekas sembuh ya”.

“Ngg!,,iya”.

Ternyata sejumlah hari lantas Putri telah berubah menjadi sehat. Kehebatan penyembuhan Dr. Satrio juga semakin terkenal salah satu para wanita.

Sementara guna si ibu tersebut dan anaknya,,mereka berdua juga jadi tidak jarang mencolok-colok vagina mereka satu sama lain,,untuk menambah kekebalan tubuh mereka dan tetap sehat.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *