<TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI SITUS KAMI DAN JANGAN LUPA DI BAGI KE TEMAN TEMAN LINK KAMI YA
Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR AKUN DISINIAyo Daftar Di Situs Pkv Games BAGIQQ Dengan Minimal Deposit Rp10,000 Dapatkan Juga Bonus Dari Kami Turnover 0,5% Dan Refferal 20%. Di Jamin Mudah Menang Win Rate Tinggi

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Gairah Panas Sepupuku Siswi SMK

Gairah Panas Sepupuku Siswi SMK – Kenalkan, nama saya Boy, teman-teman biasa memanggilku Mas Boy. Saya seorang pemuda berusia 25 tahun dengan tinggi badan 170 cm dan berat 55 kg. Meski umur saya sekarang sudah seperempat abad, tetapi pengetahuan saya dalam dunia percintaan masih paling minim dan belum punya tidak sedikit pengalaman yang pantas dibanggakkan sebagaimana layaknya anak muda jaman sekarang. Sekarang saya sedang bekerja pada suatu perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa.

Jarak kantor tersebut sekitar 5 km dari lokasi tinggal saya. Kini saya bermukim dengan Om saya. Om Rudy keseharian bekerja sebagai Kepala sekolah di suatu SMK Negeri yang lumayan terkenal di kota kami, sedangkan tante saya bekerja sebagai perawat di suatu RS swasta. Kedua anaknya bermukim kost di kota lain sebab mereka tidak inginkan kuliah di kota kami. Sejak kedua anaknya kuliah dan bermukim di kota lain, om dan tante saya melulu tinggal bertiga dengan seorang pembantu.

Sekitar dua bulan lantas Om Rudy menyuruh saya supaya saya tinggal bareng mereka, dengan dalil daripada saya mesti kost di luar, lebih baik saya bermukim di lokasi tinggal om saya saja sebab di rumahnya terdapat kamar yang kosong, kata om Rudy memberi alasan. Sebulan kemudian, tante Rini membawa keponakannya ke rumah. Nama keponakan tante Rini ialah Endang, usianya 15 tahun, ia telah duduk di ruang belajar dua SMKK Negeri. Endang ialah seorang gadis yang cantik, cerdas, rajin dan baik hati pada seluruh orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini pergi menghadiri acara perpisahan siswa ruang belajar II di sekolah lokasi om mengajar.

Ia sempat menyuruh saya, tetapi saya menampik dengan dalil saya agak lelah, kemudian tante Rini menyuruh Endang, tetapi Endang pun menolak dengan dalil Endang lagi terdapat tugas dari sekolah yang mesti ditamatkan malam tersebut juga karena kelak tugas tersebut sudah mesti dikumpulkan. Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak tak sempat berpesan supaya kami berdua berhati-hati, sebab sekarang tidak sedikit maling yang pura-pura datang sebagai tamu, tetapi ternyata sang tamu tiba-tiba merampok setelah menyaksikan situasi yang memungkinkan. Setelah berlalu berpesan, om dan tante juga pergi sambil mengajak saya memblokir pintu.

Sejak kepergian om dan tante, lokasi tinggal jadi hening, kini melulu ada suara TV, tetapi sengaja saya kecilkan volumenya sebab Endang sedang belajar. Saya melulu duduk di ruang depan menyaksikan sebuah sinetron yang ditayangkan di antara stasiun TV swasta. Saya sempat menonton adegan panas seorang pria paruh baya yang sedang asyik berselingkuh dengan seorang gadis yang ternyata rekan sekantornya sendiri. Karena terlampau asyiknya saya nonton TV, sehinggak saya paling kaget saat sebuah tangan menepuk pundak saya. Setelah saya lihat ternyata Endang, ia tersenyum manis sambil unik lenganku dengan manja mengarah ke kamarnya. Saya jadi deg-degan setelah menyaksikan penampilannya, ternyata ia melulu mengenakan celana pendek ketat warna coklat muda dengan kaos orangenya yang super ketat, sehinggak lekuk-lekuk tubuhnya terlihat begitu jelas.

Poker Online Terpercaya – Sejenak saya terpana menyaksikan tubuhnya yang hampir sempurna. Saya amati pinggangnya laksana gitar spanyol dengan paha yang kencang, mulus, dan bersih. Selain tersebut juga terlihat buah dadanya paling menantang. Sepertinya ukuran BH-nya 34B. Pemandangan tersebut sempat mengundang benak jahat saya. Bagaimana rasanya bila saya merasakan tubuhnya yang hampir sempurna itu. Namun saya berjuang menyingkirkan pikiran tersebut karena saya pikir bahwa dia ialah sepupu ipar saya, bermukim serumah dengan saya dan saya juga memandangnya sudah laksana adik kandung saya sendiri.

“Ada apa sih? Kok anda mengajak saya masuk ke kamar kamu?” kataku agak bingung sambil berjuang melepaskan tangan saya.

Sebenarnya bukan sebab saya menampik tetapi melulu karena grogi saja. Maklum saya belum pernah masuk ke kamar Endang sebelumnya.

“Kak, Endang mau mohon tolong nih!” katanya seraya menatapku manja.

“Kakak inginkan nggak menolong saya menuntaskan tugas ini, soalnya kelak sudah mesti dikumpul.” kata dia separuh merengek.

“Oh, maksudnya anda mau mohon tolong supaya saya membantu anda mengerjakan tugas itu? Okelah. Saya bakal membantumu dengan senang hati, saya kan telah berjanji untuk tidak jarang kali menolongmu.” kataku mantap.

“Asyik, makasih ya kak.” kata Endang seraya menciumku.

Kontan saya merasa tersengat aliran listrik sebab meskipun umur telah 25 tahun, saya belum pernah mendapat ciuman seperti tersebut dari seorang gadis, lagipula ciuman tersebut datangnya dari gadis secantik Endang.

Saya juga segera membantunya seraya sesekali menculik padang padanya, tetapi sepertinya ia tidak menyadari bila saya memperhatikanya. Setelah kami menggarap tugas tersebut sekitar 30 menit, tiba-tiba Endang berhenti menggarap tugas itu. Ia mengeluh seraya memegangi keningnya.

“Kak, Endang pusing nih, boleh nggak kakak pijitin kepala Endang?” katanya seraya merapatkan badannya ke dada saya.

Sempat saya menikmati gesekan dari payudaranya yang lumayan kencang tetapi terasa lembut.

“Emang mengapa kok Endang tiba-tiba pusing?” tanya saya agak heran.

“Ayo kak, bantu pijatin dong, kepala Endang pening!”

“Oke, dengan senang hati lagi.” kataku sarat antusias.

Saya kemudian mulai menekan-nekan keningnya dengan tangan kiri saya dan tangan kanan. Saya menyangga lehernya supaya badannya tidak bergoyang. Sesekali saya pun mengelus pundaknya yang putih bersih.

“Kak, belakang leher Endang pun kak, soalnya leher Endang agak kaku nih.” katanya sambil membimbing tangan saya pada lehernya. Setelah saya memijatnya selama lima menit, ia kemudian berdiri sambil unik tangan saya.

“Kak, Endang baring di ranjang aja ya? Biar pijitnya gampang.”

“Terserah Endang ajalah.” kata saya seraya mengikutinya dari belakang.

Lagi-lagi saya terkesima menyaksikan pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia kemudian berbaring telungkup di atas ranjang sambil mengajak saya memijat leher dan punggungnya. Sesekali saya menyaksikan dia menggerakkan tubuhnya, entah sebab sakit atau sebab geli. Saya tidak tahu pasti, yang jelas saya pun sangat senang memijat punggungnya yang paling seksi. Entah sebab gerah atau bagaimana, tiba-tiba saja ia bangun.

“Kak, Endang buka baju saja ya? Sekalian gunakan balsem biar cepat sembuh.”

“Mungkin Endang masuk angin.” katanya sambil mencungkil kaosnya, kemudian kembali berbaring di depan saya.

Saya terkesima menyaksikan kulit tubuhnya yang kuning langsat. Dalam hati saya berpikir betapa bahagianya saya bila kelak memiliki istri secantik Endang. Saya terus memijatnya dengan lembut. Sesekali saya memutar-mutar jari-jari saya di ambang rusuknya. Setiap saya meraba sisi rusuknya, ia kontan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang pun pinggulnya ditarik. Maklum, ia belum terbiasa disentuh laki-laki. Saya pun sudah mulai menikmati penis saya mulai bergerak-gerak dan sekarang sudah semakin tegang. Tiba-tiba ia mengembalikan tubuhnya menghadap ke arah saya.

“Kak, Endang buka aja BH-nya ya kak? Soalnya gerah nih.” “Terserah Endang lah.” kata saya.

Agen BandarQ Online Terpercaya – Kini kami saling berhadap-hadapan, ia berbaring menatap ke arah pandangan saya dan saya berlutut di samping kanannya. Dia melulu tersenyum manja, saya pun menjawab senyumanya, nafas saya telah mulai tidak menentu. Sepertinya nafas Endang pun sudah mulai tidak terkendali, saya menyaksikan bukitnya yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu sekarang sudah mulai turun naik. Saya sempat grogi dibuatnya, bagaimana tidak, sekitar ini saya belum pernah menyaksikan pemandangan seindah ini.

Di depan saya sekarang tergeletak seorang gadis yang tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang menciptakan batang kejantanan saya telah berdenyut-denyut. Seakan-akan penis saya inginkan lompat menerjang tubuh Endang yang tergeletak mengeliat-geliat, sungguh darah muda saya mulai berdesir kencang. Kini saya mulai menikmati detak jantung saya telah tidak beraturan lagi.

“Kenapa kak?” katanya seraya tersenyum manja.

“Nggak, nggak papa kok.” kata saya agak grogi.

“Sudahlah, mari Kak pijatnya yang agak keras dikit.”

“Iya, iya” jawab saya.

Saya kemudian mulai mengelus-elus perutnya yang putih bersih itu, tanpa sengaja saya menyenggol gundukan di dadanya.

“Ahh..” katanya seraya menggeliatkan tubuhnya. Saya dengan cepat mengalihkan tangan, namun ia pulang menariknya

“Tidak apa-apa kak, terusin saja.” katanya.

Wah, benar-benar malam ini ialah malam yang paling menyenangkan untuk saya sebab tidak pernah terbersit di dalam benak saya bakal mendapat peluang seperti ini. Kesempatan guna mengelus-elus tubuh Endang yang paling merangsang.

“Saya jangan melewatkan peluang sebaik ini,” kata saya dalam hati.

Kini Endang semakin menikmati sentuhan jari-jari saya, saya menyaksikan dari desahan nafasnya dan dari tubuhnya yang telah mulai hangat. Entah setan apa yang menciptakan Endang tak sempat diri, dia tiba-tiba unik wajah saya, kemudian mengusapnya dengan jari-jarinya yang lembut dan mulai menghirup dan menggigit bibir saya. Saya melulu pasrah dan terus cerah saya pun sebenarnya paling menginginkanya, tetapi selama ini saya pendam saja sebab saya menghargainya dan memandangnya sebagai adik sendiri.

Tetapi ketika ini pikiran tersebut telah sirna dari kepala saya yang dialiri oleh gelora darah muda saya yang menggelora. Ia terus menghirup saya dan sekarang ia mencungkil kaos yang saya gunakan lalu membuangnya di samping ranjang.

“Endang, terdapat apa ini?” tanya saya separuh tidak percaya dengan apa yang sedang ia lakukan.

Tetapi ia tidak memperdulikan ucapan-ucapan saya lagi. Melihat gelagat Endang yang telah di luar batas kendali itu, saya juga tidak mau bermukim diam. Saya mulai menjawab ciumannya, melumat bibirnya dan menghisap lehernya yang putih bersih. Saya menikmati penis saya semakin keras dan berdenyut-denyut. Endang terus menghirup bibir saya dengan nafas tersengal-sengal. Saya juga tidak inginkan kalah, saya mulai meremas-remas payudaranya yang masih kencang dan menantang. Kini saya mulai mengisap pucuknya.

“Achh..” ia menggeliat.

Saya menyaksikan Endang semakin merasakan perbuatannya. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seraya mendesah nikmat. Endang menyaksikan penis sudah menaikkan celana pendek saya, ia kemudian menyelipkan tangannya ke dalam CD saya dan ia sekarang sudah menggenggam penis saya yang berdiri tegak dengan otot-otot yang berwarna kebiruan. Ia lalu unik celana pendek dan CD saya dan lantas melemparkannya ke lantai. Ia kembali menciduk penis saya dan mengocoknya dengan jari-jarinya yang lembut.

“Aachh.. achh..” benar-benar nikmat rasanya. Saya menikmati penis saya semakin tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan kepunyaan saya yang telah berdenyut-denyut dan mulai menerbitkan cairan bening.

Saya juga tidak inginkan ketinggalan. Saya kemudian menyelipkan jari-jari saya ke selangkangannya. Saya menikmati lubang kemaluannya telah hangat dan sudah paling basah dengan cairan warna jernih mengkilat. Rupanya ia telah benar-benar paling terangsang dengan permainan kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal, saya kemudian melorotkan celana Endang kemudian meremas-remas pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

Saya tidak mampu lagi menyangga nafsu saya yang telah naik ke ubun-ubun saya. Dengan sekali tarik, saya sukses melepaskan CD-nya Endang. Kini ia benar-benar bugil. Saya sejenak terpana menonton tubuhnya yang sekarang tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan format badan yang paling seksi sungguh hampir sempurna. Saya benar-benar tidak tahan menyaksikan vaginanya yang ditumbuhi rambut tipis dan halus dengan bentuknya yang mungil berwarna coklat agak kemerah-merahan.

Kembali penis saya berdenyut-denyut, seakan meronta-ronta hendak menerjang lubang nikmat Endang yang masih terkatup rapat. Saya paling gemas menyaksikan liang kemaluannya dan sekarang saya mulai mengusap-usap bibirnya dan meremas klitorisnya. Lubang nikmat Endang sudah paling basah. Saya menyaksikan Endang semakin terlelap dalam nafsunya. Ia melulu mengerang nikmat.

“Achh.. achh.. ohh.. ohh..” Saya terus menjilat klitorisnya. Ia melulu mendesah,

“Achh.. achh..” seraya menarik-narik pinggulnya.

“Kak, mari masukin kak!” sambil unik penis saya mengarah ke bibir kemaluannya.

“Oke sayang,” kemudian saya membuka kakinya.

Kemudian saya melipat kakinya dan menyuruhnya agar ia membuka pahanya agak lebar. Saya lalu unik pantat saya dan merapatkan pada selangkangannya. Ia dengan tangkas meraih batang kemaluan saya kemudian menempelkannya di bibir kemaluannya yang masih paling rapat tetapi sudah basah dengan cairan lendirnya.

“Pelan-pelan ya kak, Endang belum biasa.”

“Iya sayang,” kata saya seraya mengecup bibirnya yang merekah basah. Saya lantas mendorongnya pelan-pelan.

“Achh.. sakit kak.”

“Tahan sayang.”

Saya kemudian kembali mendorongnya pelan-pelan dan sekarang batang saya sudah dapat masuk setengahnya. Endang melulu menggeliat dan menggigit bibirnya. Saya terus mendorongnya sambil mendekap tubuhnya. Sesekali saya menyentaknya agak keras.

“Achhkk.. sakit kak, pelan-pelan donk!” memang vaginanya masih paling rapat, maklum ia masih perawan.

“Tahan ya sayang,” saya mengupayakan menenangkannya seraya memegang pinggulnya erat-erat.

“Akk..” Endang meringis keras. Ia memukul dada saya dengan keras sambil unik pantatnya.

“Sakit kak, sakitt..”

Saya menikmati batang kejantanan saya menjebol sesuatu yang kenyal dalam lubang kesenangan Endang. Rupanya batang saya telah sukses menembus selaput daranya. Dari liang sorga Endang terlihat mengalir darah segar.

Poker Online – Saya terus menggoyang-goyangkan pinggul maju mundur seraya menciumi bibirnya dan meremas-remas gunungnya yang paling menantang itu. Sesekali saya menyaksikan dia merapatkan kedua pahanya seraya mengigit bibirnya. Benar-benar kepunyaan Endang sungguh nikmat, saya menikmati vaginanya semakin basah dan licin, tetapi tetap saya menikmati kejantanan saya terjepit dan kadang laksana dihisap oleh vaginanya Endang. Kini saya menikmati batang kemaluan saya telah berdenyut-denyut sepertinya hendak memuntahkan sesuatu, tetapi saya tetap menahannya dengan meminimalisir irama permainan saya.

“Terus kak, terus..” ia menggeliat.

Saya menyaksikan kedua kakinya mengejang. Gerakan saya pulang saya pacu, menciptakan payudaranya agak bergoyang dan kelihatannya semakin membesar berwarna kemerah-merahan.

“Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat kak.” seraya menggeliat.

Ia merapatkan pahanya. Dia mulai menggerak-gerakkan tangannya menggali pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan mengusung kedua kakinya. Sambil menggigit bibirnya, ia memejamkan matanya. Saya merasakan bila kini badannya telah kaku dan hangat. Akhirnya Endang memelukku erat-erat dan mengusung pantatnya seraya berteriak.

“Achhkk..” Saya menikmati badannya bergetar dan kelihatannya ada sesuatu yang hangat menyentuh batang kejantanan saya, rupanya Endang telah orgasme.

Saya semakin tidak kuat menyangga denyutan dari buah kejantanan saya, dampak kenikmatan yang diserahkan Endang paling luar biasa, batang saya semakin berdenyut-denyut dan sekarang saya benar-benar tidak mampu lagi menahannya. Lalu saya mempercepat gerakan saya dan mendorong penis saya lebih dalam lagi sambil unik tubuh Endang dengan erat ke dalam pelukan saya.

Saya merasakan kesenangan yang paling dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan semua tubuh saya mulai dari ubun-ubun hingga ujung kaki saya.

Akhirnya, “Srett.. srett.. srett..” Kejantanan saya menerbitkan cairan hangat dalam lubang kemaluan Endang.

Saya sempat bingung dan takut sebab telah merasakan tubuh Endang secara tidak sah. Namun rasa nikmat tersebut lebih dahsyat sampai-sampai pikiran tersebut segera sirna. Saya melulu tersenyum kemudian mengecup bibir Endang dan menyampaikan terima kasih pada Endang. Tampak tubuh Endang basah dengan keringatnya namun terlihat wajahnya berseri-seri sebab puas. Endang melulu merapatkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Ketika saya menarik keluar batang kejantanan saya dari vaginanya ia melulu tersenyum saja. Astaga, saya menyaksikan di sprey Endang ada bercak darah. Tetapi segera Endang bangun dan mendinginkan saya.

”Tenang mas,,nanti saya cuci, tak bakal ada yang mengetahuinya”.

katanya sambil menempatkan jarinya di kedua bibir saya. Kami berdua lalu mengarah ke ke kamar mandi. Di situ kami masih sempat melakukannya sekali lagi, kemudian akhirnya kami pulang mandi dan pulang ke kamarnya Endang. Setelah saya memungut baju dan celana,,saya pun mengarah ke ruang tamu. Tidak lama lantas keluarlah Endang dari kamarnya lalu menyuruh saya santap malam berdua. Katanya, ia sengaja duluan makan sebab tidak hendak bertemu dengan om dan tante malam ini. Mungkin Endang malu dan takut bila perbuatan kami ketahuan. Setelah makan, ia pulang ke kamarnya. Entah ia istirahat atau belajar, saya tidak tahu pasti.

Tidak lama kemudian, om dan tante datang. Mereka menceritakan suasana pesta tersebut yang katanya lumayan ramai dibanding tahun lalu sebab tahun ini muridnya lulus 100 persen dengan nilai tertinggi di kota kami. Om menanyakan Endang, namun saya katakan barangkali ia telah tidur karena tadi setelah santap ia sempat mengatakan untuk saya bahwa ia agak lelah. Om melulu mengangguk lalu mengarah ke kamarnya, katanya ia pun sudah santap dan sekarang ia pun hendak istirahat.

Togel4D.bid – Saya tersenyum puas dan kembali menyaksikan sebentar, kemudian masuk kamar saya. Di dalam kamar, saya tidak dapat tidur menginginkan kejadian yang baru saja terjadi sejumlah jam yang lalu. Malam ini saya paling senang sebab telah menikmati sesuatu yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya dan empiris yang paling manis ini pasti tidak bakal pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *