Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Ngentot Dua Suster Yang Merawatku

Ngentot Dua Suster Yang Merawatku – Peristiwa ini terjadi mula April 1990 yang kemudian pada masa-masa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang mewabah. Nah,,waktu tersebut aku pun terkena penyakit DBD tersebut.Pagi itu,,setelah bangun tidur,,aku merasa pusing sekali,,suhu tubuh tinggi dan pegal-pegal di sekujur tubuh.

Padahal kemarin siangnya,,aku masih dapat mengemudikan mobilku laksana biasa,,tanpa terdapat gangguan apa-apa. Keesokan sorenya,,karena situasi tubuhku semakin memburuk,,akhirnya aku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah lokasi tinggal sakit familiar di Jakarta. Ketika aku cek darah di laboratorium klinik di lokasi tinggal sakit tersebut,,ternyata hasilnya trombosit-ku turun jauh menjadi nyaris separuh trombosit yang normal. Akhirnya sebab aku tidak inginkan menanggung resiko,,sore tersebut juga aku darurat harus rawat inap alias diopname di lokasi tinggal sakit tersebut.

Aku mendapat kamar di ruang belajar satu. Itu juga satu-satunya kamar yang masih terdapat di lokasi tinggal sakit tersebut. Kamar-kamar lainnya sudah sarat terisi pasien, yang mayoritas di antaranya pun menderita DBD sepertiku. Di kamar itu,,ada dua lokasi tidur,,satu milikku dan satunya lagi guna seorang pasien lagi,,tentu saja cowok pun dong. Kalau cewek sih akan jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-ngobrol aku dengannya,,ketahuan bahwa dia sakit fenomena tifus.

REDMIQQ – Akhirnya,,aku menguras malam tersebut berbaring di lokasi tinggal sakit. Perasaanku jenuh sekali. Padahal aku baru sejumlah jam saja di situ. Tapi untung saja,,teman sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi tidak terasa,,tahu-tahu jam sudah mengindikasikan pukul sebelas malam. Di samping mata telah mengantuk,,juga kami berdua ditegur oleh seorang suster dan dinasehati agar istirahat. Aku dan rekan baruku tersebut tidur.

Saking nyenyaknya aku tidur,,aku terkejut pada saat dibangkitkan oleh seorang suster. Gila! Suster yang satu ini cantik sekali,,sekalipun tubuhnya tidak banyak gempal namun kencang. Aku tidak percaya bila yang di depanku tersebut suster. Aku langsung mengucek-ngucek mataku. Ih,,benar! aku tak bermimpi! aku sempat menyimak name tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu membusung,,namanya Vika (bukan nama sebenarnya).

“Mas,,sudah pagi. Sudah waktunya bangun”,,kata Suster Vika.

“Nggg”,,dengan tidak banyak rasa segan kesudahannya aku bangun pun sekalipun mata masih terasa berat.

“Sekarang telah tiba saatnya mandi,,mas”,,kata Suster Vika lagi.

“Oh ya. Suster,,saya pinjam handuknya deh. Saya inginkan mandi di kamar mandi”.

“Lho,,kan Mas sedangkan belum boleh bangun dulu dari lokasi tidur sama dokter”.

“Jadi?”.

“Jadi Mas saya yang mandiin”.

Dimandiin? Wah,,asyik pun kayaknya sih. Terakhir aku dimandikan masa-masa aku masih kecil oleh mamaku.

Setelah memblokir tirai putih yang mengelilingi lokasi tidurku,,suster Vika menyiapkan dua buah baskom plastik mengandung air hangat. Kemudian terdapat lagi gelas plastik mengandung air hangat pula guna gosok gigi dan suatu mangkok plastik kecil sebagai lokasi pembuangannya. Pertama-tama kali,,suster yang cantik tersebut memintaku gosok gigi terlebih dahulu. “Oke,,sekarang Mas buka kaosnya dan berbaring deh”,,kata Suster Vika lagi seraya membantuku mencungkil kaos yang kupakai tanpa mengganggu selang infus yang dihubungkan ke pergelangan tanganku. Lalu aku berbaring di lokasi tidur. Suster Vika melangsungkan selembar handuk di atas pahaku.

Dengan semacam sarung tangan yang tercipta dari bahan handuk,,suster Vika mulai menyabuni tubuhku dengan sabun yang kubawa dari rumah. Ah,,terasa sebuah perasaan mengherankan menjalari tubuhku ketika tangannya yang lembut tengah menyabuni dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai turun ke perutku,,aku menikmati gerakan di selangkanganku. Astaga! Ternyata batang kemaluanku menegang! Aku telah takut saja kalau-kalau Suster Vika menyaksikan hal ini. Uh,,untung saja,,tampaknya dia tidak mengetahuinya. Rupanya aku mulai terangsang sebab sapuan tangan Suster Vika yang masih menyabuni perutku. Kemudian aku dimintanya berbalik badan,,lalu Suster Vika mulai menyabuni punggungku,,membuat kemaluanku semakin mengeras. Akhirnya,,siksaan (atau kenikmatan) tersebut pun usai sudah. Suster Vika mengeringkan tubuhku dengan handuk sesudah sebelumnya mencuci sabun yang menyelimuti tubuhku tersebut dengan air hangat.

“Nah,,sekarang jajaki Mas buka celananya. Saya inginkan mandiin kaki Mas”.

“Tapi,,suster”,,aku mengupayakan membantahnya.

“Celaka”,,pikirku.

Kalau hingga celanaku dimulai terus Suster Vika menyaksikan tegangnya batang kemaluanku, mau diletakkan di mana wajahku ini.

“Nggak apa-apa kok,,mas. Jangan malu-malu. Saya telah biasa mandiin pasien. Nggak laki-laki,,nggak perempuan,,semuanya”.

Akhirnya dengan ditutupi melulu selembar handuk di selangkanganku,,aku mencungkil celana pendek dan celana dalamku. Ini menciptakan batang kemaluanku terlihat semakin menonjol di balik handuk tersebut. Kacau,,aku menyaksikan perubahan di wajah Suster Vika menyaksikan tonjolan itu. Wajahku jadi memerah dibuatnya. Suster Vika sepertinya sejenak tertegun menonton ketegangan batang kemaluanku yang semakin lama semakin parah. Aku menjadi meningkat salah tingkah,,sampai Suster Vika kembali bakal menyabuni tubuhku unsur bawah.

Suster Vika menelusupkan tangannya yang menggunakan sarung tangan berlumuran sabun ke balik handuk yang menutupi selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni unsur bawah perutku dan sekeliling kemaluanku. Tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menyenggol batang kemaluanku yang langsung saja meningkat berdiri mengeras. Sekonyong-konyong tangan Suster Vika memegang kemaluanku lumayan kencang. Kulihat senyum penuh makna di wajahnya.

Aku mulai menggerinjal-gerinjal ketika Suster Vika mulai menggesek-gesekkan tangannya yang halus naik turun di sekujur batang kejantananku. Makin lama kian cepat. Sementara mataku membelalak laksana kerasukan setan. Batang kemaluanku yang memang berukuran lumayan panjang dan lumayan besar diameternya masih dipermainkan Suster Vika dengan tangannya.

Akibat nafsu yang mulai menggerayangiku,,tanganku menggapai-gapai ke arah dada Suster Vika. Seperti memahami apa maksudku,,suster Vika mendekatkan dadanya ke tanganku. Ouh,,terasa nikmatnya tanganku meremas-remas payudara Suster Vika yang lembut dan kenyal itu. Memang,,payudaranya berukuran kecil,,kutaksir melulu 32. Tapi memang yang namanya payudara wanita,,bagaimanapun kecilnya,,tetap membangunkan nafsu birahi siapa saja yang menjamahnya. Sementara tersebut Suster Vika dengan tubuh yang tidak banyak bergetar sebab remasan-remasan tanganku pada payudaranya,,masih asyik mengocok-ngocok kemaluanku. Sampai kesudahannya aku menikmati sudah nyaris mencapai klimaks. Air maniku,,kurasakan sudah nyaris tersembur terbit dari dalam kemaluanku. Tapi dengan sengaja,,suster Vika menghentikan permainannya. Aku unik nafas,,sedikit jengkel dampak klimaksku yang menjadi tertunda. Namun Suster Vika justeru tersenyum manis. Ini tidak banyak menghilangkan kedongkolanku itu.

Tahu-tahu,,ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku,,membuat batang kemaluanku yang telah tinggi menjulang tersebut terpampang dengan bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Tak lama kemudian,,batang kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika. Mulutnya yang mungil tersebut seperti karet dapat mengulum nyaris seluruh batang kemaluanku,,membuatku seolah-olah terlempar ke langit ketujuh merasakan kesenangan yang tiada taranya. Dengan ganasnya,,mulut Suster Vika menyedoti kemaluanku,,seakan-akan hendak menelan berakhir seluruh isi kemaluanku tersebut. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan suster nan rupawan tersebut masih menyedot dan menghisap perangkat vitalku tersebut.

Belum puas di situ, Suster Vika mulai menaik-turunkan kepalanya,,membuat kemaluanku nyaris keluar setengahnya dari dalam mulutnya,,tetapi lantas masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan meningkat cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan kemaluanku dengan dinding mulut Suster Vika membuatku nyaris mencapai klimaks guna kedua kalinya. Apalagi diperbanyak dengan permainan mulut Suster Vika yang semakin meningkat ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah. Namun sekali lagi,,suster Vika berhenti lagi seraya tersenyum. Aku melulu keheranan,,menduga-duga,,apa yang bakal dilakukannya.

Aku terkejut saat melihat Suster Vika kelihatannya akan berlangsung menjauhi lokasi tidurku. Tetapi laksana sedang menggoda,,ia menoleh ke arahku. Ia unik ujung rok perawatnya ke atas lalu mencungkil celana dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua gumpalan pantatnya yang tidak begitu besar tetapi membulat mulut dan kencang,,membuatku menelan air liur. Kemudian ia mengembalikan tubuhnya menghadapku. Di bawah perutnya yang kencang,,tanpa lipatan-lipatan lemak sedikitpun,,walaupun tubuhnya agak gempal,,kulihat liang kemaluannya yang masih sempit dikelilingi bulu-bulu halus yang lumayan lebat dan terlihat menyegarkan.

Tidak kusangka-sangka,,tiba-tiba Suster Vika naik ke atas lokasi tidur dan berjongkok mengangkangi selangkanganku. Lalu tangannya pulang memegang batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah liang kemaluannya. Setelah merasa pas,,ia menurunkan pantatnya,,sehingga batang kemaluanku amblas hingga pangkal ke dalam liang kemaluannya. Mula-mula tidak banyak tersendat-sendat sebab begitu sempitnya liang kesenangan Suster Vika. Tapi seiring dengan cairan jernih yang semakin tidak sedikit membasahi dinding lubang kemaluan tersebut,,batang kemaluanku menjadi gampang masuk seluruh ke dalamnya.

Tanganku mulai membuka kancing baju Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang dikenakannya,,menyembullah terbit payudaranya yang kecil namun membulat tersebut dengan puting susunya yang lumayan tinggi dan mengeras. Dengan senangnya,,aku meremas-remas payudaranya yang kenyal. Puting susunya juga tak ketinggalan kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal sebentar-sebentar ketika jempol dan jari telunjukku memuntir-muntir serta mencubit-cubit puting susunya yang begitu menggiurkan.

Dibarengi dengan gerakan memutar,,suster Vika menaik-turunkan pantatnya yang ramping tersebut di atas selangkanganku. Batang kemaluanku masuk terbit dengan nikmatnya di dalam lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut dan meningkat basah itu. Batang kemaluanku diapit oleh dinding kemaluan Suster Vika yang terus tidak mempedulikan batang kemaluanku dengan tempo yang semakin cepat menghujam ke dalamnya. Bertambah cepat meningkat nikmatnya gesekan-gesekan yang terjadi. Akhirnya guna ketiga kalinya aku sudah mengarah ke klimaks sebentar lagi. Aku sedikit cemas kalau-kalau klimaksku tersebut tertunda lagi.

Akan namun kali ini,,kelihatannya Suster Vika tidak inginkan membuatku kecewa. Begitu menikmati kemaluanku mulai berdenyut-denyut kencang,,secepat kilat ia mencungkil batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya dan pindah ke dalam mulutnya. Klimaksku meningkat cepat datangnya sebab kuluman-kuluman mulut sang suster cantik yang begitu buasnya. Dan,“crot,,crot,,crot”,,beberapa kali air maniku muncrat di dalam mulut Suster Vika dan beberapa melelehi buah zakarku. Seperti orang kehausan,,suster Vika menelan nyaris semua cairan kenikmatanku,,lalu menjilati sisanya yang belepotan di dekat kemaluanku hingga bersih.

Tiba-tiba tirai tersibak. Aku dan Suster Vika menoleh kaget. Suster Mimi yang tadi memandikan rekan sekamarku masuk ke dalam. Ia sejenak melongo menyaksikan apa yang kami kerjakan berdua. Namun sebentar lantas tampaknya ia menjadi maklum atas apa yang terjadi dan justeru menghampiri lokasi tidurku. Dengan raut wajah memohon,,ia memandangi Suster Vika. Suster Vika paham apa niat Suster Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas lokasi tidur dan memblokir tirai kembali.

Suster Mimi yang berwajah manis,,meskipun tidak secantik Suster Vika,,sekarang gantian menjilati semua permukaan batang kemaluanku. Kemudian,,batang kemaluanku yang telah mulai tegang pulang disergap mulutnya. Bagi kedua kalinya,,batang kemaluanku yang kelihatan menantang masing-masing wanita yang melihatnya,,menjadi korban lumatan. Kali ini mulut Suster Mimi yang tak kalah ganasnya dengan Suster Vika,,mulai menyedot-nyedot kemaluanku. Sementara jari telunjuknya disodokkan satu ruas ke dalam lubang anusku. Sedikit sakit memang,,tapi aduhai nikmatnya.

Merasa puas dengan lahapannya pada kemaluanku. Suster Mimi pulang berdiri. Tangannya membukai satu-persatu kancing baju perawat yang dikenakannya,,sehingga ia tinggal menggunakan bra dan celana dalamnya. Aku tidak menyangka,,suster Mimi yang bertubuh ramping tersebut mempunyai payudara yang jauh lebih banyak daripada kepunyaan Suster Vika,,sekitar 36 ukurannya. Payudara yang sedemikian montoknya tersebut seakan-akan inginkan melompat terbit dari dalam bra-nya yang bermodel konvensional itu. Sekalipun bukan tergolong payudara terbesar yang pernah kulihat,,tapi payudara Suster Mimi tersebut menurutku tergolong payudara yang sangat indah. Menyadari aku yang terus melotot memandangi payudaranya,,suster Mimi membuka tali pengikat bra-nya. Benar,,payudaranya yang besar menjuntai montok di dadanya yang putih dan mulus. Rasa-rasanya hendak aku merasakan payudara itu.

Tetapi tampaknya keinginan tersebut tidak terkabul. Setelah melepas celana dalamnya, laksana yang telah dilaksanakan oleh Suster Vika,,suster Mimi,,dengan telanjang bulat naik ke atas lokasi tidurku lalu menunjukkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya yang tidak banyak lebih lebar dari Suster Vika tetapi mempunyai bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Akhirnya guna kedua kalinya batang kemaluanku terbenam ke dalam kemaluan wanita. Memang,,batang kemaluanku lebih leluasa menginjak liang kemaluan Suster Mimi daripada kemaluan Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika,,suster Mimi pun mulai menaik-turunkan pantatnya dan menciptakan kemaluanku sempat mencelat terbit dari dalam liang kemaluannya tetapi langsung dimasukkannya lagi.

Tak tahan menganggur,,mulut Suster Vika mulai merambah payudara teman kerjanya. Lidahnya yang menjulur-julur laksana lidah ular menjilati kedua puting susu Suster Mimi yang walaupun tinggi mengeras namun tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku melihat,,suster Mimi memejamkan matanya,,menikmati senggama yang serasa membawanya terbang ke awang-awang. Ia sedang meresapi kesenangan yang datang dari dua arah. Dari bawah,,dari kemaluannya yang terus-menerus masih dihujam batang kemaluanku,,dan dari unsur atas,,dari payudaranya yang pun masih asyik dilumat mulut temannya.

Tiba-tiba tirai tersibak lagi. Namun ketiga makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu birahi yang amat membulak-bulak tidak mengindahkannya. Ternyata yang masuk ialah teman sekamarku dengan suasana bugil. Karena ia merasa terangsang juga,,ia kelihatannya melupakan fenomena tifus yang dideritanya. Setelah memblokir tirai,,ia mendekat Suster Vika dari belakang. Suster Vika tidak banyak terhenyak ke depan sewaktu kemaluannya yang dari tadi tersingkap lebar ditusuk batang kejantanan rekan sekamarku dari belakang,,dan ia mencungkil mulutnya dari payudara Suster Mimi. Kemudian dengan entengnya,,sambil terus menyetubuhi Suster Vika,,teman sekamarku tersebut mengusung tubuh suster bahenol tersebut ke luar tirai dan pergi ke lokasi tidurnya sendiri. Sejak saat tersebut aku tidak memahami lagi apa yang terjadi antara dia dengan Suster Vika. Yang kudengar hanyalah desahan-desahan dan suara nafas yang megap-megap dari dua insan berbeda jenis dari balik tirai,,di sampingku sendiri masih terbenam dalam kesenangan permainan seks-ku dengan Suster Mimi.

Batang kemaluanku masih menjelajahi dengan bebasnya di dalam lubang kemaluan Suster Mimi yang semakin cepat memutar-mutar dan menggerak-gerakan pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama kemudian,,kami berdua mengejang.

“Suster,,saya inginkan keluar”,,kataku terengah-engah.

“Ah,,Keluarin di dalam,,saja.,,mas”,,jawab Suster Mimi.

Akhirnya dengan gerinjalan keras,,air maniku berpadu dengan cairan kesenangan Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya. Saking lelahnya,,suster Mimi jatuh terduduk di atas selangkanganku dengan batang kemaluanku masih menancap di dalam lubang kemaluannya. Kami sama-sama tertawa puas.

Sementara dari balik tirai masih tersiar suara kesenangan sepasang makhluk yang tengah enak-enaknya memadu kasih tanpa mempedulikan sekelilingnya.

Tepat seminggu kemudian,,aku sudah ditetapkan sembuh dari DBD yang kuderita dan diizinkan pulang. Ini membuatku menyesal,,merasa bakal kehilangan dua orang suster yang sudah memberikan kesenangan tiada tandingannya kepadaku sejumlah kali.

Hari ini aku sedang sendirian di lokasi tinggal dan sedang asyik menyimak majalah Gatra yang baru aku beli di tukang majalah dekat rumah.

“Ting tong”,,bel pintu rumahku dipencet orang.

Bandar Q Online – Aku membuka pintu. Astaga! Ternyata yang terdapat di balik pintu ialah dua orang gadis rupawan yang sekitar ini aku idam-idamkan,,Suster Vika dan Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini sama-sama mengenakan kaos oblong,,membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua yang memang estetis menjadi meningkat molek lagi dengan payudara mereka yang meskipun lain ukurannya,,namun sama-sama membulat dan kencang.

Hasil HK 4D – Sementara Suster Vika dengan celana jeansnya yang ketat,membuat pantatnya yang montok semakin menggairahkan,,di samping Suster Mimi yang mengenakan rok mini sejumlah sentimeter di atas lutut sampai-sampai memamerkan pahanya yang putih dan mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi pemandangan sedap yang pasti saja menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau melemparkan waktu,,kuajak mereka berdua ke kamar tidurku. Dan laksana sudah kuduga,,tanpa basa basi mereka inginkan dan mengikutiku. Dan pasti saja,,para pembaca semua tentu sudah tahu,,apa yang bakal terjadi lantas dengan kami bertiga.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *