Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Ngentot Tante Jeni Mengkel

Ngentot Tante Jeni Mengkel – Hingga kini,,kisah ini masih tidak jarang terlintas dalam pikiran dan pikiranku. Entah sebuah keberuntungankah atau kepedihan untuk si pelaku. Yang jelas dia telah mendapatkan empiris berharga dari apa yang dialaminya. Sebut saja namaya si Jo. Berasal dari dusun yang sebetulnya tidak jauh-jauh sekali dari kota Y. Di kota Y berikut dia numpang hidup pada seorang family kaya. Suami istri berkecukupan dengan seorang lagi penolong wanita Inah,,dengan usia tidak cukup lebih diatas Jo 2-3 tahun. Jo sendiri berumur 15 tahun jalan.

Suatu hari nyonya majikannya yang masih muda, Ibu Rhieny atau biasa mereka memanggil Bu Rhien,,mendekati mereka berdua yang tengah sibuk di dapur yang terletak di halaman belakang,,di depan kamar si Jo.

“Inah,,,besok lusa Bapak berkeinginan ke Kalimantan lagi. Tolong siapkan pakaian secukupnya tidak boleh lupa hingga ke kaos kakinya segala”,,perintahnya.

“Kira-kira berapa hari Bu,,?”,,tanya Inah hormat.

“Cukup lama,,mungkin nyaris satu bulan”.

“Baiklah Bu”,,tukas Inah mahfum.

Bu Rhien segera selesai melewati Jo yang tengah mencuci tanaman di pekarangan belakang tersebut. Dia mengangguk saat Jo menunduk hormat padanya.

Ibu Rhien majikannya tersebut masih muda,,paling tua barangkali sekitar 30 tahunan,,begitu Inah pernah kisah kepadanya. Mereka menikah belum lama dan tergolong lambat sebab keduanya sibuk di study dan pekerjaan. Namun sesudah menikah, Bu Rhien nampaknya lebih tidak sedikit di rumah. Walaupun sifatnya melulu sementara,,sekedar guna jeda tidur saja.

Dengan bentuk tubuh langsing,,dada tidak begitu besar,,hidung mancung,,bibir tipis dan berkaca mata serta kaki yang lenjang, Bu Rhien terkesan sombong dengan wibawa intelektualitas yang tinggi. Namun kelihatan bila dia seorang yang baik hati dan bisa mengerti kendala hidup orang lain walau dalam proporsi yang sewajarnya. Dengan kedua pembantunya juga tidak begitu tidak jarang berbicara. Hanya sesekali bila perlu. Namun Jo tahu tentu Inah lebih dekat dengan majikan perempuannya,,karena mereka sering berdialog di dapur atau di ruang tengah bila waktunya senggang.

Beberapa hari kepergian Bapak ke Kalimantan, Jo tanpa sengaja menguping percakapan kedua perempuan tersebut.

“Itulah Nah,,,kadang-kadang belajar butuh juga”,,suara Bu Rhien tersiar agak geli.

“Di dusun memang terus cerah saya pernah Bu..” Inah nampak agak bebas menjawab.

“O ya,,?”

“Iya,,kami,,sst,,pss”,,dan seterusnya Jo tidak bisa lagi menciduk isi percakapan tersebut. Hanya lantas terdengar tawa berderai mereka berdua.

Jo mulai lupa pembicaraan yang memunculkan tanda tanya tersebut sebab kesibukannya masing-masing hari. Membersihkan halaman,,merawat tanaman,,memperbaiki situasi rumah,,pagar dan sebagainya yang dirasakan perlu ditangani. Hari demi hari selesai begitu saja. Hingga sebuah sore, Jo agak terkejut saat dia tengah beristirahat sebentar di kamarnya.

Tiba-tiba pintu terbuka, “Kriieet.. Blegh.

”pintu tersebut segera memblokir lagi”.

Dihadapannya sekarang Bu Rhien,,majikannya berdiri menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ia mengerti.

“Jo”,,suaranya agak serak.

“Jangan kaget,,nggak terdapat apa-apa. Ibu melulu ada butuh sebentar”.

“Maaf Bu”.

”Jo cepat-cepat mengenakan kaosnya”.

Barusan dia melulu bercelana pendek. Bu Rhien diam dan memberi peluang Jo mengenakan kaosnya sampai selesai. Nampaknya Bu Rhien telah dapat menguasai diri lagi. Dengan mimik biasa dia segera mengucapkan maksud kedatangannya.

“Hmm”,,dia melirik ke pintu.

“Ibu minta anda nggak usah kisah ke siapa-siapa. Ibu melulu perlu meminjam sesuatu darimu”.

Kemudian dia segera membuang sebuah majalah.

“Lihat dan cepatlah ikuti perintah Ibu.

”suara Bu Rhien agak menekan”.

Agak gelagapan Jo membuka majalah itu dan terperangah mendapati sekian banyak gambar yang mengakibatkan nafasnya langsung memburu. Meski orang kampung,,dia memahami apa makna semua ini. Apalagi jujur dia memang tengah memasuki usia yang tidak jarang kali membuatnya terbangun di tengah malam karena bayang-bayang dan hawa yang menyesakkan dada bila baru nonton TV atau membaca tulisan yang tidak banyak nyerempet ke arah,,“itu”.

Sejurus diamatinya Bu Rhien yang tengah bergerak mengarah ke pintu. Beliau mengenakan kaos hijau ketat,,sementara bawahannya berupa rok yang agak longgar warna hitam agak berkilat entah apa bahannya. Segera tangan putih mulus tersebut menggerendel pintu.

Kemudian,,, “Berbaringlah Jo,,dan lepaskan celanamu..

”Agak ragu Jo mulai membuka”.

“Dalemannya juga”,,agak jengah Bu Rhien menyampaikan itu.

Dengan paling malu Jo mencungkil CD-nya. Sejenak lantas terpampanglah perangkat pribadinya ke atas.

Lain dari benak Jo,,ternyata Bu Rhien tidak segera ikut membuka pakaiannya. Dengan wajah membungkuk tanpa mau menyaksikan ke wajahnya, dia segera bergerak naik ke atas tubuhnya. Jo menikmati desiran hebat saat betis mereka bersentuhan.

Naik lagi,,kini Jo dapat merasakan halusnya paha majikannya tersebut bersentuhan dengan paha atasnya. Naik lagi,,dan.. Jo menikmati seluruh tulang belulangnya kena setrum ribuan watt saat ujung perangkat pribadinya menyentuh unsur lunak lunak dan basah di pangkal paha Bu Rhien.

Tanpa menunjukkan sedikitpun unsur tubuhnya, Bu Rhien nampaknya berkeinginan melakukan persetubuhan dengannya. Jo menghela nafas dan menelan ludah saat tangan lembut tersebut memegang alatnya dan, “Bleesshh.

Dengan badan bergetar antara lemas dan kaku, Jo tidak banyak mengerang menyangga geli dan kesenangan ketika barangnya dilumat oleh daging hangat nan lunak itu.

Dengan masih membungkuk Bu Rhien mulai menggoyangkan pantatnya. Tangannya menepis tangan Jo yang secara naluriah berkeinginan merengkuhnya.

“Hhh,,ehh,,sshh”,,kelihatan Bu Rhien menyangga nafasnya.

“Aakh.. Bu,,saya,,saya nggak tahan,,” Jo mulai mengeluh.

“Tahann sebentar,,sebentar saja.

”Bu Rhien nampak agak marah menyampaikan itu,,keringatnya mulai berlahiran di kening dan hidungnya.

Sekuat tenaga Jo menyangga aliran yang berkeinginan meledak di ujung peralatannya. Di atasnya Bu Rhien terus berpacu. bergerak semakin liar sampai dipan lokasi mereka berada ikut berderit-derit. Makin lama semakin cepat dan kesudahannya nampak Bu Rhien mengejang,,kepalanya ditengadahkan ke atas menunjukkan lehernya yang putih berkeringat.

“Aaahhkhh“.

Sejurus lantas dia berhenti bergoyang. Lemas terkulai tetapi tetap pada posisi duduk di atas tubuh Jo yang masih bergetar menyangga rasa. Nafasnya masih memburu.

Beberapa ketika kemudian, “Pleph.

”tiba-tiba Bu Rhien menarik keluar pantatnya dari tubuh Jo.

Dia segera berdiri,,merapihkan rambutnya dan roknya yang terbuka sebentar.

Kemudian,,”Jangan kisah kepada siapapun”.

”tandasnya, “Dan bila anda belum selesai,,kamu dapat puaskan ke Inah.. Ibu telah bicara dengannya dan dia bersedia”,,tukasnya cepat dan segera berlangsung ke pintu kemudian keluar.

Jo terhenyak di atas kasurnya. Sejenak dia berjuang menahan degup jantungnya. Diambilnya nafasdalam-dalam. Sambil sekuat tenaga meredam denyutan di ujung penisnya yang terasa inginkan menyembur cepat itu. Setelah dapat tenang,,dia segera bangkit,,mengenakan pakaiannya lantas berbaring. nafasnya masih menyisakan birahi yang tinggi tetapi kesadarannya cepat menjalar di kepalanya. Dia sadar,,tak barangkali dia menuntut apapun pada majikan yang memberinya hidup itu. Namun sungguh spektakuler pengalamannya tersebut. Tak sedikitpun terpikir, Bu rhien yang begitu berwibawa tersebut melakukan tindakan seperti ini.

Dada Jo agak berdesir terkenang ucapan Bu Rhien mengenai Inah. Terbayang raut wajah Inah yang dalam benaknya lugu, tetapi mengapa mau diajak melayaninya,,? Jo menggelengkan kepala.. Tidak.

biarlah tindakan bejat ini antara aku dan Bu Rhien. Tak hendak dia melibatkan orang beda lagi. Perlahan tapi tentu Jo dapat mengendapkan segala benak dan gejolak perasaannya. Beberapa menit lantas dia terlelap,,hanyut dalam kenyamanan yang tanggung dan mengganjal dalam tidurnya.

Perlakuan Bu Rhien berlanjut tiap kali suaminya tidak terdapat di rumah. Selalu dan tidak jarang kali dia meninggalkan Jo dalam suasana menahan gejolak yang menggelegak tanpa solusi yang layak. Beberapa kali Jo berkeinginan meneruskan hasratnya ke Inah,,tetapi selalu dibatalkan karena dia ragu-ragu,,apakah semuanya benar-benar sudah ditata oleh majikannya atau hanyalah dalil Bu Rhien guna tidak menyerahkan balasan pelayanan kepadanya.

Hingga kesudahannya pada sebuah malam yang dingin, di luar gerimis dan tersiar suara-suara katak bersahutan di sungai kecil belakang lokasi tinggal dengan rythme-nya yang khas dan dihafal betul oleh Jo. Dia agak terganggu saat mendengar daun pintu kamarnya terbuka.

”Kriieet”.

”ternyata” Bu Rhien.

Nampak segera melangkah masuk kamar. Malam ini beliau mengenakan daster merah jambu bergambar bunga atau daun-daun apa Jo tidak jelas mengamatinya. Karena segera dirasakannya nafasnya memburu, kerongkongannya tercekat dan ludahnya terasa asin. Wajahnya terasa tebal tak menikmati apa-apa.

Agak terburu-buru Bu Rhien segera memblokir pintu. Tanpa bicara sedikitpun dia menganggukkan kepalanya. Jo segera paham. Dia segera unik tali saklar di kamarnya dan sejenak ruangannya menjadi remang-remang oleh lampu 5 watt warna kehijauan. Sementara menantikan Jo melepas celananya, Bu rhien nampak menyapukan pandangannya ke seantero kamar.

”Hmm,,anak ini lumayan rajin mencuci kamarnya”,,pikirnya.

Tapi segera terhenti saat dilihatnya,,“alat pemuasnya”,,itu telah siap.

Dan,,kejadian tersebut terulang kembali guna kesekian kalinya. Setelah berlalu Bu Rhien segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. Dia berkeinginan beranjak saat tiba-tiba terkenang sesuatu.

“Oh Ibu lupa”,,terhenti sejenak ucapannya.

Jo beranggapan keras,,kurang apa lagi,,? Jujur dia mulai tidak tahan menanggulangi nafsunya tiap kali ditinggal begitu saja,,ingin sekali dia meraih pinggang sexy tersebut tiap kali berkeinginan keluar dari pintu.

Lanjutnya, “Hmm.. Inah pulang dusun pagi tadi”,,dengan wajah agak masam Bu Rhien segera membatalkan langkahnya.

“Rasanya tidak adil kalau melulu Ibu yang dapat. Sementara anda tertinggal begitu saja sebab tidak terdapat Inah”.

Jo nyaris keceplosan bahwa sekitar ini dia tidak pernah melanjutkan dengan Inah. Tapi mulutnya segera dikuncinya kuat-kuat. Dia merasa Bu Rhien bakal memberinya sesuatu. Ternyata benar.. Perempuan tersebut segera menyuruhnya berdiri.

“Terpaksa Ibu melayani anda malam ini. Tapi ingat,,,jangan sentuh apapun. Kamu melulu boleh melakukannya cocok dengan yang Ibu kerjakan kepadamu”.

Kemudian Bu Rhien segera duduk di ambang ranjang. Dirainya bantal guna ganjal kepalanya. Sejuruskemudian dia membuka pahanya. Matanya segera menatap Jo dan memberinya isyarat.

”Jo”,,tergagap. Tak mengira bakal diberi peluang seperti itu.

Dalam cahaya kamar yang minim tersebut dadanya berdesir hebat menyaksikan sepasang paha mulus telentang. Di sebelah atas sana nampak dua bukit membuncah di balik BH warna krem yang hadir sedikit di leher daster. Dengan pelan dia mendekat. Kemudian dengan agak ragu selangkangannya ditunjukkan ke tengah diantara dua belah paha mulus itu. Nampak Bu Rhien memalingkan wajah ke samping jauh,,sejauh-jauhnya.

“Degh,,degh,,” Jo agak kendala memasukkan alatnya.

Karena sekitar ini dia memang pasif. Sehingga tidak ada empiris memasukkan sama sekali. Tapi dia menikmati nikmat yang luar biasa saat kepala penisnya menyentuh daging empuk dan bergesekan dengan rambut kemaluan Bu Rhien yang tebal itu. Hhh.

Nikmat sekali. Bu Rhien menggigit bibir. Ingin rasanya menendang bocah tidak cukup ajar ini. Tapi dia segera menyadari ini seluruh dia yang memulai. Badannya menggelinjang menyangga geli saat dengan agak paksa tetapi tetap pelan Jo sukses memasukkan penisnya (yang memang keras dan cukup itu) ke perlengkapan rahasianya.

Beberapa saat lantas Jo secara naluriah mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.

“Clep,,,clep,,,clep.

”bunyi penisnya beradu dengan vagina Bu Rhien yang basah belum dibersihkan setelah persetubuhan kesatu tadi.

“Plak,,plak,,plakk”,,kadang Jo terlampau kuat mengurangi sehingga pahanya beradu dengan paha putih mulus itu.

“Ohh,,enak sekali”,,pikir Jo.

Dia merasakan kesenangan yang lebih lagi dengan posisi dia yang aktif ini.

“Ehh,,,shh,,okh,,” Jo benar-benar tak kuasa lagi menutupi rasa nikmatnya.

Hampir sejumlah menit lamanya keadaan dilangsungkan seperti itu. Sementara Jo selintas melirik alangkah wajah Bu rhien mulai memerah. Matanya terpejam dan dia melengos ke kiri,,kadang ke kanan.

“Hkkhh,,” Bu Rhien berjuang menahan nafas.

Mulanya dia berfikir pelayanannya melulu akan sebentar sebab dia tahu anak ini tentu sudah diujung,,“konak”,nya.

Tapi ternyata, “Huoohh,,” Bu Rhien menikmati otot-otot kewanitaannya tegang lagi menerima gesekan-gesekan kasar dari Jo.

Dia berjuang sekuat tenaga guna tidak terbangkitkan nafsunya.

Jo terus bergoyang,,berputar,,menyeruduk,,menekan dan mendorong sekuat tenaga. Dia benar-benar telah lupa siapa perempuan yang dihadapannya ini. yang terfikir ialah keinginan guna cepat menerbitkan sesuatu yang terasa deras mengalir dipembuluh darahnya dan hendak segeradikeluarkannya.

“Ehh..” Bu Rhien tak dapat lagi menahan nafsunya.

Daster yang awalnya dipegangi supaya tubuhnya tidak tidak sedikit tersingkap tersebut terlepas dari tangannya,,sehingga sekarang tersingkap jauh hingga ke atas pinggang. Melihat pemandangan ini Jo semakin terangsang. Dia menunduk meneliti alatnya yang serba hitam,,kontras dengan tubuh putih mulus di depannya yang mulai menggeliat-geliat,,sehingga mengakibatkan batang kemaluannya semakin teremas-remas.

“Ohh,,aduh.. Bu,,” Jo merintih pelan sarat kenikmatan.

Yang jelas Bu Rhien tak bakal mendengarnya sebab beliau sendiri tengah berusaha melawan rangsangan yang semakin dekat ke puncaknya.

“Okh,,hekkhh,,” Bu Rhien menegang, sekuat tenaga dia menyangga diri,tapi sodokan tersebut benar-benar powerful dan tahan.

Diam-diam dia kagum dengan stamina anak ini.

MitoQQ.net – Akhirnya sebab sudah tidak dapat lagi menahan, Bu Rhien segera mengapitkan kedua pahanya,,tanganya meraih sprei,,meremasnya,,dan,,, “Aaakkhh.

”dia merintih nikmat. Orgasmenya yang kedua dari si Jo malam ini. Sementara si Jo pun telah tak tahan lagi. Saat paha mulus tersebut menjepit pinggangnya dan lantas pantat wanita tersebut diangkat,,penisnya benar-benar laksana dipelintir hingga, “Cruuth.

crut,,crut.

”memancar sebuah cairan kental dari sana. Jo menikmati nikmat yang luar biasa. Seperti kencing tetapi terasa enak campur gatal-gatal gimana.”Ohk,,ehh,,hh,” Jo terkulai. Tubuhnya bergetar dan dia segera mundur dan menarik keluar penisnya lantas terhenyak duduk di kursi sebelah meja di kamarnya. Wajahnya menengadah sedangkan secara alamiah tangannya terus meremas-remas penisnya, menguras sisa cairan yang terdapat disana. Ooohh,,enak sekali.

Di ranjang Bu Rhien telentang lemas. Benar-benar nikmat persetubuhan yang kedua ini. Beberapa ketika dia terkulai seakan tak sadar dengan keadaannya. Bongkahan pantatnya yang mengkal dan mulus tersebut ter-expose dengan bebas. Rasanya batang kenyal nan keras tersebut masih menyumpal celah vaginanya. Memberinya sengatan dan sodokan-sodokan yang nikmat. Jo menatap tubuh estetis itu dengan sarat rasa tak percaya. Barusan dia menyetubuhinya, hingga dia pun mendapatkan kepuasan. Benarkah..?

Sementara tersebut setelah sadar, Bu Rhien segera bangkit. Dia berbenah pakaiannya. Terlintas sesuatu yang agak mengherankan dengan anak ini. Tadi dia merasa alangkah panas bersitan sperma yang disemburkannya. Seperti air mani laki-laki yang baru pernah bersetubuh.

“Berapa jam seringkali kamu mengerjakan ini dengan Inah, Jo,,?”,tanya Bu Rhien menyelidik.

Jo terdiam. Apakah beliau tidak bakal marah bila dia berterus terang..?

“Kenapa diam..?”

Jo menghela nafas, “Maaf Bu,,belum pernah”.

“Hah.

”Jadi”,selama ini kamu?

“Iya Bu. Saya melulu diam saja sesudah Ibu pergi”.

“Oo,,” Bu Rhien melongo.

Sungguh tidak diperkirakan sama sekali kalau tersebut yang sekitar ini terjadi. Alangkah tersiksanya sekitar ini bila begitu. Aku ternyata egois juga. Tapi,,,?,,masa aku mesti melayaninya. Apapun dia kan melulu pembantu. Dia hanya perlu batang muda-nya saja untuk mengisi hasrat sex-nya yang menggebu-gebu terus itu. Selama ini bahkan suami dan pacar-pacarnya dulu tak pernah mengetahuinya. Ini rahasia yang tersimpan rapat.

bandar q – “Hmm,,,baiklah. Ibu mohon kamu tidak boleh ceritakan ke siapapun. Sebenarnya Ibu telah bicara sama Inah tentang masalah ini. Tapi rupanya kalian tidak nyambung. Ya sudah,,yang urgen sekali lagi,,pegang rahasia ini erat-erat,,mengerti,,?”,,kembali suaranya berwibawa dan buat segan.

Hongkong 4D – “Mengerti Bu,,” Jo membalas penuh rasa rikuh.

Akhirnya Bu Rhien terbit kamar dan Jo segera membuang badannya ke kasur. Penat,,,lelah,,namunnikmat dan terasa legaa,,sekali.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *