Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Tak Tahan Melihat Tubuh Mulus Mbak Lala

Tak Tahan Melihat Tubuh Mulus Mbak Lala – Bekerja sebagai auditor di perusahaan swasta memang paling melelahkan. Tenaga,,pikiran,,semuanya terkuras. Apalagi bila ada masalah finansial yang rumit dan mesti segera diselesaikan.

Mau tidak mau,,aku mesti melimpahkan perhatian ekstra. Akibat dari tekanan kegiatan yang demikian tersebut membuatku akrab dengan gemerlapnya dunia malam terutama andai weekend.

Biasanya bersama teman sekantor aku berkaraoke untuk mencungkil beban. Kadang di ‘Manhattan’,,kadang di ‘White House’,,dan selanjutnya,,benar-benar malam guna menumpahkan “beban”. Maklum,,aku telah berkeluarga dan punya seorang anak,,tetapi mereka kutinggalkan di dusun karena istriku punya usaha dagang di sana.

Tapi lama kelamaan semua tersebut membuatku bosan. Ya,,di Jakarta ini,,walaupun aku merantau,,ternyata aku punya tidak sedikit saudara dan sebab kesibukan (alasan klise) aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kuputuskan guna menelepon Mas Adit,,sepupuku. Kami pun berkelakar ria,,karena lama sekali kami tidak kontak. Mas Adit bekerja di di antara perusahaan minyak asing,,dan saat tersebut dia kasih tau bila minggu depan ditugaskan perusahaannya ke tengah laut,,mengantar logistik sekaligus menolong perbaikan salah satu perlengkapan rig yang rusak. Dan dia memintaku guna menemani keluarganya bila aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget,,karena lokasi tinggal Mas Adit lumayan jauh dari lokasi kostku Aku di bilangan Ciledug,,sedangkan Mas Adit di Bekasi. Tapi entah kenapa aku mengiyakan saja permintaannya, sebab kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum,,lama sekali tidak jumpa.

Hari Jumat minggu berikutnya aku ditelepon Mas Adit guna meyakinkan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Adit istrinya,,mbak Lala,,senang bila aku inginkan datang. Hitung-hitung buat rekan ngobrol dan rekan main anak-anaknya. Mereka berdua telah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung ruang belajar 4 SD,,dan yang bungsu ruang belajar 1 SD. Usia Mas Adit 40 tahun dan mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi tidak lain jauh amat dengan mereka. Apalagi kata Mbak Lala,,aku telah lama sekali tidak berangjangsana ke rumahnya. Terutama sejak aku bekerja di Jakarta ini Ya,,tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling hanya lewat telepon.

BANDAR POKER – Setelah santap siang, aku telepon mbak Lala,,janjian pulang bersama Kami janjian di stasiun,,karena mbak Lala biasa kembali naik kereta. “kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlampau malem”,,begitu dalil mbak Lala. Dan jam 17.00 aku bertemu mbak Lala di stasiun. Tak lama,,kereta yang dirindukan pun datang. Cukup penuh,,tapi aku dan mbak masih dapat berdiri dengan nyaman. Kamipun asyik bercerita,,seolah membiarkan kiri kanan.

Tapi urusan tersebut ternyata tidak dilangsungkan lama Lepas stasiun J,,kereta benar-benar penuh. Mau tidak inginkan posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan…! Beberapa kali,,karena goyangan kereta,,dada montok mbak Lala menyentuh dadaku. Ahh…darahku rasanya berdesir,,dan mukaku berubah agak pias. Rupanya mbak Lala menyaksikan perubahanku dan ?ini konyolnya- dia mengolah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk,,siksaanku bertambah,! Karena sempitnya ruangan,,si,,“itong”,,ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan. Aku hanya dapat berdoa semoga,,“itong”,,tidak bangun. Kamipun tetap membual dan bercerita guna membunuh waktu. Tapi,,namanya laki-laki normal apalgi diperbanyak gesekan-gesekan yang ritmis,,mau tidak inginkan bangun juga,,“itong”,,ku. Makin lama kian keras,,dan aku yakin mbak Lala dapat merasakannya di balik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku juga muncul, sekiranya aku dapat meremas dada dan pinggulnya yang montok itu.. oh… alangkah nikmatnya. Akhirnya sampai pun kami di Bekasi,,dan aku bersyukur sebab siksaanku berakhir. Kami lantas naik angkot,,dan sepanjang jalan Mbak Lala diam saja. Sampai dirumah,,kami beristirahat,,mandi (sendiri-sendiri,,,loh) dan lantas makan malam bareng keponakanku. Selesai santap malam,,kami bersantai,,dan tak lama kedua keponakanku juga pamit tidur.

“Ndrew,,mbak inginkan bicara sebentar”,,katanya,,tegas sekali.

“Iya mbak,,kenapa”,,sahutku bertanya. Aku berdebar,,karena yakin bahwa mbak bakal memarahiku dampak ketidaksengajaanku di kereta tadi.

“Terus cerah aja ya. Mbak tau kok perubahan anda di kereta. Kamu ngaceng kan?” katanya,,dengan nada terbendung seperti menyangga rasa jengkel.

“Mbak tidak suka bila ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!”.

“MMm,,maaf,,mbak..”,,ujarku terbata-bata.

“Saya tidak sengaja. Soalnya situasi kereta kan sarat banget. Lagian,,nempelnya terlampau lama,,ya,,aku tidak tahan”.

“Terserah apa kata kamu,,yang jelas tidak boleh sampai terulang lagi,,banyak teknik untuk memindahkan pikiran ngeres anda itu. Paham?!”,,bentak Mbak Lisa.

“Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji tidak ngulangin lagi”

“Ya sudah. Sana,,kalau anda mau main PS. Mbak inginkan tidur-tiduran dulu. bila pengen nonton filem masuk aja kamar Mbak”,,Sahutnya. Rupanya,,tensinya telah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS di ruang tengah. Karena bosan,,aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Lala sedang baca novel seraya tiduran. Dia menggunakan daster panjang. Aku sempat menculik pandang ke semua tubuhnya. Kuakui,,walapun punya anak dua,,tubuh Mbak Lala sungguh-sungguh terpelihara. Maklumlah,,modalnya ada. Akupun segera menyetel VCD dan berbaring di karpet,,sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.

Entah sebab lelah atau sejuknya ruangan,,atau sebab apa akupun tertidur. Kurang lebih 2 jam,,dan aku terbangun. Film sudah selesai,,mbak Lala pun sudah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah,,pasti dia capek banget,,pikirku.

Saat aku beranjak dari tiduranku,,hendak pindah kamar,,aku terkesiap. Posisi istirahat Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kana terangkat keatas benar-benar menciptakan jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku terpampang paha mulus,,karena dasternya sedikti tersingkap. Mbak Lala berkulti putih kemerahan,,dan warna tersebut makin membuatku tak karuan. Hatiku tambah berdebar,,nafasku mulai memburu.. birahiku juga timbul.

Perlahan,,kubelai paha itu,,lembut,,kusingkap daster tersebut samapi pangkal pahanya,,dan.. AHH“,,itong”-ku mengeras seketika. Mbak Lala ternyata menggunakan CD mini warna merah.. OHH GOD,,apa yang mesti kulakukan… Aku melulu menelan ludah menyaksikan pantatnya yang terlihat menggunung,,dan CD tersebut nyaris laksana G-String. Aku bener-bener terangsang menyaksikan pemandangan estetis itu, namun aku sendiri merasa tidak enak hati,,karena Mbak Lala istri sepupuku sendiri, yang mana sebenarnya harus aku temani dan aku lindungi dikala suaminya sedang tidak dirumah.

Namun godaan syahwat memang mengungguli segalanya. Tak tahan,,kusingkap pelan-pelan celana dalamnya,,dan tampaklah gundukan memeknya berwarna kemerahan. Aku bingung,,harus kuapakan,,karena aku masih terdapat rasa was-was,,takut,,kasihan… namun sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati memek tersebut dengan rasa was-was fobia Mbak Lala bangun. Sllrrpp,,mmffhh,,sllrrpp,,ternyata memeknya lezat juga,,ditambah pubic hair Mbak Lala yang sedikit,,sehingga hidungku tidak geli bahkan leluasa menikmati wewangian memeknya.

Entah setan apa yang menguasai diriku,,tahu-tahu aku sudah menanggalkan seluruh celanaku. Setelah“,,itong”-ku kubasahi dengan ludahku,,segera kubenamkan ke memek Mbak Lala. Agak sulit juga,,karena posisinya itu. Dan aku hasrus tambahan hati-hati agar dia tidak terbangun. Akhirnya“,,itongku”-ku sukses masuk. HH… hangat rasanya,,sempit,,tapi licin,,seperti piston di dalam silinder. Entah licin sebab Mbak Lala mulai horny,,atau sebab ludah bekas jilatanku.. entahlah. Yang pasti,,kugenjot dia,,naik turun pelan lembut,,tapi ternyata nggak hingga lima menit. Aku begitu terpesona dengan keindahan pinggul dan pantatnya, kehalusan kulitnya,,sehingga pertahananku jebol. Crroott,,ccrroott,,sseerr,,ssrreett,,kumuntahkan maniku di dalam memek Mbak Lala. Aku menikmati pantatnya tidak banyak tersentak. Setelah berakhir maniku,,pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.

“Mmmhh,,kok ditarik keluar tititnya”,,suara Mbak Lala parau sebab masih ngantuk.

“Gantian dong,,aku pun pengen”.

Aku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.

“Wah,,celaka”,,pikirku.

“Ketahuan,,nich”,,benar saja! Mbak Lala mambalikkan badannya. Seketika dia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya dia baru sadar bahwa yang berakhir menyetubuhinya bukan Mas Adit,,melainkan aku,,sepupunya.

“Kurang ajar kamu,,ndrew”,,makinya.

“KELUAR KAMU…!”.

Aku segera terbit dan masuk kamar istirahat tamu. Di dalam kamar aku bener-bener gelisah,,takut,,malu,,apalagi bila Mbak Lala hingga lapor polisi dengan dakwaan pemerkosaan. Wah,,terbayang jelas di benakku acara Buser,,malunya aku.

Aku mengupayakan menenangkan diri dengan menyimak majalah,,buku,,apa saja yang dapat membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama aku membaca,,aku juga akhirnya terlelap. Seolah mimpi,,aku merasa,,“itong”,,ku laksana lagi keenakan. Serasa terdapat yang membelai. Nafas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata,,dan.

“Mbak Lala,,jangan”,,pintaku seraya aku unik tubuhku.

“Ndrew”,,sahut Mbak Lala,,setengah terkejut.

“Maaf ya, bila tadi aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat anda tidak pake celana, ngaceng lagi.”

“Terus,,mbak maunya apa?”,,taku bertanya kepadaku. Aneh sekali,,tadi dia marah-marah,,sekarang kok,,jadi begini.

“Terus terang,,ndrew,,habis marah-marah tadi,,mbak bersihin memek dari sperma anda dan diguyur air dingin agar Mbak tidak ikutan horny. Tapi… Mbak kebayang-bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya kamu. Imut,,tapi di meki Mbak kerasa tuh”,,sahutnya seraya tersenyum.

Dan tanpa menantikan jawabanku,,dikulumnya penisku seketika sampai-sampai aku tersentak dibuatnya. Mbak Lala begitu rakus melumat penisku yang ukurannya biasa-biasa saja. Bahkan aku menikmati penisku mentok hingga ke kerongkongannya. Secara refleks,,mbak naik ke bed,,menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisii kami ketika ini 69. Dan,,ya Tuhan,,mbak Lala telah melepas CD nya. Aku menyaksikan memeknya kian membengkak merah. Labia mayoranya agak menggelambir,,seolah menantangku guna dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan,,segera kuserbu dengan bibirku..

“SSshh,,ahh,,ndrew,,iya,,gitu,,he-eh,,,mmmffhh,,sshh,,aahh”,,mbak Lala merintih menyangga nikmat. Akupun merasakan memeknya yang ternyata bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya.

“Itilnya,,dong,,ndrew,,mm.. IYAA… AAHH… KENA AKU… AMPUUNN NDREEWW”.

Mbak Lala kian keras mengerang dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin binal dan tak beraturan. Memeknya kian memerah dan kian becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya seraya terus menghisap clitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah dan jariku masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa terdapat yang mendesak penisku,,seolah inginkan menyembur.

“Mbak,,mau terbit nih”,,kataku.

Tapi Mbak Lala membiarkan ucapanku dan makin buas mengulum batang penisku. Aku kian tidak tahan dan,,crroott,,srssrreett,,ssrett,,spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.

“Ndrewww,,kamu ngaceng terus ya,,mbak belum kebagian nih”,,pintanya.

Aku hanya dapat mmeringis menyangga geli,,karena Mbak Lala melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku laksana menuruti keinginan Mbak Lala. Jika tadi langsung lemas,,ternyata kali ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin sebab pengaruh lendir memek Mbak Lala karena pada ketika yang sama aku sibuk merasakan itil dan cairan memeknya, aku jadi gampang terangsang lagi.

Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan mencungkil dasternya.

“Copot bajumu semua,,ndrew”,,perintahnya.

Aku menuruti perintahnya dan terperangah menyaksikan pemandangan estetis di depanku. Buah dada tersebut membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih,,merah kecoklatan,,sewarna kulitnya. Puting tersebut benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku guna mengulumnya. Segera Mbak Lala berlutut di atasku,,dan tangannya menuntun penisku ke lubang memeknya yang panas dan basah. Bless,,sshh.

“Aduhh,,ndrew,,tititmu keras banget yah”,,rintihnya.

“kok dapat kayak kayu sih…?”.

Mbak Lala dengan buasnya menaikturunkan pantatnya,,sesekali diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek dampak memeknya yang basah kian keras. Tak kusia-siakan,,kulahap berakhir kedua putingnya yang menantang,,rakus. Mbak Lala kian keras goyangnya,,dan aku menikmati tubuh dan memeknya kian panas,,nafasnya kian memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Lala kian cepat,,cairan memeknya membanjir,,nafasnya mengejar dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang,,bergetar hebat,,nafasnynya tertahan.

“MMFF… SSHSHH.. AAIIHH… OUUGGHH… NDREEWW… MBAK KELUAARR… AAHHSSHH”.

Mbak Lala menjerit dan merintih seiring dengan puncak kesenangan yang sudah diraihnya. Memeknya terasa paling panas dan gerakan pinggulnya demikian binal sehingga aku menikmati penisku laksana dipelintir. Dan kesudahannya Mbak Lala roboh di atas dadaku dengan ekspresi wajah sarat kepuasan. Aku tersenyum sarat kemenangan karena aku masih dapat bertahan.

Tak disangka,,setelah tidur sejenak,,mbak Lala berdiri dan duduk di pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang,,punggungnya agak ditarik ke belakang dan kedua tangannya menahan tubuhnya.

“Ndrew,,ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya kenceng lagi”,,pintanya separuh memaksa.

Apa boleh buat,,kuturuti kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai memerah lagi,,itilnya langsung menegang,,dan lendirnya terlihat mambasahi dinding memeknya.

“SShh,,mm,,ndrew.. anda jail banget siicchh,,oohh”,,rintihnya.

“Masukin aja,,yang,,jangan siksa aku,,pleeaassee”,,rengeknya.

Mendengar dia mengerang dan merengek,,aku kian bertafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang memang masih tegak ke memeknya yang ternyata paling becek dan terasa panas dampak masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan,,sesekali dengan gerakan mencangkul dan memutar. Mbak Lala mulai gelisah,,nafasnya kian memburu,,tubuhnya kian gemetaran. Tak tak sempat jari tengahku memainkan dan menggosok clitorisnya yang ternyata benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, dan tampaklah lubang tersebut menganga kemerahan,,basah sekali.

Gerakan jariku di itilnya kian kupercepat,,mbak Lala kian tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran,,demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek tersebut makin becek,,terlihat lendirnya meleleh dengan derasnya,,dan segera saja kusambar dengan lidahku.. direguk berakhir semua lendir yang meleleh. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala,,terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di memeknya.

Kupandangi memek tersebut lagi,,dan aku menyaksikan ada laksana daging kemerahan yang mencuat keluar,,bergerinjal berwarna merah seolah-olah berkeinginan keluar dari memeknya. Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba terbendung diiringi pekikan kecil,,dan ssrr,,ceerr,,aku menikmati ada cairan hangat muncrat dari memeknya.

“Mbak,,udah keluar?”,,tanyaku.

“Beluumm,,ndreew,,ayo sayang,,masukin kl,kamu… aku nyaris sampaaii”,,erangnya.

Rupanya Mbak Lala hingga terkencing-kencing menyangga nikmat.

Akibat pemandangan tersebut aku merasa terdapat yang mendesak hendak keluar dari penisku, dan segera saja kugocek Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat aku mampu, hingga akhirnya.

“NDREEWW… AKU KELUAARR… OOHH… SAYANG… MMHH… AAGGHH… UUFF”,,mbak Lala menjerit dan merintih tidak karuan seraya mengejang-ngejang.

Bola matanya terlihat memutih,,dan aku merasa jepitan di penisku begitu kuat. Akhirnya bobol pun pertahananku.

“Mbak,,aku inginkan muncrat nich”,,kataku.

“Keluarin sayang… mari sayang,,keluarin di dalem… aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi”,,pintanya seraya menggoyangkan pinggulnya,,menepuk pantatku dan meremas pinggulnya.

Seketika tersebut juga,,rruuoott… jrroott,,srroott.

“Mbaakk.. MBAAKK… OOGGHH… AKU MUNCRAT MBAAKK”,,aku berteriak.

“Hmm,,ayo sayang,,keluarkan semua,,habiskan semua… nikmati,,sayang,,ayo,,oohh,,hangat,,hangat sekali spermamu di rahimku.. mmhh”,,desah Mbak Lala manja menggairahkan.

BANDAR PKV – Akupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Benar-benar malam jahanam yang melelahkan sekaligus malam surgawi.

“Ndrew,,makasih ya… kamu dapat melepaskan hasratku”,,mbak Lala tersenyum puas sekali.

“He-eh,,mbak,,aku juga”,,balasku.

“Aku pun makasih boleh merasakan tubuh Mbak. Terus terang,,sejak ngeliat Mbak,,aku pengen bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku sadar tersebut tak barangkali terjadi. Gimana dengan family kita bila sampai tahu”.

“Waahh,,kurang ajar pun kau ya”,,kata Mbak Lala seraya memencet hidungku.

“Aku tidak nyangka bila adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi,,sekarang khayalan kamu jadi fakta kan?”.

“Iya,,,mbak,,makasih banget,,,aku boleh merasakan semua unsur tubuh Mbak”,,,jawabku.

“Kamu empiris kesatuku,,,ndrew. Maksud Mbak,,ini kesatu kali Mbak bersetubuh dengan laki-laki di samping Mas Adit. tidak terdapat yang mengherankan kok. Titit Mas Adit jauh lebih banyak dari punya kamu. Mas Adit pun perkasa,,soalnya Mbak berkali-kali keluar bila lagi join sama masmu itu”,,sahutnya.

“Terus,kok keliatan puas banget? Cari variasi ya?”,,aku bertanya.

“Ini kesatu kalinya aku hingga terkencing-kencing menyangga nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer,,baru kali ini Mbak hingga pipisin anda segala. Kamu nggak jijik?”,,“Ooohh,,itu toh?,,kenapa mesti jijik? Justru aku kian horny”,,aku tersenyum.

Kami berdekapan dan kesudahannya terlelap,,kulihat senyum tersungging di bibir Mbak Lalaku tersayang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *