Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Dewasa | Cerita Seks | Terjerat Pergaulan Bebas

Terjerat Pergaulan Bebas – Saya tercetus dari family berada, dan lumayan terhormat. Dan saya keturunan Indo, gabungan dari sekian banyak suku bangsa (negara). Saya juga tumbuh layaknya gadis lain. Lincah, tidak sedikit teman dan di sekolahan tergolong murid pintar.

Itu kata Bu Guru dan teman-teman. Tapi, dari nilai yang terdapat di rapor dengan rata-rata delapan dapat jadi kata Guru dan teman-teman tersebut benar. Namun dalam perjalanan edukasi sempat merasakan hambatan. Dan kesudahannya dapat pun menyelesaikan edukasi diploma (2) bidang sekretaris, yang sempat terseok-seok diakibatkan oleb pergaulanku yang telah termasuk kelewat batas.

Saya memang tergolong anak yang menganut pergaulan bebas. Tepatnya ruang belajar dua SMA telah menjalin kasih dengan rekan sekolah. Dan hubungan kami hingga di luar batas. Melakukan urusan yang harusnya baru boleh dilaksanakan setelah terdapat ikatan resmi, nikah.

Itu terjadi sebab dalam keluargaku saya bungsu dan empat bersaudara tidak cukup mendapat didikan dan perhatian dari kedua orang tua. Kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dan kami anak-anaknya diamanatkan kepada pembantu. Ayah dan ibu seolah berkewajiban melulu menyiapkan duit untuk sekian banyak kebutuhan. Tapi dari sisi kasih sayang sama sekali tidak merasakan. Karena ayah dan ibu kembali rata-rata telah larut malam. Bagi sekadar makan bareng atau kumpul family saja boleh disebutkan hampir tak pernah.

Bandar poker – kondisi tersebut sepertinya dibiarkan oleh ketiga kakakku, dua kesatu perempuan, dan ketiga laki-laki. Bisa jadi sebab sudah biasa. Tapi untuk saya (bungsu), paling mendambakan usapan dan kasih sayang yang hangat dari ayah dan ibu. Dan harapan tersebut sangat terasa ketika menjelang istirahat malam. Ingin rasanya mendapat pelukan dan ciuman terutama dari ibuku. Namun kesudahannya dari asa kasih dari kedua orang tua yang tak kunjung tiba, menciptakan saya menjadi terbiasa mandiri. Bahkan menjadikan saya wanita tegar tidak cengeng. Hampir semua permasalahan hidup, saya hadapi dan jajaki selesaikan sendiri.

Akhirnya dalam pergaulan guna menghilangkan stres dan rasa penat di dalam rumah, sering terbit jalan-jalan menggali hiburan nonton film ramai-ramai bareng teman atau sekadar kongkow-kongkow sampai larut malam. Di dalam pergaulan ini saya mengenal yang namanya obat-obatan dan mulai merokok. Sepertinya saat tersebut tidak terdapat beban dan rasa bersalah dengan keputusan yang saya ambil itu.

Apalagi ketiga kakakku pun tidak terdapat yang bisa sebagai panutan. Semua bersikap cuek. Jadi yang kuperbuat ya sah-sah saja. Tidak terdapat yang melarang, lagipula masing-masing (kakak-kakakku) punya kegiatan sendiri-sendiri. Yang kesatu Kak Intan, yang saat tersebut sedang kuliah asyik dengan kehidupannya sendiri bareng sang pacar satu kampus.

Kak Mira (kedua) kelakuannya pun tidak terlalu bertolak belakang dengan Kak Intan. Di samping kuliah pun terlalu asyik dengan pacarnya. Sementara Kak Niko (ketiga) memang lebih binal dibanding kedua kakak perempuannya. Hampir tiap hari kembali larut malam. Dan sekolahnya boleh disebutkan sudah drop. Kerjanya melulu main, dan bila siang tidur. Tiap hari mohon uang untuk ayah, andai tidak diberi pindah mohon ke ibu. Ada saja dalil untuk kebutuhan. Saya sendiri sebagai adik sampai beranggapan mau jadi apa nanti Kak Niko itu.

Pernah sebuah hari, saya merasa tidak cukup nikmat badan dan mohon ijin pulang. Sampai di rumah, di kamar kakakku Intan yang berdampingan dengan kamarku tersiar suara aneh, rintihan namun disertai desahan. Yang sedianya kembali untuk istirahat, dengan adanya suara tersebut saya penasaran menggali tahu. Kondisi rumah, andai siang memang sepi. Karena seluruh kakakku dan aku pergi sekolah. Tinggallah penolong sendirian. Kadang kakak Intan memang kuliah siang. Seperti siang itu, Kak Intan kuliah siang.

Saya jajaki membuka pintu kamar Kak Intan, dalam pikiran saya siapa tahu sakit laksana saya dan butuh pertolongan. Tapi pintu dikunci. Suara tersebut makin jelas, dan kelihatannya Kak Intan tidak sendirian. Nah saya mengupayakan mengintip lewat lubang kunci. Degup jantungku bergetar keras dan kencang. Melihat adegan seni yang saya ketahui, walau masih dalam imajinasi dari menyimak stensilan yang dipinjami teman.

Cukup goyah lututku menyaksikan keenakan kakakku yang tanpa pembalut tubuh bergelut dengan rekan prianya. Perbuatan yang sebelumnya melulu saya khayalkan, sekarang terpampang di depan mata disajikan oleh kakakku Intan. Cukup lama pergumulan tersebut berlangsung. Dengan rasa tak tahan tetapi kepinginnya terus nonton, saya masuk kamar dan rebahan. Suara kakaku dan rekan prianya terus menggoda. Akhirnya saya tidak lagi menikmati sakit, bahkan penyakit pusing tersebut lantas hilang begitu saja.

Suara desahan Kak Intan tidak terdengar lagi, yang terdapat obrolan mereka berdua. Dan mereka kemudian berangkat kuliah. Tidak tahu andai saya kembali lebih mula dan telah menonton perbuatan bejatnya. Sayapun terus menginginkan kejadian yang baru saja terjadi. Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak tahu apa yang telah dilaksanakan dengan kekasihnya. Kepada ayah dan ibu saya pun tidak bercerita, saya pikir apa pedulinya toh kelihatannya kakak saya begitu merasakan terlihat dan teknik bermain dan pagutannya ketika itu.

Sejak kejadian itu, saya jadi tidak jarang bolos sekolah. Ingin mengulang menyaksikan ‘pergulatan’ Kak Intan. Dengan teknik mengendap-endap masuk lokasi tinggal takut ketahuan terus menyelinap masuk kamar. Namun harapan guna mendapatkan tontotan unik seperti siang kemarin sia-sia. Karena teryata Kak Intan kuliah pagi.

Nah ketika saya dalam suasana antara tertidur, tersiar sayup-sayup suara dua orang sedang ngobrol di kamar sebelah, kamar Kak Mira (kakak kedua saya). Pikir saya mereka baru kembali kuliah. Kamar Kak Mira memang berdampingan dengan saya. Kamar kami (cewek) bertiga berjejer, dan saya yang di tengah. Sementara kakak laki-laki saya, Niko kamarnya di depan.

Kak Mira kembali kuliah menyuruh teman laki-laki ke rumah. Pertama obrolan tersebut soal pelajaran. Namun lama-lama suara obrolan tersebut hilang, berganti suara desahan. Saya kontan bangun dan mengendap-endap menggali lubang kunci. Dan sesudah di luar saya terkejut, sebab pintu Kak Mira tidak diblokir dan terbuka lumayan lebar. Saya sendiri jadi serba salah, fobia ketahuan. Tapi suara musik di kamar Kak Mira membuat tahapan dan gerakan saya tidak terdengar. Bahkan Kak Mira kelihatannya tidak peduli dengan pintu yang masih tersingkap itu.

JazzQQ.com – Setelah mendapat posisi yang aman, saya meneliti dengan seksama gerakan demi gerakan yang dilaksanakan Kak Mira bareng temannya. Terlihat mereka tetap mengenakan pakaian lengkap. Hanya saja rok Kak Mira mulai tersingkap, CD-nya terlihat. Sementara Si lelaki masih menyeluruh dengan t-shirt dan celana jeans. Tapi pagutan dan ciuman mereka berdua sepertinya membawa ke tahapan yang kian seru. Masing-masing bersaing melucuti pakaian lawannya. Hingga akhirmya dua-duanya dalam situasi telanjang. Cukup nanar dan gemetar pun saya menonton adegan itu. Dan adegan seperti tersebut pernah saya saksikan lewat film BF bareng teman-teman usai sekolah, di lokasi tinggal Linda (teman sekelas). Dan kedua saat menyaksikan Kak Intan sedang main dengan pacarnya. Namun ketika nonton Kak Intan tidak cukup seru disamping lewat lubang kunci, shownya sudah separuh main.

Hari ini sungguh berbeda, saya menonton seluruh permainan dari awal. Sungguh mendebarkan, Kak Mira meraih batang penis pacarnya, lantas mulai dikocok-kocok dengan perlahan. Terlihat batang penis pacar kakakku mulai terlihat membesar dan memanjang, hingga akhirnya dengan mata kepalaku sendiri aku menonton bagaimana batang penis yang awalnya layu sekarang telah berdiri dengan kerasnya dan paling panjang, mengundang hasrat birahiku guna turut menikmati kehangatan dan kehebatan penis pacar kakakku ini. Dengan sarat birahi kakakku mulai mengulum batang penis dihadapannya, sedangkan tangannya tetap mengocok-ngocok unsur tengah kebawah batang penis, kulihat tubuh pacar kakakku berkelejat-kelejat dan dari mimik wajahnya seakan menyangga serangan kesenangan yang datang bertubi-tubi di wilayah sekitar batang kepala penisnya.

Pergulatan Kak Mira dan temannya semakin seru, saling memagut, mendesah, memburu, dan kesudahannya saya lihat mereka berdua berada dalam permainan seks yang menggairahkan ketika teman kakakku mulai memasukkan batang penisnya yang panjang kedalam vagina kakakku, kudengar kakakku mulai berteriak-teriak kecil dengan disertai desahan-desahan sarat birahi, kuakui memang rekan kakakku ini mempunyai stamina yang kuat mampu bermain dalam satu jam dalam sejumlah posisi yang pernah kulihat dalam video seks kamasutra, kuhitung-hitung kakakku sudah merasakan orgasme tiga kali dalam permainan tersebut, sampai pada kesudahannya kulihat rekan kakakku menggenjot-genjotkan batang penisnya secara cepat, dan.., tiba-tiba manarik batang penisnya dengan cepat dari vagina kakakku, dan sejumlah detik lantas kulihat semprotan sperma begitu banyaknya dan akhirnya rekan kakakku mulai terkulai lemas dengan mandi keringat. Namun posisi mereka masih berpelukan.

Saya juga dengan lemas dan gemetar masuk kamar. Namun pada saat menonton adegan pergumulan tersebut tidak terasa tangan saya seperti dituntun meraba dan menyentuh ‘barang’ terlarang kepunyaan saya. Dengan terbius tangan saya mengusap-usap diantara selangkangan. Dan saya menemukan rasa kenikmatan. Sepertinya terdapat cairan yang terbit dari dalam, dan saya tidak tahu apa yang terbit itu. Yang terdapat rasa nikmat tiada tara ketika itu.

Nah perbuatan tersebut (mengusap kemaluan) saya kerjakan di ketika sendirian di dalam kamar. Dan ternyata saya mendapat kesenangan yang sama seperti ketika sedang nonton Kak Mira bercumbu. Bahkan perbuatan tersebut terus diulang-ulang. Rasa penasaran pun kian menjadi-jadi, kesudahannya saya hendak tahu bagaimana rasanya berhubungan. Suatu saat, sebenarnya tidak sengaja. Saya bermaksud pinjam daftar pelajaran untuk pacar, yang tidak sempat saya ikuti sebab tidak masuk sekolah. Kebetulan kitab itu terdapat di rumah. Maka saya disuruh ke rumahnya mengambil kitab itu.

Rumah pacar saya siang tersebut sepi. Kedua orang tuanya bekerja, sedangkan pacar saya anak satu-satunya. Yang terdapat di rumah melulu pembantu. Rumah itu lumayan besar dan sepi. Saya dipersilakan masuk, dan disuruh ke kamarnya. Setelah diambilkan minum, kami ngobrol. Pacar saya kelihatannya telah kawakan dalam berpacaran. Terlihat dan ketika ngobrol tangannya mulai aktif meraba wilayah sekwilda (sekitar distrik dada) kepunyaan saya. Namun herannya saya menikmati, dan tidak mempedulikan tangan tersebut menelusuri wilayah sensitif saya.

Teringat yang dilaksanakan pacar saya, seperti ketika pacar Kak Mira mengerjakan hal yang sama. Saya juga terlena dalam kenikmatan, laksana terbang diawang-awang. Dan akhirnya tindakan yang tadinya melulu dalam angan, sekarang kunikmati sungguhan. Kamipun telah dalam situasi polos, suara mendesah bercampur degup kencang jantung terdapat di dalam tubuhku. Saya juga rebah ditindih. Bukan sakit yang saya rasakan, namun kenikmatan. Dan kesudahannya kami pun sebatas ‘perburuan’, lemas, lunglai dan bermandikan keringat. Untuk sejumlah saat kami berpelukan, rasanya tidak hendak melepas, justeru inginnya mengulang lagi. Dan perbuatan tersebut kami ulang masing-masing ada kesempatan. Sampai berlalu sekolah diploma. Kamipun sebelum mengerjakan hubungan sering memakai obat-obatan terlebih dulu. Dan ternyata dominan makin lebih nikmat dalam berhubungan. Hubungan kamipun lepas begitu saja, sesudah pacar dengan dalil meneruskan sekolah, pergi ke luar negeri.

Bagi saya kepergian pacar saat tersebut tidak masalah. Toh dalam pikiran saya masih tidak sedikit pria beda yang antri untuk dapat kencan denganku. Mengingat dan menikmati pengalaman seks sekitar ini, tidak sedikit laki-laki yang mengupayakan mendekati saya dan mengutarakan cinta. Saya saja yang agak jual mahal. Nah ketika baru berlalu sekolah (diploma), sedangkan lagi kosong pacar tidak ada, saya tidak sedikit tinggal di rumah. Kegiatan dipenuhi dengan baca buku, dan baca apa saja. Paling bila jenuh, ke lokasi tinggal teman ngobrol sampai malam, terus kembali langsung tidur.

sex Terbaru – Saat kembali pukul 24.00 WIB, dan pintu lokasi tinggal memang nyaris tidak pernah terkunci, ketika buka pintu melalui depan kamar Kak Niko tersiar suara agak aneh. Ada desahan suara tertahan, sedangkan ada pula suara cekikikan. Saya yakin di kamar Kak Niko terdapat dua orang. Kebetulan saat tersebut ayah sedang tugas ke luar kota, dan ibu ikut mendampinginya. Ruang depan memang telah gelap, namun ruang Kak Niko terang, jadi lumayan leluasa saya menggali tahu apa yang sedang digarap kakakku. Kebetulan Kak Niko tidak pernah memblokir jendela kamarnya yang terletak di dalam rumah. Dari jendela itu, saya mengendap mengintip. Dalam pikiran saya, yang terjadi di dalam kamar sama dengan kejadian laksana Kak Intan dan Kak Mira ketika itu, ‘pergumulan’.

Benar saja. Kakak saya dan rekan wanitanya setengab baya (35-an) tetapi masih tampak cantik dan seksi sedang bergumul tanpa sehelai pakaian. Kak Niko tampak begita asyik mencumbu, dan tak henti-hentinya menciumi semua bagian lekuk-lekuk tubuh si wanita. Si perempuan menggelinjang, tertawa cekikikan salah satu desahan yang tertahan.

Cukup lama permainan mereka tersebut berlangsung. Bahkan Si wanita kelihatannya sudah tidak tahan, menjerit-jerit kecil dan memohon untuk Kak Niko, “Please, please”, katanya. Kak Niko kelihatannya tidak peduli dengan situasi wanita yang sudah laksana cacing kepanasan. Dan akhirnya, mereka berdua bergumul saling memeluk erat, bersaing mencapai perpaduan. Selesai sudah. namun saya tidak kemudian beranjak dari posisi. Penasaran hendak tahu apa lagi yang bakal diperbuat. Posisi mereka telentang dan tidak mempedulikan tubuhnya terhampar tanpa pakaian. Tapi Si wanita, masih menggelayut dan mencumbu. Kakak saya bersuara, “Bayar dulu”, katanya.

Judi online – “Jangan khawatir”, jawab Si wanita. Dan Si perempuan bangkit, berlangsung gontai mengarah ke kursi belajar Kak Niko, di mana di situ terletak tasnya. Dari dalam tas wanita tersebut mengeluarkan duit lima puluh ribuan, saya taksir selama satu juta.

Lantas duit itu dibuang kepada Kak Niko.

“Bagaimana”, kata perempuan itu. “Thanks darling”,jawab Kak Niko.

Hasil togel – Dan wanita tersebut tidur rebahan di sebelah kakakku. Mereka ngobrol namun tangan setiap aktif menjamah wilayah sensitif lawan. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ronde kedua jelas bermukim nerusin. Tidak butuh capai-capai pemanasan. Tapi saya menyaksikan sebelum mengerjakan ‘pertempuran’ mereka berdua kelihatannya mengkonsumsi obat. Sehingga permainan mereka tampak lebih seru dan panas. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Namun mata ini tidak dapat terpejam.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *