Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Dewasa | Merawat Kakak Ipar Yang Baru Menikah

Merawat Kakak Ipar Yang Baru Menikah – Aku biasa di pangil Kun. Kedua orang tuaku telah meninggal, Ketika tersebut aku baru ruang belajar 2 SMP,,aku darurat ikut Mas Pras. Dia ialah anak ayah dari isteri kesatu. Jadi aku dan Mas Pras bermunculan dari ibu yang berbeda. Mas Pras ( 30 tahun ) orangnya baik dan sayang kepadaku,,namun istrinya,,,,wah judes,,dan galak.

Ketika Ibuku meninggal, yang menyebabkan aku jadi sebatang kara di dunia, Mas Pras baru seminggu menikah. Kehadiranku di family baru itu, tentu paling mengganggu privasi mereka. Rumah kontrakan sempit melulu ada tiga ruang. Kamar tidur, kamar tamu dan dapur.

Aku menikmati sikap yang tidak cukup enak ini semenjak aku muncul di situ. “Kun,,anda tidur di kursi tamu dulu,,ya,,? Atau di karpet pun bisa. Kamu tau kan, memang tidak terdapat tempat?,” Mas Pras menyapaku dengan lembut.”Sama Mbak-mu mesti nurut.

”Bantu dia kalu tidak sedikit pekerjaan”,,aku melulu mengangguk. Aku tidak begitu akrab dengan Mas Pras,,sebab memang jarang bertemu. Aku di Jogja, Mas Pras kerja di Semarang. Nengok ibu (tiri) sangat setengah tahun sekali. Sambil mengirim duit buat ongkos sekolah aku. Kakak kemudian berangkat kerja. Dia ialah sopir truk antar- propinsi. Saat tersebut aku putus sekolah

Di Jogja belum keluar,,namun di Semarang belum masuk ke sekolah baru. Sehari-hari di lokasi tinggal sempit tersebut menemani kakak ipar yg baru seminggu ini kukenal. Rasanya aku tidak krasan bermukim di,”neraka”,ini. Tapi inginkan ke mana dan inginkan ikut siapa? Pagi tersebut aku sudah berlalu menjemur pakaian yang dibersihkan Mbak Narsih. Kulihat dia lagi sibuk di dapur. “Mbak,,saya disuruh tolong apa?,”aku mengupayakan pedekate dengan Mbak Narsih”.

“Cah lanang, bisanya apaaa. Sana ambil air,,cuci gelas, piring dan penuhi bak mandi”,sakit telinga dan hatiku mendengar perintahnya yang kasar. Tanpa ba-bi-bu seluruh kulaksanakan. Karena tak terdapat lagi yang harus digarap lagi,,iseng-iseng aku nyetel radio kecil di meja tamu (Kakak gak punya tivi) “E,,,malah dengerin radio,,,,,sana melakukan pembelian barang ke warung”,aku diberi susunan belanjaan. Untungnya aku telah biasa menolong Ibu saat beliau masih ada. Aku hidup bareng Ibu semenjak kecil, sebab ayah telah lama meninggal. Agak jauh warung itu.

Aku tidak malu-malu dan canggung beli sayuran, justeru Bu Salamun,,yang jual sayur heran,”mbok,,nyuruh pembantunya, to cah bagus. Kok melakukan pembelian barang sendiri.” Aku hanya senyum saja. “Ini,,mbak,,belanjaannya. Ini susuknya”, Kuserahkan tas kresek dan duit kembalian, namun Mbak Narsih tetep sibuk marut kelapa.

BalakTiga.com – Kutaruh saja tas kresek tersebut di kursi kayu dekat kompor minyak. Memang kesannya dia baru marah. Padahal aku tidak merasa melakukan kekeliruan apa pun. Tanpa diajak aku ikut mengupas bawang, memetik sayur dan menyiapkan bumbu yang tadi kubeli. “Mau buat sayur lodeh,to Mbak?” “Sok tau”,,jawabnya ketus. Dia mulai masak. Aku terbit saja.

Ada rasa ngeri deket-deket orang marah. Di luar aku nggak berani dengerin radio lagi. Ingin rasanya aku menangis dan pergi dari lokasi tinggal ini. Aku duduk di teras rumah menyaksikan orang selesai lalang di depan rumah. Tiba-tiba aku membaui masakan yang gosong.

Tapi aku tidak berani masuk. Takut dibentak istri Mas Pras yang cantik namun guualakke pol itu. “Kuuuuuunnn,,,sini”, Mbak Narsih berteriak memanggil. Aku bergegas masuk. Kulihat dapur berantakan. Panci sayur di lantai,,sayur tumpah. Kursi tempat membubuhkan bumbu telah terguling.Bumbu bertebaran di lantai.

Dan,,kompor menyala besaar sekali. Untung aku tidak ikut panik dan bisa beranggapan cepat. “Mbaaaakk,,kenapa tanganmu?” Kulihat tangannya merah melepuh, Tangan Mbak Narsih kelihatannya ketumpahan kuah namun perhatianku lebih tertuju pada kompor yang menyala besar sekali,,,cepat kuambil keset di ruang tamu, kubasahi dengan air cucian dan kututupkan ke kompor yang menyala itu.

Sesaat lantas kompor tersebut padam. Cepat kupetik papaya di depan lokasi tinggal ( padahal tersebut milik tetangga) kubelah gunakan pisau. Lalu getahnya kuusapkan ke tangan Mbak Narsih yang melepuh. “Jangan,,nanti sakit,,ngawur,,aduuuuh,,,” Mbak Narsih menangis dan aku nekad mengasuh & memblokir lukanya iu dengan sayatan-sayatan papaya mentah.

Luka tersebut akhirnya tertutup seluruh dengan sayatan buah papaya. Keliatannya usahaku berpengaruh. Mbak Narsih agak tenang sekarang. “Sudah dingin, Mbak?” aku menatap dengan iba kakak iparku yang malang ini. Air matanya meleleh.

Dia diam berdiam diri sambil menggigit bibirnya menyangga sakit. Pasti panas dan perih,,aku tahu itu. “Kun,,anda gak dapat makan siang.” Akhirnya terbit suara Mbak Narsih,,pelan tidak galak lagi.“Wis Mbak, tidur saja,,masih sakit kan?” kutegakkan kursi yang terguling dan kutuntun Mbak Narsih duduk. Dapur segera kubersihkan.

Kompor dapat menyala lagi. Sisa-sisa bumbu yg terdapat kupakai guna masak sayur pepaya. Aku telah terbiasa menolong Ibu,,jadi ini melulu suatu kebiasaan. Mbak Narsih melulu melihat aku sibuk di dapur tanpa komentar. Dia terus-terusan mengaduh kesakitan.

Tapi aku mendahulukan selesainya kegiatan di dapur. Sayur telah masak. Nasi telah ada. Semua kuatur di meja tamu yang sekaligus menjadi meja makan. “Mbak,,inginkan makan? Tak ambilke,,ya?” Mbak Narsih melulu memandangku dengan mata basah.

“Kun,,anda baik,,ya? Terimasih,,ya Dik, namun kedua tanganku melepuh begini, dan ini perutku perih sekali. Kulihat perut Mbak Narsih, Astaga,, Ternyata daster sebelah kiri telah terbakar dan perut Mbak Narsih bengkak kemerah-merahan. Aku cari sisa-sisa irisan papaya tadi. Aku parut lembut dan kuparamkan di perutnya.

Agen BandarQ Online – Waktu tersebut aku tidak beranggapan macem-macem, sebab perhatianku pada penderitaannya. Dia agak tenang sekarang. ”Ambilkan daster Mbak yang utuh di lemari, Kun. Yang kupakai ini dilemparkan saja,,telah separo terbakar”,,aku ambilkan daster pink di lemari lalu,,,aku berhenti dan termangu di depan Mbak Narsih,”ayo,buka daster yang terbakar ini. Tolong diganti dengan yang anda ambilkan tadi”,mbak Narsih menyaksikan keraguanku tadi.

”Pelan,,pelan,,,ada yang masih lengket di kulit,,,ssss,,adduuuh,,Akhirnya daster itu dapat kulepas. Baru kali ini aku menyaksikan dengan jelas dan dari dekat, wanita separuh telanjang. Mbak Narsih berkulit putih bersih. Perutnya rata dan,,yang terbungkus di bra hitam tersebut bulat putih dan besaar. Aku terpukau sesaat,”Ayoooo,,,dingiiin,,kun. Cepat ambil daster pink itu”,aku tersadar dari daya tarik keindahan di depanku segera memakaikan daster itu. Siang tersebut aku menyuapi Mbak Narsih,”Enak,,Kun,,masakanmu.

Kamu kok dapat masak,,to?,”Halah,,aku Cuma liat Ibu masak dan sering menolong Ibu”, Tapi dalam hati aku bangga mendapat perhatian laksana itu. Lik Yanto dan Mbak Saodah,,isterinya,,datang menengok dan memberi salep dingin.

Tiap hari,,pagi dan senja aku mengolesi luka-lukanya. Kedua tangan,,jari,,dan perutnya. Tiga hari aku mengasuh Mbak Narsih,,,sekitar merawat keadaan sudah berubah total. Keadaan dia,,dua tangannya hampir nggak bbisa pegang apapun. Telapak tangan melepuh,,menciptakan dia menyadari bahwa ketika itu,,aku dibutuhkan merawat nya,,sekitar Mas Pras belum pulang.

Karena tiap pagi dan sore,,mengepel tubuhnya, aku dapat melihat dari dekat laksana apa tubuh perempuan dewasa itu. Saat aku mengelap tubuhnya,,aku jadi tau,,format payudaranya yang bulat dan kenceng, putingnya yang coklat dipucuk gunung putihnya,,saat kulepas celdamnya,,dapat kulihat bibir bawahnya yang estetis berambut tipis. Pangkal pahanya lebih putih daripada sekitarnya. Memang Mbak Narsih perempuan cantik sempurna.

Kakakku tidak salah memilih pasangan hidupnya. Mas Pras ganteng,,mbak Narsih cantik. Hidungnya mungil namun tidak pesek. Runcing estetis di atas bibirnya yang mungil. Seperti artis,,namun tubuh kakakku jauh lebih banyak dan lebih tinggi. Tanpa kusadari,,aku kok merasa asyik mengasuh kakakku ini. Pengen nya hari segera senja atau bila malam hendak segera pagi.

Ada kecintaan untuk mengasuh dan menyaksikan keindahan itu. Ah,,berdosakah aku? Sering aku diam melamun diombang-ambingkan perasaan hendak menikmati tapi pun merasa bersalah untuk Mas Pras. Setelah tiga hari melulu di lap dan dipel dengan handuk basah,,pagi tersebut dia mohon dimandikan dengan air hangat. Kusiapkan air hangat di baskom. Mbak Narsih duduk di kursi kayu, kamar mandi kubiarkan terbuka, supaya ruangan lebih luas dan aku dapat ikut masuk menyiram tibuhnya dan memandikannya.

BandarPkv.org – Aku menikmati kehalusan kulitnya ketika aku menyabuni tubuhnya. Pahanya yang mulus dan bersih, pundak dan lehernya yang jenjang dan putih. Tadinya aku ragu-ragu guna menyabuni susunya. Tapi Mbak Narsih dengan,”marah”,memaksaku menyabuni bukit kembarnya itu. ”Kun,,terus saja gosok dan putar-putar di situ,,biar bersih”,perasaan telah bersih banget,,kenapa diajak menyabuni terus. Melihat kemontokannya terasa celanaku jadi sempit.

“Nah. Diputar putar gitu,,kun. Terus dari bawah diusung sambil digosok”, Mbak Narsih terus member pengarahan. Kusangga payudaranya naik,,lalu tidak banyak kuremas dan kupijit. Mbak Narti tidak protes,,cuma memandang ke payudaranya yang semakin menggembung montok itu. Apalagi kedua tangannya diusung naik sebab takut telapak tangannya yang luka terpapar air,,sampai-sampai keteknya yang bermbut tipis tersebut terbuka lebar.

Payudaranya terangkat naik. “Sekarang, ambil air lagi,,disiram pelan-pelan,sambil dihilangkan sabunnya”, Kuguyur merata, dan sisa-sisa busa larut ke bawah menampakkan kecerahan kulitnya yang semakin terang. Aku yakin tanpa lampu juga kamar mandi tersebut akan cerah benderang sebab kecerahan kulitnya.“Dikosoki,,kun biar dakinya ilang”, Mbak Narsih mengulang lagi. Mulutku terkatub rapat seraya menggigit bibir, menyangga perasaan mengherankan di hati, kugosok-gosok saldo sisa sabun yang terasa licin itu.

Memang enak rasanya menyentuh daging lunak ini. Aku justeru setengah meremas pada ujung-ujungnya. Aku heran mengapa pucuknya keras. mengapa setiap aku remas ujung susunya, Mbak Narsih memejamkan matanya. ”Masih sakit”,,mbak? Dia Cuma menggeleng namun tetap mata terpejam.

“Kun, telah tiga hari ini Mbak nahan guna tidak ke WC,,namun perutku telah sakit banget. Aku inginkan ke WC,,nanti tolong anda semprot ya anuku, gunakan toler air. Tanganku masih melepuh”,mbak Narsih jongkok di WC,,pintu kututup. Wah,,baunya sampai pun di luar. Aduuuh, tugas berat nih, keluhku dalam hati menginginkan kotoran yang baunya saja telah begitu menyengat. Kupijit hidungku. ”Kun,,buka pintu WC dan semprot aku ya”,kudengar suaranya dari dalam.

Sudah kusipkan air yg kuberi tidak banyak obat pel yang wangi. Kubuka kran dan kutembakkan ”water kanon”,tersebut untuk mencuci kotoran yang menempel di sana. Lalu Mbak Narsih mengembalikan badan,,membelakangiku. Pantatnya yang besar dan putih tersebut terpampang di hadapanku,”Semprot”, Kun,,! Aku arahkan dari bawah air tersebut menyemprot lubang anusnya. “Sudah bersih belum Kun?” Mbak Narsih nungging, tampak dua lubang dobel.

Berwarna pink semuanya. Ooo,,laksana ini format tempik wanita dewasa dari dekat? Celanaku semakin mengggembung. ”Sudah belum? Kok lama sekali lihatnya?” dia protes,,”SSssuudah…Mbak, jelas sekali,,eeehh bersih sekali”,aku jadi salah tingkah dan keseleo lidah. ”Sekarang ambil sabun. Tolong sabunilah biar hilang baunya. Tanganmu gak bakal kena kotoranku lagi”, Haaaa,,,menyabuni “ituuu?” Aku kok jadi bersemangat, namun kusembunyikan kegiranganku tersebut dengan bersikap senormal dan setenang mungkin.

Kugosok anusnya dengan sabun, kemudian kemaluannya secukupnya,,lantas kubilas lagi dengan semprotan air wangi tadi,, Pengin-nya aku inginkan lama- lama,,namun aku malu. Waktu meraba belahan kemaluan Mbak Narsih tadi,,punyaku berkedut-kedut hebat laksana mau kencing. ”Kun,,kok cepet-cepet,,ya nggak bersih dong”, Sergah Mbak Narsih dengan raut marah.”Ayo lagi”, Aku ambil sabun lagi. Lubang duburnya kuusap-usap pelan,,dari belakang kulihat bokong putih tersebut terangkat-angkat ketika aku mengelus tadi.

Seluruh permukaan bokongnya kusabuni dengan sarat perasaan. O,,bersihnyaaaa..ooo putihnya…. Lalu kutelusupkan jariku maju ke,”garis”,di depan sana. Ternyata jariku,”keceplos”,ke dalam alur yang basah dan hangat. Di dalam terasa terdapat keduta-kedut yg mengapit jariku.

Seperti aliran listrik,,menjalar ke celanaku terasa pun kedutan kedutan binal di yang semakin terasa. “Terus saja, Kun,,teruussss,,nah,,pinter kamu,, Kun”,,mbak Narsih menggumam laksana ngomong sendiri. Aku semakin tak dapat menahan kedutan di celanaku. Tak terasa dan tak kusadari, jariku bergerak menusuk semakin dalam ke,”sana”,seiring rasa yg kurasakan.

Ujung jariku terasa menggapai-gapai sesuatu yang menonjol di dalam,”sana”,dan Mbak Narsih mendesis,”Aaaaahhhh,,,ssssshhh”,mendengar rintihan Mbak Narsih, aku semakin,”menderita”,sebab ada semacam gelombang getaran yang mau menembus benteng. Jariku bergerak maju-mundur semakin cepat dan gelombang tersebut semakin mendekat.

”Aaaahhhh,,Mbak”. Bersamaan dengan tersebut Mbak Narsih pun merintih,”Ahh ssshhh,,,,aku keluaarrrr,,,oooohhhh”, Aku merasa terdapat yang terbit di celanaku. Aku ngompol! Padahal aku tidak tidur? Tapi kok enaaak sekali? Tiba-tiba aku merasa malu, takut bila Mbak Narsih menoleh dan menyaksikan celanaku basah. Mbak Narsih keliatan lemes namun wajahnya mengekspresikan kepuasan.

sgp45.live – Setelah kulap dengan handuk semua tubuhnya, aku kenakan daster yang bersih. Rambutnya aki sisir rapi. Mbak Narsih diam saja dengan sikap manis. Pagi ini tampak dia paling cantik. Sambil menyisir rambutnya, kupandangi sepuasnya makhluk cantik di hdapanku sepuas-puasnya. Seminggu lantas Mas Pras pulang. Perban telah dilepas, namun tangan jadi belang. ”Kenapa, Sih, tanganmu?,”Mas Pras tampak kuwatir. ”Kompornya meledak. Untung terdapat pahlawan kecilmu”. Mas Pras membelai kepalaku. dia tersenyum.

Aku jadi bangga campur nalu. Aku cemas Mbak Narsih kisah kalau aku menyeboki dia. Aku berdebar- debar terus. Untung Mbak Narsih malah kisah kalau aku ternyata pinter masak dan merawat. “Dik Narsih,,Kuntadi ini juara masak dalam lomba masak di sekolahnya. Dia pun bintang lapangan basket”.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *