Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Cerita Seks | Narti Pembantu ABG Namun Sudah Janda

Narti Pembantu ABG Namun Sudah Janda – Saat SMA aku tinggal bareng keluarga yang terhitung masi saudara. Untuk menolong pekerjaan rumah, keluarga tersebut memperkerjakan seorang pembantu, janda, masih abg dan cantik. Seneng aku menyaksikan Narti, begitu nama janda yang penolong itu. Aku mondok di di antara kamar dan Narti istirahat dikamar sebelah kamarku. Sudah sejumlah kali aku ngintip Narti saat dia abis mandi.

Dari jendelanya yang tidak tertutup korden dengan sempurna aku sudah sejumlah kali memandang penuh napsu ke body Narti yang putih mulus, toketnya sempurna bentuknya, gak besar si, namun gak pun tocil, dihiasi dengan pentil imut berwarna pink, pertanda belum tidak jarang diemut lelaki. Kalo toh Narti dah gak prawan, sangat dia baru sejumlah kali ngerasain kemasukan kontol di memeknya. Perutnya rata dengan puser yang berbentuk segaris, dan jembutnya lebat juga, apik menutupi wilayah me meknya.

Bandar q – Pernah satu malem, aku kembali terlambat, kudengar erangan dari kamar Narti, saat kuintip, Narti sedang telentang telanjang bulet, tangan satunya meremas toketnya sembari memelintir pentilnya sedang tangan satunya sedang mengilik itilnya sendiri. Wah napsuku melonjank drastis, kon tolku langsung keras, namun aku belum berani mengerjakan lebih jauh dari sekadar ngintip terus, kesudahannya aku gak tahan.

aku masuk ke kamarku sendiri dan mengocok kon tolku abis2an sembari menginginkan sedang ngen totin Narti sampe kesudahannya pejuku muncrat dengan derasnya. Ketika aku terbit kamar, kulihat kamar Narti telah gelap, rupanya dia sudah berlalu mengilik dirinya sendiri, gak tau klimax atu enggak. Esok harinya, aku berjuang nanya ke Narti, “Ti, semalem anda sakit ya”. “Enggak kok mas”, dia memanggilku mas. “Aku denger anda merintih2 kok”. Narti kulihat merah mukanya, “Gak apa kok mas”, sembari mengelak supaya aku gak bertanya lebih jauh. “Kok malu si Ti, emangnya semalem anda ngapain, aku tau lo anda ngapain”, gangguku. “Mas ngintipin Narti ya”, katanya malu. “Abis rintihan anda bukan rintihan sakit si”.

“Abis rintihan apa”. “Rintihan berahi, lagi napsu ya Ti, kok gak ngajak2 si kalo lagi horny”, kataku to the point. Kemudian dia selesai sambil tersipu.

Malemnya, Narti papasan ma aku saat dia mo pulang ke kamarnya. “Mo mengerang lagi Ti”, godaku. “Ah mas nggodain Narti aja nih, kan malu, mana diintip lagi”. “Abis kedengaran, aku kira anda sakit, gak taunya lagi nikmat. Kok dadakan ngilik sih”. “abis liat mas telanjang”. “Hah”, kini aku terkaget2 rupanya dia pun ngintipin aku kalo aku dikamar telanjang dan ngocok sendiri. Pantes aku suka denger kresek, sampe aku kirain terdapat tikus, gak taunya Narti yang ngintip lewat korden yang gak rapet. “satu sama dong”, kataku lagi. “Daripada anda ngintip gak jelas, aku inginkan kok kasi liat ma kamu. Mau liat gak”.

“Mas punya besar ya, panjang lagi”. “Memangnya anda dah perna liat punya pria laen”. “Cowok Narti dulu”. “Besar gak”. “Besaran dan panjangan punya mas”. “Sekarang masi?” “Udah enggak, sebenarnya aku dah kasi nikmat ma dia, dia justeru ninggalin aku ma cewek yang lebi montok dari aku”. “Kasian deh, dah jadi cewek aku aja ya, aku tipe pria setia kok”. “Setia apanya, suka ngintipin orang kok setia”. Aku hanya tertawa mendengarnya. “Kamu dapat mijet kan, aku inginkan dong dipijetin”. “Mas pengen dipijet ato mo mijet Narti”. Dua2nya, pijetin aku ya, pegel2 nih badan”. “Iya deh, tapi hanya mijetin aja yah”. Aku menggangguk. Kuajak dia masuk kekamarku, pintu kututup. aku masuk kamar mandi dan mencungkil semua yang nempel dibadanku. kon tolku dah tegak keras banget, napsuku dah sampe diubun2, pokoknya malem ini aku mesti nikmati Narti, kayanya dia pun gak keberatan kok ngen tot ma aku. Aku terbit dari kamar mandi dengan membelitkan handuk di pinggang, “Kamu gak buka baju Ti, ntar keringatan”.

Narti melulu mengenakan tank top dan celana pendek saat itu. “Ntar mas napsu lagi kalo Narti buka baju, gini aja gak apa ya mas”. “Ya terserah anda ja, kan gak enak kalo kringeten”. Aku menelungkup didipan. Dia mulai memijat pahaku. Pijatannya kian keatas, sebatas handuk, lantas langsung ke pinggang, terus sampe ke pundak. Setelah berlalu dia melap badanku dengan anduk basah. “Depannya enggak Ti, sekalian aja”, pintaku sambil mengembalikan badan. Dia terkejut saat aku telah berbaring telentang, kon tolku nongol dari lipatan handuki. kon tolku besar dan panjang dan telah keras banget. “Ih mas, kok ngaceng sih”, katanya genit. “Berdua sama cewek cakep dan seksi kaya kamu, mana dapat nahan napsu. Remes kon tolku aja ya Ti”, kataku sambil unik tangannya dan kuarahkan ke kon tolku. Dia menurut keterangan dari saja, langsung kulepas lipatan handukku, sampai-sampai terbukalah akses ke kontolku. Diremes dan dikocok pelan, “mas besar banget kon tolnya, panjang lagi.

Ngacengnya keras banget”. napsunya bangkit juga, sampai-sampai kocokannya kian cepat. Aku segera duduk dan memeluknya. Bibirnya langsung kucium. “Ti, dilepas ya baju kamu, aku dah kepengen gantian mijit anda ni”. “Janjinya enggak kan mas”. Kembali bibirnya kucium dengan ganas, sedangkan tanganku mulai mengelus2 toketnya. “Ti dimulai ya bajunya, aku pengen meremes langsung toket kamu”. Tanpa menantikan jawabannya, aku melepas tanktopnya. Narti mengusung tangannya keatas guna mempermudah aku mencungkil tank topnya. Kemudian giliran celana pendeknya yang aku selorotkan. aku membelalak menyaksikan bodinya yang melulu terbungkus bra dan cd, “Ti, anda napsuin sekali”. Lampu kamar segera kupadamkan. Yang menyala sekarang melulu lampu istirahat yang temaram. Biar lebih romantis. Aku segera membaringkan tubuhnya disampingku.

Dia menggeliat dan menghadap ke arahku. Aku menggeser badanku mendekati dia. kon tolku langsung melonjak begitu bersentuhan dengan lengannya. Dia berbaring diam di sampingku. Tiba-tiba dia mendekap dadaku. “Kenapa Ti, dingin yaaa……..”, kataku, aku mengenalkan tangan kiriku ke atas kepalanya. Dengan reflek dia mengusung kepalanya dan tanganku jadi mendekap kepalanya. Dengan manja dia menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku. Aku membelai kepalanya dengan lembut. Kuciumi rambut dan kepalanya dengan lembut. Aku semakin mempererat pelukannya dan melingkarkan kakiku ke pahanya. Sehingga pahanya menyentuh kon tolku. “mas…”, desahnya seraya menengadahkan wajahnya ke wajahku. Aku segera memagut bibirnya. Lama bibir kami berpagutan.

Redmi99.net – Kami hingga terengah-engah sebab terlalu bersemangatnya berciuman. Kami berhenti berciuman sebab sudah tidak dapat bernafas lagi. Setelah unik nafas sebanyak-banyaknya, kami saling berpandangan, dan tersenyum. Aku pulang merenggut lengannya dan cepat memagut bibirnya. Dia melayani cumbuanku. Aku melepas branya dan meremas-remas toketnya . Dia mendengus-dengus dan laksana kejang-kejang masa-masa aku memlelintir pentilnya. Aku pulang memagut bibirnya. Dia menggeliat-geliat. Kuciumi toketnya. Dia agak menggeliat. Kemudian aku mulai menjilati toketnya, memutari toketnya bergantian. Kuselingi dengan gigitan-gigitan kecil. Kemudian kusedot pentilnya seraya kugigit pelan. Dia pulang menggeliat seraya mengusung pantatnya.

Aku menggapai cdnya dan kupelorotkan ke bawah. Sambil tetap menggigit dan mengisap pentilnya, aku memakai kaki kananku guna menurunkan cdnya hingga terlepas sama sekali. Kemudian kuusap me meknya yang dilingkari jembut yang lebat. Aku mengusung kepalaku guna lebih jelas menyaksikan me meknya. Kemudian aku mengulum pentilnya. Kemudian jilatanku mulai turun ke arah perutnya. Dia agak meregang masa-masa lidahku mencari permukaan kulitnya dari mulai pentil hingga ke arah pusernya. Kemudian aku pulang memandangi me meknya. Aku duduk langsung menghadap me meknya. “Ti, jembut anda lebat, tentu napsu anda besar ya. Kamu gak puas kan kalo hanya dien tot seronde”, kataku seraya mendekatkan wajahku ke me meknya. Dia melulu mendesah saja. Pelan kucium me meknya.

Dia menggeliat. Kemudian kujilat dengan lembut selama bibir me meknya. Dia mengusung pantatnya seraya berpegangan pada sepre seraya mendesah, “aaaaaaahhhhhh..”. Aku lantas menciumi pahanya. Dia melonjak-lonjakan pantatnya sejumlah kali. Setelah agak lama menciumi pangkal paha sampat lututnya, aku mulai menunjukkan jilatan pada me meknya. Aku menjilati bibir me meknya. Dia menggelinjang dan mendesah, “auuhhhhhhhhh…….”. Kubuka tidak banyak bibir me meknya yang telah basah kuyup, dan segera menjilat it ilnya, “AAAGGGHHHHHHHH……..!!!!!!”, lenguhnya keras dan mengusung pantatnya tinggi-tinggi. Kumasukkan lidahku ke dalam me mek nya lantas kuputar-putar dengan desakan yang powerful ke sekeliling me meknya. Dia semakin bernapsu.

Dijambaknya rambutku sambil mengurangi kepalaku semakin keras ke arah me meknya. Sesekali aku menggigit it ilnya diselingi dengan sedotan. Napasnya kian tidak beraturan. Dia mendesah-desah dan kadang-kadang menjerit kecil, khususnya pada ketika it ilnya kugigit-gigit.Akhirnya, kedua kakinya mengapit kepalaku dengan powerful sekali. Kedua tangannya pun menekan kepalaku sekuat tenaga sampai-sampai hidungku pun terbenam dalam bukit me meknya. Dia merintih dan menggelinjang. Aku menyedot me meknya seraya menggigit it ilnya terus. Dia terhempas ke kasur dengan menerbitkan suara dengusan yang kuat. Aku terbebas dari jepitan kakinya. Aku megap-megap sedang dia terbaring lemas. Kucium sekali lagi me meknya. dia melulu tersenyum, “mas, spektakuler deh lidahnya, pake lidah saja Narti telah nyampe, lagipula pake besar mas ya”.

Kemudian aku menaiki tubuhnya dan kutempelkannya di bibir me meknya. Kudorong kepala kon tolku dengan jari agar masuk ke me meknya. Dia mendesah masa-masa kepala kon tolku menginjak me meknya. Kemudian aku menggerakkan tidak banyak maju mundur sampai-sampai dengan pelan tapi tentu seluruh kon tolku tenggelam di me meknya. Dia mendesah dan berpegangan erat pada sprei. Setelah kon tolku masuk semua, aku menciumi bibirnya, lantas agak membungkukkan badanku guna mengemut pentilnya. “Siap, Ti?”, tanyaku. “Hmmmm..”, dia mengangguk kecil dan tersenyum.

Aku menempatkan kedua tanganku di samping bahunya laksana orang push up. Kemudian pelan-pelan mulai mengusung pantatku. Setengah kon tolku keluar, lantas kudorong lagi. Semakin lama gerakan naik turun semakin cepat. toketnya terguncang-guncang masa-masa aku mengerjakan gerakan memompa ini. Dengan gemas aku mencium, menyedot dan menggigit pentilnya juga. Dia mengimbangi gerakanku dengan memutar pantatnya seirama dengan gerakan pantatku naik turun. Terasa sekali kon tolku laksana mengaduk-aduk me meknya. me meknya sesekali dikejang2kan memijat kon tolku yang sedang terbit masuk dengan cepat. Kemudian akupun mendirikan tubuh dengan posisi berdiri di atas lutut. Bagi keseimbangan, aku membuka kakinya lebar-lebar. Sambil berpegangan pada pahanya, akupun menyerahkan pijatan-pijatan berputar di pangkal paha sampai wilayah sekitar me meknya.

Dia menjadi mendengus keenakan. Gerakan putaran pantatnya jadi semakin liar. Dengan posisi ini aku dapat memandangi dengan leluasa terbit masuknya kon tolku di me meknya. Kadang-kadang aku merendahkan pantatku sampai-sampai sodokan di unsur atas dinding me meknya lebih terasa. Dia mulai menceracau, gerakan pantatnya telah mulai melonjak-lonjak tak karuan, aku sengaja menghentikan gerakan maju mundurku. Setelah pantatnya gerakannya pelahan lagi, aku tarik pelan-pelan kon tolku dan lantas memberikan sodokan yang cepat ke memeknya. Pantatnya langsung melonjak dan berputar lagi dengan keras. Setiap aku unik kon tolku, terasa bibir me meknya ikut tertarik keluar. Tapi begitu aku menyodokkan kon tolku, bibir me meknya terasa melipat ke dalam dan laksana menelan kon tolku.

Setengah jam kemudian, badanku telah basah oleh keringat. Kadang-kadang dia mengusung badannya, menciumku dan lantas menjatuhkan badannya lagi. Yang jelas sprei lokasi tidur telah tidak beraturan lagi. Dia masih mengelinjang-gelinjang merasakan sodokan-sodokan kon tolku. Akhirnya, dia merenggut leherku dan mendekapnya dengan kuat. Kakinya pun menjepit pinggangkua powerful sekali, seraya mendesah “aaagggghhhhhhh”. Akupun tidak menantikan lebih lama lagi. Segera kujatuhkannya badannya ke kasur dan kupeluk dengan erat seraya mempercepat pompaannya. Pantatku hampir-hampir tidak dapat bergerak sebab jepitan kakinya. Aku mempercepat gerakan kon tolku, dan sekali, dua kali, tiga kali, hingga empat kali aku mengejan, menyemprotkan pejunya didalam me meknya.

Domino 99 – Badanku menjadi tegang seraya masih berdekapan kuat dengannya. Beberapa ketika tubuh kami masih tegang berdekapan sambil menyangga nafas berjuang menikmatinya. Akhirnya tubuh kami menjadi lemas dan pelukannyapun mengendor. Kakinya telah tidak mengapit pinggangku lagi. Tapi aku masih tetap terbaring di atas tubuhnya. Aku menghirup kening, mata, hidung dan bibirnya. Akhirnya kami saling mencungkil pelukan. Dengan pelahan kucabut kon tolku dari me meknya.

Hasil togel – Dia tidak banyak menggelinjang masa-masa aku mencabutnya. “mas, nikmat banget deh dien tot sama mas. Lagian mas mesra banget deh memperlakukan Narti, laksana Narti ini pacar mas saja. Istirahat dulu ya mas, abis tersebut Narti masih kepingin ngerasain kon tol mas ngaduk2 me mek Narti lagi”, kataku. “Iya sayang, apa sih yang gak boleh guna kamu”, jawabku seraya tersenyum. Setelah tersebut kami berdekapan dan tertidur sebab kelelahan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *