Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Ketika Aku Menunggu Di Halte Bus Terlihat Gadis Cantik

Ketika Aku Menunggu Di Halte Bus Terlihat Gadis Cantik – Aku mengenalnya kesatu kali saat nunggu bus di suatu sudut Jakarta. Tiba-tiba saja turun hujan. Aku hari tersebut memang telah sedia payung lipat sebab waktu berngkat dari lokasi tinggal kulihat langit telah gelap.

Kubuka payungku dan kulihat seorang gadis,,masih muda,,berlari menjebol hujan. Kusambut saja dia dengan payungku dan kami berpayungan bersama. Selama berpayungan bareng kami melulu saling berdiam saja. Akhirnya kami berteduh di bawah emperan toko.

“Iiih,,laki-laki kok bawa payung,,tumben-tumbennya terdapat laki-laki fobia hujan”,katanya.

“Bukannya berterima kasih,,malahan mencela. Coba bila tadi aku nggak bawa payung anda udah basah kuyup”,kataku tanpa merasa tersinggung. Biarin aja orang inginkan ngomong apapun,,nggak efek bagiku. Tapi aku sendiri heran pun kok tumben memang aku inginkan bawa payung. Biasanya cuek aja.

“Mau kemana?”,tanyaku.

“Pulang ke Grogol”,jawabnya.

Agen Poker – Kutanya namanya,,kudengar dia jawab bahwa namanya Yuli. Akhirnya angkutan yang ditunggunyapun datang. Akupun kembali ke rumah. Beberapa hari lantas di lokasi yang sama pulang aku bertemu dengannya.

“Hai,,masih ingat aku?”,tanyaku.

“Masih. Mana payungnya,,kok nggak dibawa?”,jawabnya.

“Ah,,hari panas gini kok”.

“Baru kembali Yul?”

“Namaku Yuni,,bukan Yuli”.

“Kemarin Yuli,,sekarang Yuni kelak apa lagi,”,olokku.

“Kamu aja yang budi,,dari dulu pun namaku Yuni,,kadang pun dipangil Ike”.

Dari tadi suaranya datar,,cenderung ketus. Kuajak Yuni untuk santap Soto Betawi di seberang jalan.

“Buru-buru Yun? Makan dulu yuk!”,ajakku.

“Boleh,,tapi anda yang traktir”.

“Jangan kuatir”.

Akhirnya kami masuk ke dalam warung tenda Soto Betawi. Kupesan dua porsi namun dia menolak.

“Aku nggak usah,,masih kenyang. Aku minum es teh saja”.

“Ya sudah. Bang sotonya satu es tehnya dua,”,kupesan pada si abang tukang soto.

Kami duduk berhadapan diceraikan oleh meja kecil guna 4 orang. Aku santap dengan cepat dan lantas mulaiminum es teh tadi. Karena mejanya kecil lutut kami dapat saling beradu. Tiba-tiba Yuni menggoyangkan lututnya agak keras.

“Kenapa?”,tanyaku.

“Orang di belakangmu dari tadi lihatin aku terus”.

“Biarin aja,,mata dia sendiri aja”.

Kedua lututnya lantas menjepit di antara kakiku. Aku agak terkejut juga.

“Pijitin dong,”,kataku.

“Mau? Jangan di sini,”,katanya seraya mengedipkan mata.

Alamak,,apalagi yang terjadi sesudah ini?

“Jadi di mana?”,pancingku lagi.

“Di hotel saja”,sahutnya berbisik.

Kutatap dia,,seolah-olah tak percaya dia ngajak check in.

Aku segera selesaikan makan,,bayar dan terbit dari warung. Laki-laki yang dibilangnya tadi ngelihatin terus masih curi-curi pandang ke Yuni. Kami berjalan mengarah ke hotel dekat lokasi kami santap tadi. Sambil jalan kubisikkan di telinganya “Pakai kondom?”

“Terserah aja,”,jawabnya.

Aku nyaris tidak pernah gunakan kondom,,apalagi nawarin rekan kencanku guna pakai kondom dalam bercinta. Entah kenapa,,atau barangkali kasihan aja untuk Yuni makanya kutawarkan gunakan kondom. Sambil jalan kucoba cari-cari apotik atau toko obat,,tapi nggak ada hingga kami mendarat di hotel.

Begitu masuk kamar,,aku ke kamar mandi dan mencuci senjataku. Yuni berbaring di ranjang. Aku terbit dari kamar mandi dan Yuni menatapku. Ia berdiri dan segera melepas pakaiannya hingga ia telanjang bulat. Akupun lantas melepas pakaianku dan berbaring di sampingnya.

“Mas ini orang mana sih,,kok bulunya tidak sedikit sekali?”,tanyanya.

“Jawa pribumi 100%,”,kataku.

“Ada turunan Arab atau India kali ya?”,selidiknya lagi laksana tak percaya dengan jawabanku.

“Kamu kerja di mana Yun?”

“Di Pasar Minggu”.

“Kok inginkan ke Grogol lewat sini?”

“Iya,,sekaligus mampir lokasi bapakku kerja”.

Setelah ngobrol sejumlah saat aku tahu ternyata dia berasal dari Riau, umurnya tidak banyak di bawahku. Pada ketika ini aku dapat meneliti dia dengan lebih teliti. Tingginya kutaksir 150 cm,,kulitnya kuning kecoklatan,,agak kurus. Rambutnya lurus sebahu,,matanya kecil dan dadanya lumayan besar guna ukuran dia.

“Nggak usah mandi ya”,,kataku.

“Nggak usah,,nanti aja. Nanti aja sekalian” katanya.

“Oh ya,,katanya tadi inginkan pijitin saya,”,,kataku menggodanya seraya kuubah posisi tubuhku tengkurap.

Yuni merapat padaku dan tangannya mulai memijit tubuhku. Keras pun pijitan tangannya. Ia mulai memijit dari kaki,,kemudian paha,,tangan,,kepala dan punggungku.

“Udahan,,sekarang mana lagi yang inginkan dipijit?”,tanyanya menantang.

“Depan ini belum dipijit,”,kataku.

Aku mengembalikan badan dan Yuni segera menerkamku dengan ciuman yang ganas. Aku menjawab dengan tak kalah ganas. Kecil-kecil nafsunya besar pun nih anak. Bibirnya bergeser ke bawah dan ia menghirup dan menjilat leherku. Aku menggelinjang nikmat.

Napas kami mulai memburu. Sambil menciumi dan mengecup dadaku, Yuni memelukku erat. Kulihat buah dadanya yang kenyal dan padat dihiasi dengan puting kecil yang berwarna merah muda menantangku guna segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kusedot dan kukulum,,sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku. Tangan kiriku mengusap-usap ppipnya dengan lembut. Yuni merintih dan merintih saat putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat.

“Ououououhh.. Nghgghh, Mas.. Ouuhh.. Mas Anto”

Payudaranya kukulum berakhir sampai semuanya masuk ke mulutku. Yuni menjilati telingaku. Akupun terangsang hebat. Meriamku telah mengeras siap guna maju dalam peperangan yang dahsyat.

Cerita Dewasa – Yuni mencungkil diri dari pelukanku dan sekarang ia menjilati dan menciumi tubuhku. Dari leherku bibirnya lantas menyusuri dadaku,,dan “.. Oukhh, Yuni.. Yachh”,aku mengerang saat mulutnya menjilati putingku. Kutolak tubuhnya sebab tak tahan dengan rangsangan yang diserahkan pada putingku dan lantas kugulingkan ke samping.

Bibirku menyambar bibirnya. Kudorong lidahku menggelitik mulutnya. Lidahku lantas disedotnya. Tangannya mengembara ke selangkanganku dan lantas mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan besar.

“Puaskan aku, Mas. Bawa aku dalam lautan kenikmatan”,,ia memekik.

Tidak lama lantas tangannya mencengkeram meriamku dan kurasakan pantat dan pinggul Yuni bergerak-gerak menggesek meriamku. Kepala meriamku lantas masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Terasa sempit dan basah.

“Akhh.. Oukkhh” Yuni mendongakkan kepalanya dan memberikan peluang kepadaku guna menjilati lehernya yang tepat di depanku. Ia memutarkan pantatnya dan dengan tusukan keras akhirnya seluruh batang meriamku telah terbenam dalam vaginanya.

Pinggulku bergerak maju mundur menimba kenikmatan. Kadang gerakanku kuubah menjadi ke kanan ke kiri atau berputar bertentangan dengan arah putaran pantatnya. Sesekali gerakanku agak pelan dan kugantung selangkanganku. Pantatnya naik agak tinggi sampai-sampai kepala meriamku sedang di bibir guanya dan lantas dengan cepat kuturunkan pantatku sampai seluruh batang meriamku terbenam ke dalam liang nikmatnya

Punggungnya naik dengan bertopang pada sikunya. Kuisap puting buah dadanya yang telah mengeras. Gerakanku menjadi semakin binal dan berat. Tangannya sekarang memeluk punggungku dan dadanya merapat pada dadaku. Tangannya meremas dan menjambak rambutku,,mulutnya mengerang dan merintih keras.

“Anto.. Ouhh Anto,,aku inginkan nyampai,,aku inginkan kelu.. Ar”.

“Sshh.. Shh”

“Anto kini ouhh.. Sekarang” ia memekik. Tubuhnya mengejang rapat diatasku dan kakinya membelit kakiku. Mulutnya mencari-cari mulutku dan kusambar supaya ia tidak mengerang terlalu keras lagi. Vaginanya berdenyut powerful sekali. Akupun menikmati akan menggapai kesenangan dan kutekan pantatku ke bawah dengan keras sampai meriamku mentok.

“Akhkhkh Yuni.. Terimalah tembakanku”,,kumuntahkan cairan maniku ke dalam vaginanya. Terasa tidak sedikit sekali dan meleleh terbit menetes di sprei.

Tubuhku melemas di atas badan Yuni. Keringat kami laksana diperas,,menitik di sekujur tubuh. Kemaluanku yang masih menegang kubiarkan tetap di dalam vaginanya hingga akhirnya mengecil dan terlepas sendiri.

Akhirnya kami bangun sesudah napas kami menjadi teratur. Kami masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci diri. Kami pulang mengarah ke rumah masing-masing. Karena telah agak malam dan angkutan umum telah jarang,,maka kuberikan biaya taksi guna Yuni. Kami janjian guna ketemu seminggu lagi.

Seminggu lantas kami telah ada di dalam kamar hotel. Kini aku telah menyiapkan kondom sebelumnya. Begitu masuk ke dalam kamar, Yuni langsung memelukku dan menciumiku dengan ganasnya. Tangannya dengan tangkas mempreteli baju lantas celana dan sekaligus celana dalamku. Setelah tersebut kemudian ia membuka pakaiannya sendiri dengan cepat. Tangannya sudah menjelajah ke selangkanganku,,meremas,,mengurut dan mengocoknya. Perlahan tetapi pasti meriamku semakin membesar dan mengeras. Kami masih berciuman dan memagut leher.

Kami mulai terangsang dan tubuh kami mulai hangat. Detak jantung mulai cepat dan napas menjadi berat. Kududukan dia di atas meja di dalam kamar. Kini kami lebih leluasa mengeksplorasi tubuh kami. Tangannya masih pun bermain di bawah perutku. Tanganku meremas payudaranya,,memilin putingnya. Kutarik pantatnya tidak banyak ke depan sampai-sampai posisinya sedang di bibir meja. Dengan pertolongan tangannya kucoba memasukkan penisku ke vaginanya dalam posisi aku berdiri. Ia menggerak-gerakkan pantatnya untuk menolong usahaku. Digesekkan kepala penisku pada bibir vaginanya.

Setelah lumayan pelumasan ia berbisik,,“Dorong Mas.. Dorong”.

Kudorong pantatku dengan pelan dan kesudahannya batang meriamku dapat masuk dengan fasih ke dalam guanya. Dalam sejumlah saat kami masih bertahan pada posisi berdiri. Kakiku telah mulai gemetar menyangga tubuhku. Kuangkat tubuhnya lantas kugendong berlangsung ke arah ranjang. Uuppss.. Sayang penisku terlepas. Kudorong dia seraya tetap berdekapan dan berciuman ke kamar mandi. Sampai kamar mandi kulepaskan pelukanku dan kami mencuci milik kami setiap terlebih dahulu guna melanjutkan permainan berikutnya yang lebih panas.

Kubopong tubuhnya yang mungil dan kuhempaskan ke ranjang. Sebentar lantas kami pulang bergumul guna saling memberi dan menerima kenikmatan. Yuni sedang di atas tubuhku. Kepala Yuni ke bawah,ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku dengan gigitan kecil di sepanjang batangnya.

Yuni memandangku dan aku unik buah zakarku sampai-sampai batang penisku pun tertarik dan berdiri tegak menantang. Aku memberi isyarat saat kepalanya terdapat di atas selangkanganku. Kepalanya lantas bergerak ke bawah. Ia mengisap-isap kepala penisku dan menjilatinya.

Tiba-tiba tubuhku laksana kena sengatan listrik saat lidah Yuni menjilat lubang kencingku. Kulihat Yuni dengan asyiknya menjilat,,menghisap dan mengulum kepala meriamku. Ia tidak memasukkan semua batang penisku ke dalam mulutnya,,melainkan melulu kepala penisku saja yang menjadi areal kerjanya.

Kutarik tubuhnya dan sekarang kutindih. Yuni memelukku dan menciumi daun telingaku. Aku merinding. Dadanya yang kencang dan padat mengurangi dadaku. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya.

“Ouhh mari Mas.. Aku.. Masukkan Mass.. Ayo masukkan”.

Aku menurunkan pantatku dan segera penisku telah tengelam dalam lubangnya.

“Mass.. Enak sekali Mas Anto,,aku.. Oukhh”

Ia memekik kecil,,lalu kutekan kemaluanku hingga amblas. Tangannya memegang erat punggungku. Tidak tersiar suara apapun dalam kamar di samping deritan ranjang dan lenguhan kami.

Kucabut kemaluanku,,kutahan dan kukeraskan ototnya. Pelan-pelan kumasukkan kepalanya saja ke bibir gua yang lembab dan merah.

Yuni terpejam merasakan permainanku pada bibir kemaluannya.

“Hggk“. Dia menjerit tertahan saat tiba-tiba kusodokkan kemaluanku hingga mentok ke rahimnya.

Kumaju mundurkan dengan pelan separuh batang hingga tujuh kali lantas kusodokkan dengan powerful sampai seluruh batangku amblas. Yuni menggerakkan pinggulnya memutar dan naik turun sehingga kesenangan yang spektakuler sama-sama kami rasakan. Kejantananku laksana dipelintir rasanya. Kusedot payudaranya dan kumainkan putingnya dengan lidahku.

Yuni laksana orang yang inginkan berteriak menyangga sesuatu merasakan hubungan ini. Ia memukul-mukul dadaku dengan histeris.

“Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Mass Anto.. Enak sekali.. Ooh”

Kini kakiku mengapit kakinya. Ternyata vaginanya nikmatnya memang luar biasa,,meskipun agak becek tetapi gerakan memutarnya laksana menyedot penisku.

Aku mulai menggenjot lagi. Yuni laksana seekor singa liaryang tidak terkendali. Keringat memenuhi tubuh kami. Kupacu Yuni memanjat lereng terjal sarat kenikmatan. Kami saling meremas,memagut,dan mencium.

Kubuka lagi kedua kakinya, sekarang betisnya melilit di betisku. Matanya merem melek. Aku siap guna memuntahkan peluruku.

“Yuni,aku inginkan keluar.. Sebentar lagi Yun.. Aku mau“.

“Kita sama-sama Mas, Ouououhh“. Yuni melenguh panjang.

Poker online – Sesaat kemudian.., “Sekarang Yun. Ayo sekarang.. Ouuhh”,,aku mengerang saat peluruku muntah dari ujung rudalku.

“Mas Anto.. Agghh” kakinya mengapit kakiku dan unik kakiku sampai-sampai kejantananku tertarik inginkan keluar.

Aku menahan supaya posisi kemaluanku tetap dalam vaginanya. Matanya tersingkap lebar,,tangannya mencakar punggungku, mulutnya menggigit dadaku hingga merah. Kemaluan kami saling menjawab berdenyut sampai sejumlah detik. Setelah sejumlah saat kemudian suasana menjadi sunyi dan tenang. Kami mencuci diri dan check out dari hotel.

Prediksi Togel Hk – Aku menggauli Yuni hingga lima kali dan setelah tersebut tidak pernah bertemu lagi. Dulu aku pernah mohon nomor telepon kantornya namun dia tidak inginkan memberikannya. Entah apa alasannya. Sampai kini aku tak pernah bertemu lagi dengan dirinya,,meskipun kadang-kadang aku masih nongkrong di lokasi biasa kami bertemu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *