Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Menikmati Tubuh Menantuku Di Hari Pernikahannya

Menikmati Tubuh Menantuku Di Hari Pernikahannya – Kali ini JEJAKMALAM akan mengisahkan Cerita Sex Terbaru saat diriku merasakan tubuh menantuku di hari pernikahannya. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik kisah dewasa ini.

Dina mematut diri di depan cermin. Ini ialah hari yang sangat di nantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak dalil kenapa kesudahannya dia mau menikah dengan Doni. Dan seks ialah salah satunya, meskipun Doni melulu mempunyai suatu penis yang kecil saja. Namun seks dengan pria lain menjadi jauh lebih mengasyikkan meskipun semenjak Doni telah mencantumkan sebuah cincin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam masa-masa yang bersamaan, masing-masing kali dia menikmati cincin itu di jarinya saat pria lain sedang meyetubuhi vaginanya yang dijanjikannya melulu untuk Doni.

Keragu-raguan itu melulu bertahan untuk sejumlah saat saja. Tangan Darma unik kaitan tersebut semakin ke atas ketika calon istri anaknya meneruskan mengusung gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah mengairi tenggorokannya yang terasa kering ketika akhirnya kaitan tersebut terpasang pada lokasinya di bagian sangat atas stockingnya. Dia yakin bisa mencium wewangian dari vagina Dina sekarang, yang menciptakan jantungnya seakan berkeinginan melompat terbit dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking tersebut melingari unsur atas paha Dina… dan dia menikmati bagian gaun pengantin tersebut terjatuh ketika Dina mencungkil sebelah pegangannya guna meraih unsur belakang kepalanya dan menunjukkan wajah Papah calon suaminya menghampiri ke vaginanya, dan Darma mengejar tak terdapat celana dalam yang terpasang di sana.

Dia ingat ketika malam dimana Doni melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berbicara “ya”, menciumnya dan merasakan bagaimana nyamannya rasa menggunakan cincin berlian yang paling mahal tersebut. Dan setelah santap malam bareng Doni itu, dia langsung menghubungi Alan, begitu mobil Doni hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke lokasi tinggal kontrakannya. Dina menantikan Alan dengan tanpa mengenakan selembar pakaianpun guna menutupi tubuhnya yang berbaring menantikan di atas lokasi tidurnya, cincin berlian yang baru saja diserahkan oleh Doni ialah satu-satunya benda yang melekat di tubuh telanjangnya. Ada desiran mengherankan terasa ketika matanya menciduk kilauan cincin berlian tersebut waktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah binal saat tangannya merangkum kedua payudaranya dengan sperma Alan yang melumuri cincin itu. Dan oergasme yang diraihnya malam itu, yang pasti saja bareng lelaki beda di samping tunangannya, paling hebat – tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat sementara dia menjilati sperma Alan yang sedang di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dengan urusan ini dan berencana bakal melakukannya lagi nanti pada masa-masa upacara perkawinannya nanti.

Saat ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin mengenakan gaun pengantinnya. Dia tampak menawan, dan dia sadar bakal hal itu. Dina tersenyum. Dia menginginkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Doni akan tidak sedikit yang muncul dan akan tidak sedikit lelaki beda yang bakal dipilihnya salah satunya guna memenuhu angan-angan liarnya. Vaginanya berdenyut, dan dia menginginkan apa yang bakal dilakukannya untuk menciptakan hari ini lebih komplit dan sempurna, ketika lonceng berbunyi nanti.

Saat dia membuka pintu, Papah Doni, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap guna menjemputnya dan mengantarnya ke gereja. Dina unik nafas dalam-dalam. Dia tahu pria di hadapannya ini paling merangsangnya – sejumlah bulan belakangan ini dia telah berjuang untuk menggodanya, dan dia pernah mendengar pria ini mengerjakan masturbasi di kamar mandi ketika dia datang berangjangsana ke lokasi tinggal Doni, menyinggung namanya. Dina belum tentu apakah gampang nantinya guna menggoda Darma supaya akhirnya inginkan bersetubuh dengannya, tapi kini dia akan menggali tahu mengenai hal tersebut. Dia tersenyum lebar saat menciduk mata Darma yang manatap tubuhnya yang dibungkus gaun pengantin ketat untuk sejumlah saat.

“Papah” tegurnya, dan memberinya suatu ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yang menggoda menyelimuti penciuman Darma. “Papah datang terlampau cepat, aku belum siap. Tapi Papah bisa membantuku.” Digenggamnya tangan Darma dan menariknya masuk ke dalam lokasi tinggal kontrakannya, lokasi yang bakal segera ditinggalkannya nanti sesudah menikah dengan Doni.

Darma mengikutinya dengan dada yang berbar kencang. Ini ialah saat yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan dapat dikatakan tidak cukup pergaulan tersebut dapat menikahi seorang perempuan cantik dan menggoda laksana ini, namun dia senang sebab nantinya dia akan memiliki lebih tidak sedikit waktu lagi untuk berdampingan dengan perempuan ini. “Apa yang dapat ku bantu?”

Dina berhenti di ruang tengahnya yang nyaman kemudian duduk di suatu meja.

“Aku belum memasang kaitan stockingku… dan sekarang, dengan pakaian ini… aku kendala untuk memasangnya.”

Suaranya tersiar manis, namun matanya berkilat binal menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibalut dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.

“Bisakah Papah membantuku memasangnya?”

Darma ragu-ragu untuk sejumlah waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini suatu “undangan” guna sesuatu yang beda lagi, ataukah melulu sebuah permintaan bantu yang biasa saja? Dia mengangguk.

“Oh, tentu…” dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya. Jemarinya tidak banyak gemetar ketika Dina dengan pelan mengusung kakinya . Darma berjuang untuk memasangkan kaitan stocking itu.

Dina menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih mendongkrak gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibungkus stocking putih. Dia dapat menikmati sebuah perasaan yang familiar mulai bergejolak dalam dadanya., suatu tekanan nikmat yang menciptakan nafasnya semakin sesak, menciptakan nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia dapat menikmati cairannya mulai membasahi. Kaitan tersebut akhirnya terpasang di dekat lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tak yakin apakah dia telah memasangkan dengan benar.

“Papah, seharusnya lebih ke atas lagi…” tangan calon Papah mertuanya yang berada tidak banyak dibawah vaginanya membuatnya menjadi berdenyut dengan liar.

Dina melenguh dan memejamkan matanya ketika harapannya terkabul. Darma tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir vaginanya, dan Dina semakin basah dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih menyangga gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi mengurangi wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, dia mulai menggoyangkannya perlahan. Ini serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya tepat di hari pernikahannya menciptakan tubuhnya semakin menggelinjang. Dia merintih saat lidah Darma menginjak lubangnya, dan lidah tersebut mulai bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah lokasi tinggal kontrakannya.

Semakin Dina menggelinjang, semakin keras pula Darma menghisapnya.

“Oh ya Papah… jilat vaginaku… bikin aku orgasme sebelum aku menyampaikan janjiku pada putramu… kumohon…” perasaan salah bakal apa yang mereka perbuat menciptakan Dina dengan cepat meraih orgasmenya, dan nyaris saja dia rubuh menimpa Darma. Ini bukan laksana orgasme yang biasa diraihnya, ini seperti susunan ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut masing-masing sel kesenangan dari dalam tubuhnya.

Cairan Dina terasa nikmat pada lidah Darma, dia menjilat dan menghisap vaginanya laksana seorang pria yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya mengairi bagian depan tuxedonya.

Dina pulang menggelinjang, kemudian dengan pelan bergerak mundur, tidak mempedulikan gaun pengantinnya menutupi Papah Doni. Lalu dia membuka resleting di unsur belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah terbit dari tumpukan gaun pengantinnya yang terbaring di atas lantai, melulu mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan pasti saja stocking beserta kaitannya yang baru saja dipasangkan Darma pada pahanya. Dina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dengan cairannya.

“Aku bakal ke kamar mandi untuk memperbaiki make-up, bila Papah membutuhkan sesuatu…” dia berbicara dengan mengedipkan matanya. Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminim dan menggoda. Hanya sejumlah detik lantas dia menyusulnya.

Saat dia menginjak kamar mandi dan berdiri di depan suatu cermin di atas washtafel, dan telah mengenakan suatu celana dalam berwana putih. Darma tahu bila ini ialah salah satu godaannya yang manis, dan dia sudah siap guna bermain bersamanya.

Dina melihatnya masuk, dan dengan suatu gerakan yang cantik membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam setiap bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke unsur depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Dina tersenyum. “Tapi Papah, bukankah ini tak layak dilaksanakan oleh seorang Papah calon pengantin pria?”

Darma memandangi bagaimana bibir Dina yang membuka ketika bicara, memperhatikan hembusan hangat nafasnya, seiring dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra. “Tak se pantas apa yang bakal kulakukan padamu.”

Dina menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya mengurangi penisnya yang mengeras.

“Aku nggak sabar,” bisiknya.
Sejenak lantas Dina menikmati tangan calon Papah mertuanya sedang di belakangnya ketika dia mencungkil sabuk dan tidak mempedulikan celananya jatuh turun. Dengan gampang tangan Darma unik celana dalamnya ke samping. Dina unik nafas dalam-dalam ketika dia menikmati daging kepala penisnya mengurangi bibir vaginanya yang masih basah.. Dia merintih dan memegangi tepian washtafel ketika dengan perlahan Darma mulai mendorongkan batang penis tersebut memasukinya. Dina menikmati bibir vaginanya menjadi terdorong ke dalam, menikmati dinding unsur dalamnya melebar guna menerimanya.

“Apa ini terasa lebih baik dari penis putaku?” Darma tersenyum puas. Dia tahu se berapa ukuran penis putranya, dan dia yakin bila putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa paling menakjubkan pada batang penisnya, dengan cepat dia sadar bila dia pantas untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dikomparasikan putranya. Dan dia mendapatkan tanda-tanda kalau dia dapat melakukannya kapanpun mereka mempunyai kesempatan.

“Oh brengsek!!! Ya Papah… ayo… beri aku yang terbaik guna merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu.” dia lebih menunduk ke bawah, dan menikmati tangan Darma pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya terbit masuk. Mereka sadar bakal terlambat menghadiri upacara pernikahan, namun Darma meyakinkan vagina sang mempelai perempuan benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Dina merintih dan menjerit dan bergoyang pada batang penis itu, mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayang-bayang mereka berdua di dalam cermin saat mengalirkan nafsu terlarang mereka.

Dina merasa teramat paling nakal, disetubuhi dengan pantas dan keras oleh Papah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Darma menikmati vaginanya mengencang pada batang penisnya, dan kali ini, dia merasa semua tubuh Dina mengejang sepanjang orgasmenya. Wanita ini ialah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti suatu busur panah yang direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan dapat menikmati pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya ketika dia tetap menyetubuhinya.

Dia sudah membuatnya menemukan orgasme laksana ini sekitar tiga kali, sampai dia hampir rubuh di atas washtafel, menerima hentakannya, vaginanya nyaris terasa keletihan untuk orgasme lagi. Tapi Darma tahu bagaimana membawanya ke sana.

“Kamu menginginkan spermaku, iya kan, Dina? Kamu ingin supaya aku mengisimu dan menciptakan vaginamu terlumuri spermaku yang telah mengering ketika berjalan di altar pernikahanmu, benar kan perempuan jalangku?”

“Oh ya… yaaa!” sang pengantin perempuan mulai kendala bernafas, dan Darma bisa merasakannya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yang dia mampu, dengan setiap desakan yang keras, dan segera saja dia menikmati sensasi terbakar tersebut A?a,?aEs dan dia tahu dia tak dapat menahannya lebih lama lagi. Tepat ketika penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yang tidak sedikit ke dalam kandungannya, dia menikmati tubuh Dina menegang dan orgasme guna sekali lagi.

Anekaprediksi.com – Dicabutnya batang penisnya keluar, menonton lelehan sperma yang bercucuran di pahanya mengarah ke ke kaitan stocking pernikahannya. Darma tersenyum. “Aku akan menantikan di mobil, Dina…”

Perlahan Dina bangkit, masih menggelenyar sebab sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut dan bocor. “Mmm, baiklah Papah.”

Dia menyimpulkan untuk mengerjakan “tradisinya” dan dan mengorek sperma Papah Doni dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian pemberian Doni.

Saat Darma menyaksikan mempelai perempuan putranya masuk ke dalam mobil, sudah apik dan bersih, tampak segar serta bersinar wajahnya dan siap guna upacara pernikahan, sementara bayangannya yang terpantul dari kaca mobil ialah saat Dina memandang tepat di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya itu.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *