Situs BandarQ Terpercaya
DAFTAR DI SINI www.BANDARPKV.com 1 ID Play 8 Games | Minimal Setor dan Tarik dana Rp.20.000 Bonus Referral 20% dan Bonus Turn Over 0.5%

Wanita Setengah Baya Yang Mau Kuajak Mesum Saat Salon Sedang Sepi

Wanita separuh baya yang inginkan kuajak mesum ketika salon Sedang Sepi – Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan,,kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masih kerasan di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela. Masih ada masa-masa bebas dua jam. Kerjaan hari ini telah kugarap semalam.

Daripada suntuk diam di rumah,,tadi malam aku menuntaskan kerjaan yang masih menumpuk. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang perempuan dewasa yang keringatan di lehernya,,yang wewangian tubuhnya tercium. Aroma pribumi seorang wanita. Baunya memang agak lain,,tetapi dapat membuat seorang bujang menerawang sampai jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.

”Dik,,,jangan dimulai lebar. Saya dapat masuk angin”,kata seorang wanita separuh baya di depanku pelan.

Aku tersentak. Masih melongo.

”Itu jendelanya dirapetin dikit”,katanya lagi.

”Ini,,?,,kataku”.

”Ya itu”.

Ya ampun,,aku menginginkan suara tersebut berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya meleleh laksana yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Seperti kulihat saat ia baru naik tadi,,setelah memburu angkot ini sekadar guna dapat secuil lokasi duduk.

”Terima kasih”,ujarnya ringan.

Aku sebetulnya hendak ada sesuatu yang dapat diomongkan lagi,,sehingga tidak butuh curi-curi pandang melirik lehernya,,dadanya yang terbuka lumayan lebar sampai-sampai terlihat garis bukitnya.

”Saya pun tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya gerah”,meloncat begitu saja ucapan-ucapan itu.

Agen BandarQ Online – Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita,,separuh baya lagi. Kalau sekarang aku berani pasti sebab dadanya terbuka,,pasti sebab peluhnya yang mengairi leher,,pasti sebab aku terlalu terayun lamunan. Ia justeru melengos. Sial. Lalu asyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak bisa lagi memandanginya.

Kantorku telah terlewat. Aku masih di atas angkot. Perempuan paruh baya tersebut pun masih duduk di depanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita tersebut mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan kendaraan serupa di depan suatu salon. Aku simaklah ia semenjak bangkit sampai turun.

Mobil bergerak pelan,,aku masih menyaksikan ke arahnya,,untuk meyakinkan ke mana arah perempuan yang berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit seraya mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau inginkan gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan,,bersamaan masuknya mobil beda di belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.

“Bang, Bang kiri Bang,,!”

Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?

“Pelan-pelan suaranya kan dapat Dek”,sang supir menggerutu sambil menyerahkan kembalian.

Aku membalik arah lalu berlangsung cepat,,penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes,,,akhirnya. Namun,,tiba-tiba keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku mesti bilang,,lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku merah padam. Lho,,salon kan lokasi umum. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come on lets go! Langkahku motivasi lagi. Pintu salon kubuka.

”Selamat siang Mas”,kata seorang penjaga salon,,“Potong,,creambath, facial atau massage (pijit),,?”

”Massage,,boleh”,ujarku sekenanya.

Aku dituntun ke suatu ruangan. Ada sekat-sekat,,tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi semenjak tadi aku tidak menyaksikan wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini,,hanya pura-pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu.

Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke,,”alam”,,lain. Dulu aku sangat anti masuk salon. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah,,,wanita yang lehernya berkeringat tersebut begitu besar mengolah keberanianku.

”Buka bajunya,,celananya juga”,,ujar perempuan tadi manja menggoda,,“Nih pake celana ini,,!”

Aku disodorkan celana pantai namun lebih pendek lagi. Bahannya tipis,,tapi baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menurut keterangan dari saja. Membuka celanaku dan bajuku kemudian gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua meter,,lebarnya melulu muat tubuhku dan lebih sedikit. Wanita muda tersebut sudah terbit sejak melempar celana pijit. Aku tiduran seraya baca majalah yang terbaring di rak samping lokasi tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.

“Tunggu ya,,!”,ujar perempuan tadi dari jauh,,lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan saat ia menerima kedatanganku.

”Mbak Wien,,udah terdapat pasien tuh”,ujarnya dari ruang sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.

Kembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang tersiar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan. Langkah sepatu hak tinggi terdengar,,pletak-pletok-pletok. Makin lama kian jelas. Dadaku mulai berdegup lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku kian membenamkan wajah di atas artikel majalah.

“Halo..!” suara tersebut mengagetkanku. Hah,,? Suara tersebut lagi. Suara yang kukenal,,itu kan suara yang meminta aku memblokir kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh,, aku melulu dapat menunduk,,melihat kakinya yang bergerak ke sana ke ayo di ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam. Aku tidak ingat motifnya,,hanya ingat warnanya.

”Mau dipijat atau inginkan baca”,,ujarnya ramah memungut majalah dari hadapanku,,“Ayo tengkurep,,!”

Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Aku kegelian merasakan tangannya yang menari di atas kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia menurunkan tidak banyak tali kolor sampai-sampai pinggulku tersentuh.

Ia menekan-nekan agak kuat. Aku meringis menyangga sensasasi yang waow,,!,,Kini ia pindah ke paha,,agak berani ia masuk tidak banyak ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.

”Balik badannya,,!,,pintanya”.

Aku mengembalikan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku memandang ke arah beda mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku juga segan mengawali cerita. Dipijat laksana ini lebih nikmat diam meresapi remasan,,sentuhan kulitnya.

Bagiku tersebut sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah,,,selangkanganku disentuh lagi,,diremas,,lalu ia menjamah betisku,,dan selesai. Ia selesai ke ruangan sebelah setelah merapikan cream. Aku melulu ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap saldo cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.

Di kantor,,aku masih terbayang-bayang wanita separuh baya yang di lehernya terdapat keringat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya,,dari lokasi tinggal kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa aku berangkat.

Jam berapa mesti hingga di Ciledug,,jam berapa mesti naik angkot yang sarat gelora itu. Ah sial. Aku terlambat separuh jam. Padahal,,wajah wanita separuh baya yang di lehernya terdapat keringat telah terbayang. Ini karena ibuku mengajak pergi ke lokasi tinggal Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih terdapat hari esok.

Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si separuh baya tersebut pasti telah lebih dulu mendarat di salonnya. Aku duduk di belakang,,tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos kencang sampai seseorang yang menyimak tabloid menutupi wajahnya terganggu.

”Mas Tut”,hah,,? suara tersebut lagi,,suara wanita separuh baya yang kali ini sebab mendung bukan lagi ada keringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku tersenyum. Ia tidak menjawab tapi lebih ramah. Tidak pasang wajah perangnya.

“Kayak kemarinlah”,ujarnya seraya mengusung tabloid menutupi wajahnya.

Begitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan,,karena ia masih mengusung tabloid menutupi wajah? Aku kira aku telah terlambat untuk dapat satu angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga diajak ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu saat pergi. Paling tidak terdapat untungnya pun ibu mengajak bayar arisan.

“Mbak Wien”,,gumamku dalam hati.

Poker Online – Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu dengan kata lain ia tidak inginkan diganggu. Mbak Wien telah turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah berakhir kancingku habis. Mengapa kancing baju hanya tujuh?

Hah,,aku terdapat ide: toh masih terdapat kancing di unsur lengan, bila belum lumayan kancing Bapak-bapak di sebelahku pun bisa. Begini saja daripada repot-repot. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang lima kemudian supir,,jadi enam kali tujuh,,42 hore aku turun. Tapi eh,,,seorang penumpang gunakan kaos oblong,,mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.

”Kiri Bang”,!

Aku lalu mengarah ke salon. Alamak,,,jauhnya. Aku tak sempat kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa,,hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.

“Mau pijit lagi,,?”,,ujar suara perempuan muda yang kemarin menuntunku mengarah ke ruang pijat.

”Ya”.

Lalu aku mengarah ke ruang yang kemarin. Sekarang telah lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak butuh diantar. Wanita muda tersebut mengikuti di belakang. Kemudian memberikan celana pantai.

“Mbak Wien,,pasien menunggu”,,katanya.

Majalah lagi,,ah tidak aku mesti bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tidak terdapat yang dapat dibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.

“Ayo tengkurap,,!”,kata wanita separuh baya itu.

Aku tengkurap. Ia mengawali pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal,,sehingga terayun pijitannya.

“Telentang”,!,,katanya.

Kuputuskan guna berani menatap wajahnya. Paling tidak aku dapat menyaksikan leher yang basah keringat sebab kepayahan memijat. Ia lumayan lama bermain-main di perut. Sesekali tangannya badung menelusup ke unsur tepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah kenapa begitu cepat.

Jarinya membelai tiap mili pahaku. Si Junior telah mengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran,,ia laksana tanpa ekspresi. Tetapi eh,,,diam-diam ia menculik pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.

Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ketika Si Junior melemah ia laksana tahu bagaimana menghidupkannya,,memijat tepat di unsur pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah. Lalu ia pulang memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Aku dipermainkan laksana anak bayi.

Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di ambang dipan. Ia mencuci punggungku dengan handuk hangat. Ketika mencapai pantatku ia agak mendekat.

Bau tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita separuh baya yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat wewangian itu. Ia tersenyum ramah. Eh dapat juga wanita separuh baya ini ramah kepadaku.

Lalu ia mencuci pahaku sebelah kiri,,ke pangkal paha. Junior berdenyut-denyut. Sengaja kuperlihatkan supaya ia bisa melihatnya. Di balik kain tipis,,celana pantai ini ia sebetulnya dapat melihat arah turun naik Si Junior. Kini pindah ke paha sebelah kanan.

Ia tepat sedang di tengah-tengah. Aku tidak mengapit tubuhnya. Tapi kakiku saja yang laksana memagari tubuhnya. Aku menginginkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi,,bayangan tersebut terganggu. Terganggu perempuan muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa destinasi jelas bolak-balik ke ruang pijat.

Dari jarak yang begitu dekat ini,,aku jelas menyaksikan wajahnya. Tidak terlampau ayu. Hidungnya tidak mancung tetapi pun tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlampau sensual. Nafasnya terhirup hidungku. Ah segar. Payudara tersebut dari jarak yang lumayan dekat jelas membayang.

Cukuplah bila tanganku menyergapnya. Ia terus mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak berani. Ciut. Si Junior tiba-tiba pun ikut-ikutan ciut. Tetapi,,aku mesti berani. Toh ia sudah laksana pasrah sedang di dekapan kakiku.

Aku mesti,,harus,,harus,! Apakah butuh menhitung kancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku mesti memulai. Lihatlah,,masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior ketika memijat perut. Ah,,kini ia justeru berlutut seperti menantikan satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha unsur belakang.

Kaki kusandarkan di tembok yang menciptakan ia bebas berlama-lama mencuci bagian belakang pahaku. Mulutnya serupa di depan Junior hanya sejumlah jari. Inilah peluang itu. Kesempatan tidak bakal datang dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia nyaris selesai mencuci belakang paha. Ayo,,!

Aku masih diam saja. Sampai ia berlalu mengelap unsur belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkan kesempatan tersebut lewat. Ia sudah merapikan peralatan pijat. Tapi sebelum selesai masih sempat melihatku sekilas. Betulkan,,ia tidak bakal datang begitu saja.

Badannya berbalik kemudian melangkah. Pletak,,pletok,,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara sepatu tersebut seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi,,tapi bodoh,,bodoh,,bodoh hingga suara tersebut hilang.

Aku melulu mendengus. Membuang napas. Sudahlah. Masih terdapat esok. Tetapi tidak lama,,suara pletak-pletok tersiar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tetapi berlari. Bodoh,,bodoh,,bodoh. Eh,,,kesempatan,,kesempatan,,kesempatan. Aku masih mematung. Duduk di ambang dipan. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.

“Maaf Mas,,sapu tangan saya ketinggalan”,katanya.

Ia mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat di bawahku terdapat kain,,ya laksana saputangan.

“Itu kali Mbak”,kataku datar dan tanpa tekanan.

Ia berjongkok serupa di depanku, seperti saat ia mencuci paha unsur bawah. Ini peluang kedua. Tidak akan muncul kesempatan ketiga. Lihatlah ia tadi begitu teliti berbenah semua perlatannya. Apalagi yang bisa tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja sebuah kealpaan. Ya,,seseorang toh bisa saja tak sempat pada sesuatu,,juga pada sapu tangan. Karena itulah,,tidak akan muncul kesempatan ketiga. Ayo,,!

“Mbak,,,pahaku masih sakit nih,,!”,kataku memelas,,ya sebagai dalil juga kenapa aku masih bertahan duduk di ambang dipan.

Ia berjongkok memungut sapu tangan. Lalu memegang pahaku,”Yang mana”,,?

Yes,,! Aku berhasil. ”Ini”,kutunjuk pangkal pahaku.

“Besok saja Sayang,,!”,ujarnya.

Ia melulu mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.

“Yang ini atau yang itu,,?”,katanya menggoda,,menunjuk Juniorku.

Darahku mendesir. Juniorku tegang laksana mainan anak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.

“Jangan hanya ditunjuk dong,,dipegang boleh”.

Ia berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Yes. Aku dapat dapatkan ia,,wanita separuh baya yang meleleh keringatnya di angkot sebab kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya,,biar begitu,,tetap terasa. Aku menggelepar.

“Sst,,! Jangan di sini,,!”,katanya.

Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.

“Jangan di sini Sayang,,!”,katanya manja lalu mencungkil sergapanku.

“Masih sepi ini..!” kataku kian berani.

Kemudian aku merangkulnya lagi,,menyiuminya lagi. Ia menikmati,,tangannya mengocok Junior.

“Besar ya,,?”,ujarnya.

Aku kian bersemangat,,makin membara,,makin terbakar. Wanita separuh baya tersebut merenggangkan bibirnya,,ia terengah-engah,,ia merasakan dengan mata terpejam.

“Mbak Wien telepon”,suara perempuan muda dari ruang sebelah menyalak,,seperti bel dalam pertarungan tinju.

Mbak Wien merapihkan pakaiannya kemudian pergi membalas telepon.

“Ngapaian sih di situ,,?”,,katanya lagi laksana iri pada Wien.

Aku memungut pakaianku. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku seraya berkata,,”Telepon aku yaa”!

Ia memberikan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Pasti terburu-buru. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mengamati nomor-nomornya. Nampak ada evolusi besar pada Wien. Ia bukan lagi dingin dan ketus. Kalau saja,,tidak keburu perempuan yang mengawal telepon datang,,ia telah melumat Si Junior.

Lihat saja ia telah separuh berlutut mengarah pada Junior. Untung terdapat tissue yang tercecer,,sehingga ada dalil buat Wien. Ia memungut tissue itu,,sambil mendengar kabar gembira dari perempuan yang menantikan telepon. Ia melulu menampakkan diri setengah badan.

“Mbak Wien,,,aku mau santap dulu. Jagain sebentar ya,,!”

Ya itulah kabar gembira,,karena Wien kemudian mengangguk.

AGENPKV.net – Setelah mengunci salon, Wien pulang ke tempatku. Hari tersebut memang masih pagi,,baru pukul 11.00 siang,,belum terdapat yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien datang. Kami laksana tidak hendak membuang waktu,,melepas pakaian setiap lalu mengawali pergumulan.

Wien menjilatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku merasakan kelincahan lidah wanita separuh baya yang tahu di mana titik-titik yang mesti dituju. Aku terpejam menyangga air mani yang telah di ujung. Bergantian Wien sekarang telentang.

“Pijit saya Mas,,!”,katanya melenguh.

Kujilati payudaranya,,ia melenguh. Lalu vaginanya, basah sekali. Ia membuncah saat aku melumat klitorisnya. Lalu mengangkang.

“Aku telah tak tahan,,,ayo dong,,!”,ujarnya merajuk.

Saat kusorongkan Junior mengarah ke vaginanya,,ia melenguh lagi.

“Ah.. Sudah tiga tahun,,benda ini tak kurasakan Sayang. Aku melulu main dengan tangan. Kadang-kadang ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ya sekarang,,!”,pintanya sarat manja.

Tetapi seketika bunyi telepon di ruang depan berdering. Kring,,! Aku membatalkan niatku. Kring,,!

“Mbak Wien,,telepon”,,kataku.

Ia berjalan mengarah ke ruang telepon di sebelah. Aku mengikutinya. Sambil membalas telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.

“Ya kini Sayang,,!”,,katanya.

“Halo..?” katanya tidak banyak terengah.

“Oh ya. Ya nggak apa-apa,” katanya membalas telepon.

“Siapa Mbak,,?”,,kataku seraya menancapkan Junior amblas seluruhnya.

“Si Nina, yang tadi. Dia mau kembali dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.

Setelah sejumlah lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Auhh aku mau terbit ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.

Togel4D.bid – Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya,,”yang,,,cepat-cepat berkemas. Sebentar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, seringkali jam segini dia datang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *